11 menit baca

Kiranya, kita—Anda dan saya—telah menjumpai dari bulan Ramadan, dan (semoga) akan berhias diri untuk menemui sisa-sisa terakhir di bulan ini dengan segala ketundukan dan kepasrahan. Akan tetapi, tak pernahkah kita selalu bertanya kepada diri sendiri tentang bagaimana puasa itu dijalani? Nilai estetika seperti apa yang hendak diungkapkan oleh bahasa Tuhan melalui puasa? Dan terakhir, bagaimana puasa menyadarkan kita tentang dunia-sekarang yang terjadi saat ini?

Barangkali, bagi sebagian orang, pertanyaan di atas adalah pertanyaan yang tak perlu dijawab, atau bahkan tak perlu dipertanyakan. Tentu tidak salah. Tetapi juga tak selamanya benar. Barangkali, ia hanya menganggap bahwa puasa adalah menahan makan dan perbuatan yang semacamnya—terutama juga menjaga seluruh badan dari kemurkaan Tuhan—hanya terbatas di bulan Ramadan. Dan setelah itu selesai. Atau, rupa-rupanya, proses puasa yang selama ini ia jalani ternyata tak menimbulkan efek apa pun—apalagi kesehatan mental bagi anak milenial. Apa sebab?

Mula-mula, akhir-akhir ini, seni dengan segala keterbukaan maknanya kurang dihasrati oleh sebagian pihak—khususnya yang mengatasnamakan agama. Hal ini didasari oleh sentimen dan stereotip bahwa seni adalah non-agama. Seni dengan segala macam bentuknya; seni lukis, seni musik dan seterusnya adalah hal-hal yang membawa kemudaratan. Memang, bisa kita katakan bahwa hal itu dilandasi oleh (pemahaman) agama. Akan tetapi, apa makna seni itu sendiri?

Seni adalah ekspresi primordial bagi eksistensi manusia, setidaknya, secara sederhana. Juga bisa dikatakan bahwa seni ada semenjak sejarah manusia itu ada. Ini artinya, antara seni dan manusia adalah dua hal yang tak pernah luput. Kita bisa mengambil contoh sederhana yakni—pada zaman manusia tertua yang pernah ditangkap oleh sejarah—zaman batu (Megalitikum). Gambaran aktivitas manusia era itu adalah memburu, membakar, dan seterusnya. Proses seni dalam hal ini adalah aktivitas itu sendiri; seni memburu, seni memotong dan seterusnya, sebab aktivitas ini memerlukan ketekunan untuk memeroleh binatang buruan. Ia memerlukan usaha individu—yang artinya juga seni dari setiap individu—untuk mampu melakukan berbagai aktivitas yang memerlukan usaha lebih. Perlu ketenangan, ketajaman mata dan seterusnya untuk seni memburu itu sendiri.

Pada zaman di mana rasionalitas muncul pertama kali dalam sejarah juga tak luput membicarakan seni sebagai diskursus. Ketiga tokoh; Sokrates, Plato dan Aristoteles membicarakan seni sebagai aktivitas yang sesuai kecenderungan ilmiahnya masing-masing. Sokrates dengan kemampuannya berupaya memperbincangkan seni sebagai sebuah penalaran yang memiliki standar dan hakikat itu sendiri; seni mencapai kebenaran—yang saya maksud adalah seni bernalar yang kemudian disempurnakan oleh Aristoteles dengan kaidah logikanya. Plato dalam karyanya mendiskusikan seni manusia yang tidak kalah fundamentalnya, yakni berbicara—seni berbicara. Pada titik ini, perbincangan mengenai seni adalah proses mimesis; suatu gambaran ide mengenai objek yang kemudian menjadi titik balik realitas. Bahwa apa yang menjadi seni tersebut bersumber dari dunia ide tentang seni, baik seni sastra, seni bentuk dan seterusnya.

Seni kemudian menemui puncaknya ketika renaissans terjadi di Eropa—yang kerap disebut dengan seni Modern. Di era ini, seni dikembangkan dari diskursus era Yunani menuju perbincangan yang cukup hangat. Seni tidak hanya dilihat dari upaya bagaimana memperlihatkan, mempertontonkan, dan menilai atas sesuatu seperti seni lukis, seni patung, seni menulis dan seni lainnya, tetapi juga mendiskusikan bagaimana seni itu bekerja pada tataran ontologis-epistemologis seperti; konsep, bentuk, prinsip, definisi dan ekspresi seni yang bisa dibingkai melalui antropologis, sosiologis, ekonomis, kultural bahkan keagamaan. Misalnya, bagaimana seni mampu dijadikan sebagai aparatus kekuasaan dengan memropagandakan kepentingan-kepentingan ideologi politik. Melalui bingkai ekonomis, seni dijadikan sebagai bagian komoditas yang diperjualbelikan untuk mendapatkan keuntungan.[1]

Sebelum membahas panjang lebar mengenai seni dengan paradigma yang membingkai pada pertumbuhan zaman, satu hal filosofis yang muncul adalah kemunculan dari ‘estetika’ lewat Baumgarten (1714-1762). Istilah estetika yang berasal dari Bahasa Yunani itu berkenaan dengan persepsi indrawi. Filsuf-filsuf Yunani, sebagaimana dikutip oleh Baumgarten dalam renungannya, sudah lama membuat pembedaan antara sesuatu-yang-dipersepsi dengan sesuatu-yang-diketahui. Pengklasifikasian ini bertujuan untuk membedakan sesuatu-yang-diketahui itu melalui fakultas objek logika, sedangkan sesuatu-yang-dipersepsi dirasakan melalui fakultas objek sains persepsi, atau estetika. Meskipun seni diposisikan di bawah logika, Baumgarten—mendefinisikan estetika sebagai sains tentang pengenalan indrawi—ingin mengatakan bahwa seni tidak sekadar menyampaikan kebenaran, tetapi menyampaikannya lewat representasi indrawi yang mampu menghadirkan sesuatu secara hidup dan gamblang. Oleh karena ia melewati ruang-ruang indrawi, setidaknya, menciptakan bagaimana gambaran kerja seni (suara, nada, puisi dan seterusnya), yakni merepresentasikan sesuatu dalam gambaran hidup (vivid) tapi entah (confused).[2]

Seni dalam kacamata paradigma Modern memiliki ciri khas yang sangat ideologis, bahwa seni merupakan hasil dari penciptaan kebudayaan tunggal melalui proses integrasi, penyatuan dan penyeragaman budaya. Modernisme Estetik atau Estetika Modern melakukan modus pembingkaian, baik pada tingkat bentuk, ruang, waktu, tempat, ideologi dan seterusnya. Sehingga dari sini, muncul peminggiran, pemipihan atas identitas Aku dan yang-liyan (the other).

Sedangkan yang menjadi titik balik dari arus utama modernisme adalah kelahiran pascamodernisme. Seni menjadi objek yang berupaya melampaui batas-batas konvensional, merobohkan titik-titik oposisi biner baik-buruk, jelek-bagus dan seterusnya. Nilai dan objek estetika menjadi buih yang—bukan karena ia adalah bukan seni—menjadi nilai baru atas dunia pascamodernisme. Satu hal yang menjadi penting dalam wacana pascamodernisme adalah pelampauan atas batas-batas ideologis konvensional.

Pada intinya adalah seni adalah upaya paling dekat untuk membaca paradigma kita hari ini. Ia secara halus dan lembut memangsa rasionalitas kita dengan kecenderungan ideologis yang bernama agama, sekte, kelompok dan seterusnya. Apa yang bisa kita bicarakan mengenai seni adalah perwatakannya yang primordial bagi eksistensi manusia. Ia adalah penunjuk—yang juga sekaligus ditunjuk—oleh seni yang terjadi dalam diri manusia. Terlepas dari bagaimana kesejarahan seni menjadi diskursus dalam perkembangan pengetahuan, seni adalah upaya menjadi diri manusia seutuhnya. Lalu, bagaimana menemukan seni dalam puasa? Atau, sebagaimana di awal, nilai estetika dalam puasa?

Puasa—sebagaimana yang sudah kita ketahui—adalah usaha untuk menahan makan dan minum pada waktu yang ditentukan. Salah satu yang menjadi rahasia dari puasa adalah sebagaimana sabda Rasul; “Puasa itu untuk-Ku, dan Aku yang akan membalasnya”. hubungan rahasia antara Tuhan dan Manusia. Selain ibadah yang bersifat rahasia, puasa menurut Imam al-Ghazali di dalam karyanya berjudul al-Arba’īn Fī Ushūl al-Dīn mengatakan bahwa salah satu kekhususan perkara puasa adalah mengenai dua hal yakni pertama menahan dan yang kedua melawan musuh Allah.[3]

Apa yang menjadi fokus penting dalam seni berpuasa adalah bagaimana aktivitas puasa mampu mengaktifkan kesadaran atas dunia-sekarang di mana ruang dan waktu yang menjadi tempat ia tinggal dengan segala kebisingan dan banalitas. Maka, seni berpuasa akan terus berupaya menyegarkan kembali dari masa ke masa tentang pemaknaan-pemaknaan, renung-insyafan dan seterusnya sejauh ia diperbincangkan di arena dunia-sekarang. Lalu, atas dasar apa kesadaran tersebut diaktifkan? Fenomena apa yang terjadi di dunia-sekarang?

Yasraf Amir dalam bukunya Setelah Dunia Dilipat memberikan pembacaan yang menarik atas fenomena kebudayaan yang terjadi. Meskipun buku awal terbit sekitar tahun 1999, akan tetapi, realitas yang dibayangkan sejak dulu ternyata memiliki relevansinya sampai sekarang. Fenomena ini terjadi semenjak bagaimana ‘dunia yang dilipat’ itu mewujud dalam realitas masyarakat. Kita kerap kali diberi kemudahan, kenyamanan dan kecepatan atas produk-produk hasil tangan manusia. Kita merasa telah tinggal di ‘taman-taman firdaus’ dengan penuh kenikmatan surgawi, kepuasan perut-selangkangan dan egoisme humanitas-rasional. Kita dininabobokkan pada realitas yang semu dengan segala angin-angin modernitas, pascamodernitas palsu tanpa mengetahui makna segala yang ada.

Memang, kita bisa mengklaim bahwa peristiwa ini adalah paradoxia peradaban. Di satu sisi, perkembangan pengetahuan, sains, teknologi bahkan paradigma kemanusiaan menjadi tolok ukur yang paling tepat sebagai sebuah penilaian oposisi biner antara rendah-tinggi, pintar-bodoh, kaya-miskin dan seterusnya. Di sisi yang lain, kita bisa melihat bagaimana angka kemiskinan semakin parah, arah kemanusiaan semakin rapuh dan pilar-pilar lingkungan hidup; gunung, laut, sungai dan hutan kini menjadi pipih nan ringkih. ‘Setelah Dunia Dilipat’ merekam kejadian ironi atas perubahan besar yang terjadi pada diri manusia ini. Salah satu yang—barangkali bisa kita kontekskan dengan puasa—adalah parasitisme dan animalitas.

Parasit, parasitisme kerap kali mengelilingi kehidupan manusia. Ia memiliki berbagai bentuk seperti kepinding, jamur, kuta, kuman bakteri dan seterusnya. Semua parasit tersebut mengambil, mencuri, merampok apa saja yang bisa diambil dari pemiliknya (host), tapi tak pernah memberi dan abai terhadap host. Sehingga, pada titik ini, manusia mengerahkan segala daya usaha untuk membasmi, menghancurkan dan menghanguskan parasit tersebut.

Akan tetapi, manusia tak pernah menyadari, merefleksikan bahwa sejatinya manusia juga parasit bagi bumi, lingkungan hidup dan bahkan manusia yang lain. Alih-alih memahami bahwa dirinya parasit bagi sesama, justru manusia kerap kali bersembunyi dengan topeng antroposentrisme. Bahwa manusia adalah raja di muka bumi ini. Dan oleh karena itu, ia rela melakukan apa saja untuk melanggengkan egoisme kemanusiaan tersebut. Karakteristik yang diagung-agungkan oleh manusia bernama rasionalitas, pada kenyataannya tak mampu membendung nafsu egoistik dalam dirinya.

Berbeda dengan parasitae, animalitas memang menjadi genus dari manusia. Ia memiliki sifat buas (hayawaniyah), makan, minum dan seterusnya. Meskipun ia memiliki sisi yang sama, manusia memiliki pembeda yakni rasionalitas. Animalitas mengarahkan pembicaraan wacana antara manusia dengan kemanusiaan melalui hidup dan kehidupan itu sendiri. Sebab, tak mungkin manusia membicarakan, menarasikan atas dunia hidup, dunia Ada dan dunia kehidupan (lebenswelt) tanpa ada esensi atas hidup itu sendiri. Dan oleh karena itu, batas-batas antara humanitas dan animalitas justru kian pelik.

Memahami antara humanitas dan animalitas membawa pada kenyataan ironis, di mana makna yang dimiliki oleh masing-masing entitas justru kian melebur dan hampir menyatu. Mengatakan bahwa humanitas bukan animalitas justru menjadi kontradiksi bila kita lihat fenomena-fenomena sekarang—tentu saya tidak menyepelekan Manusia yang menjadi manusia.[4]

Di tengah percepatan teknologi informasi dan digital, fenomena manusia dan animalitas justru kian pelik bukan karena sifat dasar itu sendiri, akan tetapi dibaca melalui kondisi sosial, ekonomi, politik dan kultural yang mengarah kepada animalitas tersebut. Contoh yang paling menarik adalah bagaimana hak asasi manusia dan kemanusiaan menjadi propaganda bagi kedok imperialisme politik-ekonomi neo-liberalisme yang telah memenjarakan simpati kita. Sehingga muncul pertanyaan misalnya, apakah manusia telah makmur dan sejahtera atas nama hak asasi manusia? Ada berbagai kritik atas konsep manusia dan kemanusiaan yang terjadi dalam polemik perdebatan. Akan tetapi, yang tidak bisa dipungkiri adalah manusia justru mengarah kembali kepada animalitas dengan segala daya dan upaya!

Pada beberapa hari ke depan, bulan Ramadan, puasa, berbuka dan segala macam tradisi akan telah usai. Puasa yang kita jalani dengan menahan makan, minum, nafsu angkara dan seterusnya hanyalah sekadar latihan untuk menjalani sebelas bulan ke depan. Akankah puasa kita kali ini mampu untuk meredam parasit yang menghuni dalam ‘diri’ kita? Apakah puasa mampu mengurung sifat animalitas kita di dunia-sekarang dan yang-akan-datang?

[1] Yasraf Amir Piliang, Trans Estetika; Seni dan Simulasi Realitas, 2022, hal. 24.

[2] Taufiqurrahman, Estetika di Era Pascametafisika dalam buku Trans Estetika; Seni dan Simulasi Realitas, 2022, hal. 7.

[3] Al-Ghazali

[4] Yasraf Amir Piliang, Setelah Dunia Dilipat, hal. 233.

Diupdate:

Tinggalkan komentar