17 menit baca

Hardiman, F. Budi
Humanisme dan sesudahnya
Jakarta, Kepustakaan Gramedia Populer (KPG) 2012
ISBN : 978-979-91-0459-9

Buku Humanisme dan Sesudahnya dicetak pertama kali pada tahun 2012. Dalam kata pengantarnya Budi Hardiman menulis bahwa sebab munculnya buku ini berawal dari undangan seminar yang diadakan oleh Teater Salihara, Jakarta, dengan topik humanisme dan para kritikusnya. Lewat buku ini Budi Hardiman ingin memberikan jembatan penghubung antara kelompok yang menganggap humanisme adalah musuh berbahaya (tradisionalis-ekstrimis) dengan kelompok yang memuja humanisme sebagai berhala intelektual (Modernis-liberal).

Buku ini diawali dengan sebuah tinjauan sejarah tentang bagaimana teori kemanusiaan lahir, yang kemudian muncul kembali pada abad pertengahan sebagai unsur inti dalam fenomena modernitas. Pada bab kedua, dijelaskan bagaimana humanisme berhadap-hadapan dengan dogmatisme agama dan otoritas sakral yang melindunginya. Dalam bab tiga, ia membeberkan fakta sejarah yang mengilhami kritikan terhadap humanisme. Di bab empat dan bab penutup Budi Hardiman menawarkan konsep baru dengan bentuk humanisme lentur.

Dalam bab pertama Budi Hardiman mengungkap bahwa sejak Yunani kuno dengan sistem pendidikan paidea, dan Romawi kuno dengan gagasannya tentang manusia sebagai animal rationale dipandang sebagai peletak dasar pertama humanisme universal. Namun para leluhur peradaban barat itu tidak menghadapi sistem religius absolut yang dihadapi masyarakat di abad pertengahan, sehingga humanisme kritis tidak muncul pada saat itu. Humanisme kritis dianggap lahir di abad pertengahan ketika ia menjadi penantang kuat sistem teokrasi yang mengakar dalam di masa tersebut.

Gerakan humanisme di abad pertengahan dianggap sebagai upaya untuk menghargai kembali manusia dan kemanusiaannya, dengan memberikan penafsiran rasional dengan mempersoalkan monopoli tafsir yang dilakukan oleh persekutuan antar agama dan negara. Dalam sejarahnya, penafsiran religio-politis mendominasi masyarakat sehingga berimplikasi kepada teralienasinya manusia dari keduniawiannya yang otentik.

Eropa pada abad pertengahan marak sekali agama-agama dan terlalu banyak ketakutan-ketakutan akan perkara-perkara dibalik kubur. Hal itu dibarengi dengan tidak populernya perhatian dan penghargaan kepada kehidupan dunia nyata. Sehingga yang penting bukan lagi manusia, melainkan agama. Humanisme modern mekar sebagai jawaban atas problematika peradaban masa itu. Ia tumbuh sebagai tunas-tunas muda di antara himpitan bangunan usang abad pertengahan.

Kaum humanis adalah ia yang melakukan pendekatan rasional terhadap manusia dan tidak terburu-buru mengaitkannya dengan otoritas wahyu Ilahi. Manusia dimengerti dari kemampuan-kemampuan alamiah; seperti minat intelektualnya, pembentukan karakternya dan apresiasi estetisnya. Dalam humanisme, manusia bukanlah seorang hamba pendosa yang terusir dari surga yang sedang mengharap ampunan, melainkan ia adalah makhluk yang memiliki kebebasan dan akal.

Teori revolusi Darwin adalah salah satu bukti bagaimana para pemikir dahulu berusaha untuk memusatkan sesuatu kepada manusia, manusia dicoba dirasionalkan dan diteliti dengan mengandaikan manusia adalah suatu materi yang terdiri dari gabungan sel. Penemuan Newton tentang sistem kerja alam semesta yang ia anggap seperti arloji yang berjalan otomatis adalah upaya untuk menyingkirkan ketergantungan manusia kepada hal-hal yang bersifat dogmatis.

Humanisme seperti berupaya merebut manusia dari alienasi yang disebabkan oleh obsesi masyarakat tentang dunia-sana dan mengakarkannya kembali ke dunia-sini. Humanisme sebagai gerakan sekularisasi dan desakralisasi manusia, mulai memudarkan nilai spritual yang mengakar kuat di abad pertengahan. Humanisme menguatkan kepercayaan terhadap cahaya nalar yang dianggap mampu mengusir kegelisahan tentang dunia di balik kubur dan fokus pada pencapaian-pencapaian kesejahteraan di dunia ini.

Di bab dua dengan judul kemanusiaan tanpa Tuhan, Budi Hardiman menjelaskan bagaimana humanisme modern hadir di tengah masyarakat untuk berhadap-hadapan dengan agama. Humanisme modern menganggap agama sebagai penghalang manusia untuk memaksimalkan kemampuan kodrati alaminya. mengawali dengan sub-bab yang diberi nama para pembunuh Tuhan, Budi Hardiman memaparkan tokoh-tokoh pemikir abad 18-19 yang hasil pemikirannya dimaksudkan “membunuh Tuhan”. di sub bab ini banyak didapati istilah humanisme yang disandingkan dengan sifat teori para pemikirnya.

Budi Hardiman menyebut bahwa metode historis dan epistemologis digunakan untuk menjawab alasan para pemikir menganggap agama menjadi penghalang kemampuan kodrati manusia. Emanuel Kant yang mewakili diskursus humanisme pada saat itu, mengatakan bahwa kesalahan kerumunan manusia saleh adalah ketidakberanian mereka untuk berpikir sendiri di luar dogmatisme agama dan otoritas yang menjaganya. Sehingga tidak ada teror yang lebih efektif daripada teror atas nama Tuhan yang keluar dari doktrin-doktrin agama untuk memusuhi kehidupan duniawi.

Humanisme Ateis dipandang sebagai reaksi historis atas pengalaman buruk tersebut. Para humanis ateis menganggap Tuhan harus dibunuh, lebih tepatnya kesadaran akan Tuhan harus dihapus. Menurut para humanis ateis kesadaran akan eksistensi Tuhan dapat mereduksi kemampuan potensial manusia. Bencana alam atau penyakit dalam tubuh misalnya tidak akan ada solusi rasional jika semua dikembalikan kepada Tuhan. Manusia menjadi tidak percaya diri dan menganggap dirinya lemah. Sehingga kemunculan para ateis ini membuat manusia berpikir ulang bahwa percaya kepada Tuhan hanya akan menghalangi dan menghilangkan otonomi manusia.

Secara Epistemologis, alasan humanisme ateis sudah jauh hari diletakkan oleh Kant. Menurutnya, wujud Tuhan hanya ada dalam rimba pikiran manusia. Tuhan hanya sebagai idea a priori dalam rasio manusia, bukan sebagai realitas objektif. meminjam istilah Yuval Harari Tuhan dan agama hanya sebatas realitas intersubjektif; ia hanya ada dalam kesadaran kolektif manusia, tidak dalam bentuk nyata yang konkrit. Sehingga Ia ada jika manusia mengandaikan Ia ada. oleh karenanya membunuh Tuhan bagi para humanis ateis adalah menghilangkan kesadaram akan Tuhan dalam rimba pikiran manusia.

Banyak cara menyingkirkan Tuhan yang telah dilakukan oleh para pemikir. Bagi Humanisme praktis seperti Karl Marx, perubahan struktural yang menghapus kelas-kelas sosial-ekonomis akan otomatis menghapus agama. Bagi para humanis posivitf seperti Auguste Comte Tuhan dalam sejarah epistemis umat manusia akan dilampaui dengan begitu terjadi reorganisasi masyarakat secara teknokrasi dan industrial. Reorganisasi sosial lewat sains menjadi strategi kunci menurut Comte untuk menyingkirkan Tuhan dalam kesadaran masyarakat.

Namun humanisme tidak bisa disamakan dengan ateisme atau sekularisme, ia lebih luas dan dalam daripada humanisme ateistis. Ada istilah humanisme Islam, humanisme Kristiani, humanisme kultural yang memaknai pentingnya kemanusiaan dan kehidupan dunia sini tanpa mengesampingkan kepercayaan kepada Tuhan. Kiranya justru kalangan penganut agama Monoteislah yang memaknai dengan makna sempit itu. Mereka menganggap rasionalitas sebagai ancaman bagi iman dan wahyu Ilahi. Penggunaan nalar dicurigai dapat menerjang otoritas sakral dan tradisi religius yang sudah dijaga berabad-abad. Nalar juga dianggap akan menggerus intuisi dan iman religius.

Anggapan dan kecurigaan itu tentu sama sesatnya dengan sifat-sifat ateistis yang menganggap iman sebagai retardasi mental. Humanisme yang meletakkan kecurigaan terhadap agama juga dicurigai kaum religius-tradisonalis yang kemudian berimplikasi adanya reduksi makna humanisme pada ateisme dan sekularisme. Akan tetapi, bagaimana pun, humanisme dengan arti universalnya telah berkontribusi dalam memaknai kemanusiaan dan memastikan keterlibatan manusia dalam dunianya. Humanisme memiliki sumbangan besar terhadap peradaban manusia dari aspek ilmiah dan produksi metodologisnya.

Karena betapa pun sucinya, agama melibatkan banyak hal yang bersifat manusiawi dan duniawi, seperti imajinasi sosial manusia, kepentingan kelasnya, aspek pengetahuannya atau tradisi kulturalnya. Sehingga gambaran tentang Tuhan tiap agama berbeda sesuai konteks sosio-historisnya. Jika manusia hanya percaya saja, tanpa berpikir, maka gambaran tentang Tuhan akan terus mengendap dan dipercaya sebagai Tuhan itu sendiri. Oleh karenanya, Budi Hardiman mengoreksi para pemikir humanis yang disebutkan dalam bab dua seperti Feuerbach, Marx, Comte, Nietzsche, dan Sarte. Bagi Budi Hardiman, apa yang disebut Tuhan oleh para pemikir humanis itu adalah gambaran akan Tuhan itu sendiri.

Maka kritik para pemikir humanis bahwa kesadaran akan Tuhan menghalangi eksistensi manusia dan memasung kebebasannya dimaksudkan pada perilaku manusia itu sendiri. karena alih-alih memuja Tuhan, manusia memuja gambaran Tuhan yang dihasilkan oleh berhala pikirannya sendiri. padahal gambaran Tuhan terbentuk dan tumbuh dari sejarah, kekuasaan dan kebudayaan manusia. Maka kritik agama menolong umat beragama untuk membersihkan imannya dari delusi, infantilitasi, eskapisme dan fatalisme dalam menghayati agama.

Setelah mempersoalkan kematian Tuhan dalam humanisme, pada bab tiga Budi Hardiman mengungkap permasalahan gambaran manusia dalam humanisme. Menurutnya, humanisme erat kaitannya dengan kolonialisme abad 15-18 dan totalitarianisme abad 20. Dalam dua hal tersebut pengertian manusia sedemikian dipersempit sehingga menyingkirkan para manusia yang berada di luar cakupannya sebagai “bukan manusia”. Dalam arti ini antroposentris peradaban humanis bergantung erat pada anthropos yang eurocentric yaitu pengertian manusia yang berpusat pada pemahaman orang-orang barat.

Kesadaran rasional bangsa Eropa yang mengakar kuat lewat humanisme tentang kemanusiaan universal, melegitimasi penjajahan bangsa Eropa terhadap bangsa seberang lautan dengan dalih pemberadaban. kemanusiaan universal yang dipahami bangsa Eropa adalah kemanusiaan yang melampaui kebudayan-kebudayaan lokal. Manusia didefinisikan dan dicirikan oleh otoritas penafsiran bangsa Eropa sendiri. Sehingga yang dikatakan manusia adalah ia yang dicirikan seperti orang Eropa, yang mereka temukan dalam sejarah filsafat barat, bukan dalam kapal-kapal pengangkut budak negro atau lokasi-lokasi kerja paksa pembangunan Daendels. Maka selaras dengan kajian pascakolonial bahwa manusia di seberang lautan menurut sang penjajah bukanlah manusia, sehingga mereka perlu dimanusiakan.

Dalam hal ini humanisme memiliki dua wajah, di satu sisi humanisme sangat menentang penjajahan karena dianggap melawan nilai-nilai kemanusiaan. Di sisi lain atas nama kemanusiaan juga-lah kombinasi historis antara pemberadaban dan penjajahan terjadi. Istilah biadab dan beradab memainkan perannya di sini. di mana hanya bangsa Eropa yang beradab yang berhak melabeli bangsa mana yang beradab dan yang biadab. Maka bangsa seberang lautan dalam segala variasinya dianggap liar, biadab dan eksotis. Lewat tabel klasifikasi ala biologi mereka dipisahkan, dikecualikan, bahkan mereka dianggap berasal dari spesies yang berbeda dengan manusia-manusia Eropa.

Hegemoni kultural barat dalam sejarah kolonialisme menelurkan sifat eksklusivisme dalam humanisme. Seperti eklusivisme agama yang memaknai Tuhan dengan “Tuhan semua manusia” namun dalam prakteknya kerap dimaknai “Tuhan agama kita” yang berbeda dengan “Tuhan agama mereka”, hal serupa juga menjangkiti humanisme yang dimaknai sepihak oleh satu rezim tafsir dan menolak kemungkinan tafsir lain. Humanisme eksklusivistis adalah istilah selanjutnya yang menyempitkan makna kemanusiaan dengan ukuran kelompok yang menganggap diri superior dari atas kelompok lain.

Hannah Arendt yang penelitiannya digunakan oleh Budi Hardiman dalam bab ini mengaitkan kolonialisme dengan totalitarianisme abad 20. Menurut Hannah, konsekuensi historis kolonialisme dengan humanisme eksklusivistis yang menyertainya adalah munculnya kelompok Nazi Jerman dan rezim komunis Uni Soviet. Pembantaian manusia besar-besaran oleh Nazi Jerman dan rezim Komunis Uni Soviet bukannya tanpa preseden. Bagi Hannah, kemampuan membantai dua kelompok tadi tidak terlepas dari dua preseden; yang pertama pengalaman bangsa mereka menjajah bangsa-bangsa di luar Eropa, dan yang kedua suatu obsesi terhadap dunia-sini yang menjadi radikal. Segalanya direduksi pada mekanisme alamiah dalam bentuk naturalisme, sesuatu yang sudah dimulai oleh humanisme sendiri.

Paham kemanusiaan dalam kolonialisme yang masih memberi ruang bagi “yang lain” lewat pemberadaban sekarang makin dipersempit menjadi ‘ras tertentu’ atau ‘kelas tertentu’. Dengan begitu mereka yang tidak masuk dalam ‘cakupan’ bukan hanya dipandang ‘rendah’ sehingga boleh diperbudak tapi dianggap ‘bukan apa-apa’ sehingga layak dimusnahkan. Nazi dan Komunis Uni Soviet adalah kelompok humanis karena menganggap manusia sebagai pusat semesta, suatu subjek yang dapat mengubah sejarah dengan kebebasannya dan kemampuan kodratnya.

Obsesi humanisme modern terhadap kemampuan-kemampuan kodrati manusia berdampak pada depersonalisasi manusia. Humanisme berubah menjadi naturalisme ketika kemampuan kodrati manusia dipersempit menjadi mekanisme naluriah untuk bertahan hidup saja. Hal ini dipandang sebagai upaya lanjutan dalam “penelanjangan” manusia yang dilakukan secara bertahap. pertama dalam humanisme Islam, manusia masih memiliki dimensi supranatural dengan percaya pada Tuhan dan wahyu Ilahi. kemudian dalam humanisme ateistis kepercayaan kepada Tuhan dihapus demi sebuah kebebasan. Hingga pada naturalisme nilai kebebasan dalam manusia dihapus karena dianggap tidak objektif dan ilmiah. Maka manusia sudah kehilangan ciri personal dan sakralnya yang dalam humanisme masih dijaga dalam bentuk ‘kebebasan’.

Ateisme menegakkan kebebasan mutlak manusia dengan menyingkirkan misteri Ilahi, namun bagi naturalisme kebebasan adalah sebuah misteri yang menggelisahkan yang dapat diusir hanya jika manusia menjadi satu dengan yang murni objektif, yaitu benda-benda. Jika manusia dihilangkan ciri transendentalnya; mulai dari penghapusan kesadaran akan Tuhan sampai kematian manusia di dalam rezim politis buatan manusia sendiri, maka manusia menjadi sama sekali imanen . Imanen total adalah bentuk materi paling dasar manusia, yaitu ‘manusia alamiah’. Manusia dilucuti ciri-ciri konkretnya; seperti gender, kelas atau kebudayaannya.

Menurut Hannah, ‘manusia alamiah’ ditemukan secara empirik dalam kamp-kamp konsentrasi Nazi yang sudah didepersonalisasikan menjadi bilangan-bilangan. Ada sebuah paradoks yang mengerikan menurut Hannah, disaat “kematian Tuhan” dimaklumkan oleh Nietzsche membuka peluang bagi manusia untuk berperan sebagai Tuhan. Di saat manusia bermain sebagai Tuhan maka orang lain dianggap objek manipulasi menurut skema hukum alam yang obyektif dan impersonal.

Dengan kolonialisme dan totalitairanisme, muncul sikap skeptis terhadap humanisme modern. Walaupun banyak sumbangsih humanisme seperti kebebasan, rasionalitas, dan nilai-nilai kemanusiaan universal yang pada puncaknya lahir gagasan besar hak asasi manusia, di saat yang sama kita juga mengetahui bahwa konsep kemanusiaan universal dengan kemanusiaan dimaknai secara eksklusif dan menyingkirkan manusia konkret dalam segala perbedaan kultural, ras, gender atau kelasnya mengandung bahaya yang besar. Bahaya ini sama besarnya dengan konsep Tuhan dari agama apa pun yang menjadi musuh pertama humanisme modern.

Para kritikus kemanusiaan ingin membebaskan manusia dari metafisik kemanusiaan yang memandang manusia sebagai pusat kenyataan. Dalam metafisika kemanusiaan menurut Heidegger, humanisme melupakan hubungan ‘hakikat’ dengan ‘Ada’ (Sein). Hakikat tidak sama dengan ‘Ada’; bagaimana ‘Ada’ menyingkapkan dirinya juga menentukan bagaimana ‘hakikat’ ditangkap.

Heidegger mengkritik pemahaman tentang Ada yang mengawali era rasionalisme modern yang disebut “substansi”. Segala sesuatu seperti, Tuhan, Alam, Manusia memiliki substansi; yaitu realitas akhir yang permanen dan sama saja di mana pun berada. Menurut Heidegger manusia tidak berada dalam pusat kenyataan, melainkan berdampingan dengannya. Jika dalam humanisme manusia ada terlebih dahulu dan kemudian ‘kenyataan’ ada dengan dikenali manusia, bagi Heidegger Kenyataan (Seiende) ada terlebih dahulu dan manusia dipanggil oleh ‘Ada’ kenyataan itu untuk memelihara kebenaran ‘Ada’. Dari kritik Heidegger inilah berkembang diskursus decentering of subject yang menandai kritik atas humanisme modern.

Filsuf prancis Deridda melanjutkan kritik Heidegger atas humanisme modern. Hal pertama yang dilakukan Deridda adalah menghentikan upaya untuk menemukan makna asli segala sesuatu yang menjadi obsesi peradaban barat, yaitu mencari ‘Hakikat’. Pun pencarian humanisme akan ‘kodrat’ manusia juga dihentikan. Karena upaya tersebut bahkan dengan segala ketulusannya akan membentuk rezim makna yang bersifat hirarkis. Adanya makna yang dianggap asli, akan meminggirkan hal-hal yang tidak dapat dimasukkan ke dalam makna yang dianggap asli tersebut. Maka oposisi asli dan tidak asli, hakiki dan tidak hakiki akan menimbulkan marijinalisasi, alienasi, represi atas yang tidak asli (the other).

Untuk menghentikan pemcarian hakikat, Deridda melakukan heurmentik (penafsiran) radikal yang disebut “dekonstruksi”, yaitu menunda untuk mengembalikan sesuatu pada makna aslinya. Kemanusiaan tidak bisa dikembalikan ke satu ‘titik’ primordial karena hal itu tidak ada. Jika takhta tempat segala makna ditentukan itu kosong, maka tidak ada lagi meta-referensi yang menentukan sesuatu itu asli atau tidak. Bagi Deridda, memahami manusia tidak lagi mengasalkannya pada makna induk tentang kemanusiaan, melainkan menghubungkan secara interpretatif pemahaman yang satu dengan pemahaman yang lain tentang manusia tanpa maksud mencari atau memulihkan makna universalnya.

menurut para kritikusnya humanisme tidak banyak mengubah keadaan karena pergantian teosentrisme ke antroposentrisme tidak beranjak keluar dari cara berpikir yang sama yang berada dalam wilayah metafisika itu sendiri. Jika menurut Feuerbach teologi adalah antropologi, maka menurut Budi hardiman antropologi adalah sebuah teologi, karena dalam humanisme ditemukan teologi yang menempatkan manusia pada takhta Tuhan.

Dari kerasnya gempuran para kritikus seperti Heidehger, Deridda, Rorty atau Luhmann terhadap humanisme modern, Budi Hardiman menawarkan konsep humanisme baru. Menurutnya, humanisme modern harus dibagi menjadi dua aspek. Aspek pertama adalah kekuatan kritis-normatifnya yang mampu menelanjangi kekuatan asing yang menindas manusia dan kemanusiaannya. Aspek pertama ini Budi Hardiman menyebutnya humanisme etis. aspek kedua adalah fakta bahwa dalam realitanya humanisme sebagai ‘isme’ dapat dilambungkan menjadi sebuah metafisika kemanusiaan yang bukan hanya menjadi total juga menjadi kebenaran kaku yang ekslusivistis dan hegemonial.

Menurut Budi Hardiman yang dapat diterima dalam humanisme modern adalah aspek kritik-normatifnya yang senantiasa waspada terhadap segala bentuk hegemoni, baik agama, sains maupun filsafat. Dan yang ditolak adalah hipertrofi nilai humanisme menjadi metafisika kemanusiaan. Dengan penerimaan dan penolakan itu, Budi Hardiman sedang merumuskan humanisme bentuk baru yang berupaya melepaskan manusia dari tawanan metafisika kemanusiaan dengan menyelamatkan kritik-normatif humanisme.

Humanisme bentuk baru ini adalah humanisme yang waspada terhadap totalisasi dan hegemonisasi oleh metafisika kemanusiaan. Humanisme baru ini tidak menolak kebenaran agama dan tidak bertumpu pada kebenaran kaku filsafat. Paham ini, bagi Budi Hardiman, menjadi bingkai pengetahuan yang ‘lentur’ tempat interaksi berbagai fragmen kebenaran agama, filsafat, dan sains. Humanisme seperti ini Budi Hardiman menyebutnya dengan ‘Humanisme Lentur’.

Humanisme Lentur adalah humanisme tanpa metafisika kemanusiaan. Humanisme lentur tidak memiliki standar tunggal untuk mengukur nilai kemanusiaan seseorang, ras atau kelompok tertentu. Dalam humanisme lentur universalitas kemanusiaan bukan sebagai ukuran yang ditetapkan secara monologal, melainkan suatu visi yang diperjuangkan secara dialogal. Seorang humanis tanpa metafisika kemanusiaan tidak menilai tetangganya, pemeluk agama lain, pendatang asing dengan ukuran standar tunggal yang diyakini. Melainkan pengukuran itu ia lakukan dengan memasukkan sebanyak mungkin perbedaan untuk memperkaya perspektifnya tentang menjadi manusia.

Diupdate:

Tinggalkan komentar