Perihal Kebudayaan
I
Saya sangat bangga melihat istri saya terlibat dalam proses kuratorial dan persiapan festival kebudayaan Akar dan Arah yang diselenggarakan pada 30 September nanti. Itu dia kerjakan di tengah kesibukan yang ia jalani. Jika saya hanya sibuk di tiga tempat dengan tugas yang reguler itu-itu saja, istri saya sibuk di lima tempat dengan tugas yang beragam. Jika istri saya on fire, saya akan standby di rumah, menemaninya saat burn-out, memasakkan untuknya full pagi dan sore—biasanya kami masak bersama berbagi tugas—dan menjadi kawan dan lawan diskusi.
Perihal kebudayaan yang dia sampaikan di reels Zonasi menarik sekali untuk diulas. Saya akan memberikan komentar sedikit, sebagai bentuk kasih sayang (tentu saja, hehe), dari sudut pandang Marxis. Saya merasa perlu mengulasnya karena saya akhir-akhir ini juga sedang memikirkan soal-soal kebudayaan.
II
Dalam keperluan untuk menggarap beberapa tugas kajian yang berkaitan dengan pemikiran Husain Muruwwah, saya mencoba menjelajahi state of the art dari diskusi kebudayaan dalam aliran ideologinya, Marxisme. Tidak hanya dari lingkungan sosial Arab itu sendiri, tetapi juga diskusi-diskusi kebudayaan dari sudut pandang Marxisme yang berkembang di Barat.
Sejauh yang saya ketahui, di dalam Marxisme, kebudayaan adalah ranah abu-abu dan terlalu banyak persoalan yang masih debatable. Hal ini lantaran beberapa hal: kemunduran pengaruh Soviet dan melemahnya gerakan-gerakan kiri di pertengahan abad ke-20 (selama Perang Dingin), beralihnya wacana pemikiran ke ranah kebudayaan (cultural turn) yang berujung pada tuduhan meninggalkan analisa ekonomi-politik atas imperialisme, banyaknya intelektual Marxis yang menggandrungi wacana pascakolonialisme dan pascamodernisme. Analisa kebudayaan hanya diminati oleh sedikit Marxis hari ini dan hanya ada beberapa, setidaknya, yang masih konsisten dengan keimanan Marxis-nya. Salah satunya adalah Raymond Williams. Teori Williams layak untuk dipelajari dan dielaborasikan dengan muatan yang disampaikan Afi di video reels.
III
Raymond Williams, seorang esais Marxis dan kritikus sastra dari Wales, memiliki pandangan yang tegas tentang kebudayaan: bahwa kebudayaan di momen historis apa pun tidak cukup dibaca sebagai formasi tunggal yang homogen. Proposisi apa pun yang menegaskan epos kebudayaan tunggal tidaklah valid secara ilmiah. Williams menolak penisbatan satu masyarakat tertentu dengan cukup satu kebudayaan tertentu, misalnya masyarakat A memiliki “kebudayaan feodal”. Alasannya adalah karena menurutnya kebudayaan adalah medan pertarungan antar beberapa formasi kebudayaan sekaligus. Ketika kita menyoal modernitas sebagai kebudayaan impor dominan di Arab, tidak serta merta ia secara total menggantikan kebudayaan lainnya. Ada berbagai lapisan budaya yang hidup berdampingan. Ada pula berbagai lapisan kebudayaan yang saling berebut ruang produksi makna dalam satu masyarakat tertentu.
Menurut Williams, semua analisis kebudayaan harus mempertimbangkan berbagai formasi kebudayaan dalam satu momen historis tertentu di masyarakat tertentu beserta institusinya. Untuk keperluan analisis ini, Williams membuat kategori-kategori formasi kebudayaan dengan cukup lengkap dan konsisten dengan prinsip ideologinya: ada kebudayan dominan, residual, arkaik, emergen, alternatif dan oposisional.
Istilah kebudayaan dominan tidak selalu berarti bahwa kebudayaan itu adalah kebudayaan resmi. Williams meminjam istilah Gramsci untuk menjelaskan kebudayaan dominan sebagai hegemoni, yaitu sistem makna dan nilai yang secara sosial efektif dan terasa oleh kita sebagai “kenyataan biasa”, bukan sesuatu yang dipaksakan (non-coercive). Oleh karena itu kebudayaan dominan lebih luas dari sekedar kebudayaan resmi. Sebagaimana hegemoni dalam konsepsi Gramsci, kebudayaan dominan oleh kelas penguasa akan selalu direproduksi dan diperbarui terus menerus.
Penamaan dominan oleh Williams dibasiskan pada perjuangan kelas dalam satu fase kesejarahan tertentu. Seperti taʿbīr Marx “ide-ide yang dominan di setiap zaman hanyalah ide-ide dari kelas penguasa.” (Karl Marx & Frederick Engels, 1847), kebudayaan yang hegemonik menurut Williams juga dikuasai dan dikelola oleh kelompok sosial yang dominan, yakni kelas penguasa alat-alat produksi, di mana subjek sosial selainnya digolongkan sebagai kelompok subordinat. Tetapi meski begitu, kebudayaan dominan berbeda dengan ideologi dominan dan lebih umum darinya. Kebudayaan dominan akan menginkorporasi kebudayaan lain, bahkan dari kelompok sosial yang subordinat sekalipun, dan akan terus menegosiasikan kebudayaan lain itu jika ia dapat menopang dan mendukung kepentingan sosial dari kelompok dominan. Proses inkorporasi ini, insyaallah, akan membuat keimanan alias kesadaran dari kelas subordinat terseret oleh kepentingan kelompok dominan tersebut. Ini ibarat kita, kaum subordinat, melalui institusi pendidikan dan kurikulum sekolahan turut mengimani ideologi “Pembangunan” Soeharto atau “Swasembada” Prabowo.
Adapun residual, Williams mendefinisikannya sebagai berikut.
“The residual, by definition, has been effectively formed in the past, but it is still active in the cultural process, not only and often not at all as an element of the past, but as an effective element of the present.” (1977, p. 122)
Ada tiga hal yang ditekankan oleh Williams dalam definisi di atas: 1) residual adalah kebudayaan yang dibentuk di masa lalu, seperti arti dari residu itu sendiri yakni sisa-sisa. 2) Ia masih aktif dalam proses kultural hari ini. Artinya, ia secara aktual berfungsi dalam proses produksi makna dan pengalaman hidup masa kini. 3) Residual ini tidak hanya aktual berfungsi, tetapi juga secara efektif mungkin saja mendukung kebudayaan dominan maupun menentangnya. Dalam momen tertentu kebudayaan residual tidak bisa sepenuhnya diserap dan diterjemahkan oleh kebudayaan dominan. Di momen tersebutlah residual berpotensi menjadi ruang alternatif atau bahkan oposisional.
Kita bisa mencontohkan residual ini dengan apa yang secara lumrah hari ini kita sebut dengan “kebudayaan”. Seperti kata Afi dalam reelsnya, “kita lebih sering menemukan aneka pertunjukan dalam bentuk pagelaran. Ada tarian dengan baju adat, musik tradisional…media-media meliput dan kemudian kita merasakan kemeriahan itu lewat layar ponsel kita.” Tari-tarian tradisional adalah bagian dari kebudayaan yang dibentuk di masa lalu, kemudian menjadi residual di masa kini setelah diinkorporasi oleh kebudayaan dominan sebagai pertunjukan. Kebudayaan dominan memperlakukan tari-tarian tradisional sebagai yang bisa dinikmati sebagai pengalaman estetik, dikomersilkan, dipamerkan sebagai subjek eksotis, dan dipisahkan dari muatan politiknya. Lantaran tari-tarian yang telah menjadi pertunjukan ini sejatinya “rujukan material dan spiritualnya hancur berantakan”. Tari-tarian itu telah tercerabut dari asas-asas materilnya dan diganti dengan asas materil lain yang bisa diorganisir oleh dan lebih masuk akal bagi kebudayaan dominan.
Ini adalah contoh bagaimana kebudayaan residual diinkorporasi oleh kebudayaan dominan. Inkorporasi adalah proses aktif yang dilakukan kebudayaan dominan untuk menyerap, menjinakkan dan mengintegrasikan elemen-elemen residual maupun emergen—yang akan dibahas berikutnya—ke dalam dirinya sendiri. Bukan dengan menghancurkannya, tapi dengan mengubah fungsi dan maknanya sehingga ia beralih dari unsur ancaman menjadi unsur kebudayaan lain yang menopang dominasi.
Namun ada pula kebudayaan residual yang hadir sebagai alternatif ataupun oposisi terhadap kebudayaan dominan, lantaran tidak dapat diserap olehnya. Seperti sistem kepemilikan ulayat sebagai oposisi terhadap ekspansi sawit, tambang dan PSN. Atau seperti dicontohkan Williams sendiri dengan kehidupan pedesaan. Kehidupan pedesaan di Inggris, kata Williams, memiliki berbagai opsi alternatif dari kehidupan perkotaan, meskipun sebagian dari aspeknya diinkorporasi dan kerap difantasikan sebagai kehidupan yang alami, nyaman dalam logika kebudayaan dominan. Singkatnya sebagai lokasi self-healing untuk kepentingan reproduksi kapital.
Ketika kebudayaan pertunjukan tari yang disinggung oleh Afi, semisal, ternyata tidak menjadi bagian organik dan bagian aktif dari proses sosial yang berlangsung di masa kini, pertunjukan tari menjadi apa yang disebut oleh Williams sebagai kebudayaan arkaik. Arkaik sebagai kebudayaan diperlakukan layaknya objek yang diamati dan dipelajari. Ini seperti kita melihat pameran pedang di museum, atau penelitian filologis atas teks-teks kuno yang dianggap tidak relevan lagi oleh kebudayaan dominan hari ini dan tidak dapat diinkorporasi olehnya. Williams sendiri dalam bukunya mengatakan bahwa pada praktik analisisnya, kedua formasi arkaik dan residual ini “kerap kali sulit dibedakan”. Namun justru karena itulah kategori-kategori yang dibuat Williams menjadi berguna untuk melihat mana unsur kebudayaan masa lalu dalam masyarakat tertentu yang terlibat dalam produksi dan reproduksi sosial dan manakah yang tidak.
Adapun emergen adalah sistem makna dan nilai yang benar-benar baru yang muncul sebagai efek dari kebudayaan dominan namun belum sepenuhnya terserap olehnya. Misalnya di abad ke-19 dan ke-20 adalah kebudayaan kaum pekerja atau kebudayaan kaum terjajah. Dalam praktik analisis, kesulitan dalam melihat emergen ini adalah membedakan manakah emergen yang memang baru dan manakah darinya yang hanya varian baru dari dominan. Sebagai contoh dari emergen yang benar-benar baru adalah majalah-majalah kiri Arab yang merupakan bagian dari hasil kebudayaan dan kesadaran kelas pekerja Arab. Majalah-majalah ini muncul secara organik, dan beberapa darinya memiliki posisi yang menentang terhadap kebudayaan dominan, sementara beberapa lainnya muncul sebagai alternatif—tidak menentang—terhadap kebudayaan dominan. Adapun yang hanya menjadi varian baru dari kebudayaan dominan contohnya adalah watak oportunis dan kecenderungan ekonomisme dari serikat buruh yang secara institusional dijinakkan oleh kelas penguasa.
Kategori analisis yang ditampilkan Raymond Williams membantah setiap asumsi yang memperlakukan kebudayaan sebagai unsur-unsur yang terisolasi, yang memiliki bentuk yang baqā’ dari sononya dan berlaku melampaui ruang dan waktu. Mengandaikan kebudayaan sebagai unsur yang tidak terisolasi berarti mendudukkannya dalam hubungannya dengan kebudayaan lain, dan mendudukkannya dalam batas-batas relasi sosial yang ada. Dengan menjangkarkan kebudayaan pada relasi sosial—dan lebih mengerucut lagi pada relasi kelas—kategori analisis WIlliams menggugat setiap asumsi yang mengosongkan kebudayaan dari dimensi politiknya. Bahkan “aneka pertunjukan dalam bentuk pagelaran, ada tarian dengan baju adat, musik tradisional” adalah satu bentuk dari ekspresi kebudayaan dominan yang mereduksi pertunjukan itu dalam fungsi estetikanya semata. Tidak ada kata netral dalam kamus kebudayaan. Kebudayaan dipelihara dan dihidupkan oleh agensi manusia. Kebudayaan selalu dapat disoal milik siapakah itu dan kecenderungan politis yang bagaimanakah itu.
Ini sebanding dengan apa yang disampaikan Afi dalam videonya
Apa yang ada di balik tari-tarian dan berbagai wujud megah kebudayaan yang kita banggakan itu…sebetulnya merupakan bagian kecil ekspresi dari sesuatu yang lebih besar, kompleks, mewaktu, dan tumpang tindih dengan cara hidup manusia-manusia yang saling berinteraksi di setiap sudut semesta. Manusia-manusia yang saling bertemu, menyerap dan meninggalkan jejak di atas tanah tempat hidup di mana pengetahuan dan pengalaman terus menerus dibangun secara kolektif.
Memperlakukan kebudayaan sebagai terisolasi seolah baqa’ dalam kemasalaluannya, tak berubah sepanjang sejarah, dan milik ‘bersama’ selama-lamanya tanpa mempertimbangkan relasi material dan sosial di baliknya berarti menegasikan agensi manusia, aspek sosialnya dan interaksinya dengan alam di mana ia hidup.