11 menit baca

I

Hari ini kita sedang memasuki babak baru di mana sebagian besar dari kita, masisir, adalah kaum yang melek politik. Tidak hanya membaca dan mengikuti perkembangan politik, tetapi juga menyadarinya sebagai masalah yang bersifat struktural: yang tidak berhenti pada individu aktor politik, tetapi juga menyoal siapa yang diuntungkan secara struktural, bagaimana institusi tertentu mereproduksi relasi kelas, dan bagaimana kontradiksi masyarakat memunculkan krisis politik.

Kesadaran politik struktural ini lumrah menghinggapi pikiran kita, seturut dengan munculnya musykil-musykil pelik di Indonesia. MBG meracuni ribuan siswa, menciptakan ketakseimbangan pasar, dan memangkas anggaran-anggaran yang rakyat berhak atasnya. Penetapan desil yang ngawur tak karuan berakibat pembatasan bantuan sosial bagi yang berhak mendapatkannya. Bencana alam dan bencana ekologis yang diakibatkan oleh relasi-relasi sosial yang bersifat eksploitatif sehubungan dengan alam. Penjajahan pemerintah Indonesia terhadap Papua atas nama pembangunan. Juga musykil pelik dalam skala internasional, seperti genosida Israel terhadap penduduk Palestina, juga ekspansinya ke Lebanon. Penangkapan Maduro dan monopoli minyak oleh AS. Blokade AS terhadap Kuba yang mengakibatkan pemiskinan dan kelaparan. Perang AS terhadap Iran yang anehnya turut didukung negara-negara Teluk.

Masalah-masalah politik yang terjadi hari ini memaksa kita untuk mau tidak mau mempersepsikannya sebagai masalah struktural. Dan lebih mengerucut lagi, masalah-masalah politik yang terjadi hari ini memaksa kita untuk mau tidak mau melihatnya sebagai bentuk-bentuk dari krisis kapitalisme yang semakin tajam.

II

Kata “struktural” sering diujarkan di mana-mana. Hari ini juga semakin beken istilah “have” dan “haven’t” yang biasanya digunakan sebagai label konsumsi anak-anak muda. Kata irit diganti dengan “in this economy”. Entah disadari atau tidak, ada semacam beban makna ekonomi-politik dalam “this”. Orang-orang semakin tahu bahwa genosida di Palestina dan penjajahan Papua berkaitan erat dengan akumulasi kapital; bahwa pemerintah hanyalah jajaran panitia kapitalis; bahwa apa yang dilakukan AS terhadap negara-negara Amerika Latin adalah satu bentuk imperialisme.

Kita juga kerap menemukan, bahkan di kalangan masisir, berbagai kosakata yang memiliki muatan ekonomi-politik disirkulasikan di mana-mana. Seperti: eksploitasi, penindasan, gulingkan sistem, kelas pengisap, komodifikasi, alienasi, kapitalis, rakyat tertindas, dan lain sebagainya. Kata-kata ini, meski sering menjadi jargon-jargon gerakan mahasiswa, bukanlah kata-kata kosong mlompong. Kata-kata ini memiliki beban politik dan juga beban akademis. Bahkan bisa dikatakan bahwa kata-kata ini memiliki konsep dengan beban makna yang berubah-ubah dari satu fase historis ke fase historis lainnya.

Dalam memahami masalah politik hari ini, kita tidak cukup berhenti pada “sekedar ingin tahu” saja. Ada semacam keinginan kuat dalam benak kita, entah disadari atau tidak, untuk juga mengubah dunia ini. Oleh karena itu sangat bagus jika ada di antara kita segolongan kaum yang menjadi aktivis. Namun yang perlu diingat, aktivisme hanya akan jadi olahraga belaka jika hanya asalkan bergerak. Gerakan harus dipandu dengan pengetahuan yang matang tentang apa yang hendak kita perjuangkan atas realitas ini. Realitas di mana kita hidup hari ini adalah realitas kapitalisme. Problemnya kemudian, kapitalisme dan pranata-pranata yang berdiri di atasnya memiliki preseden-preseden yang berlaku di masa lalu, bahkan struktur fondasi dari kapitalisme bertahan hingga hari ini. Dan pemahaman atas struktur fondasi ini bergulir secara historis menyertakan konsep-konsep yang semakin berkembang.

Diskusi tentang kritik atas kapitalisme telah bergulir dengan banyak perkembangan. David Harvey mengulas bagaimana kapitalisme berkembang ke tahapan Imperialisme Baru. Kemudian konsep ecological-rift didiskusikan dari sudut pandang Marxis oleh John Bellamy Foster dan kawan-kawan. Kritik atas Neoliberalisme dikembangkan oleh James Petras sebagai wadah politik yang ramah bagi sistem kapitalisme. Analisa Intan Suwandi mengenai rantai-nilai (value chains) melengkapi diskusi imperialisme dalam kacamata ekonomi politik. Semua teori itu berbasiskan pada pengetahuan dasar dari kritik atas kapitalisme yang Marx tulis dalam Das Kapital.

III

Kita hidup dalam dunia kapitalisme, di mana semua relasi sosial dikonversi menjadi relasi antar komoditas. Nyaris tidak ada benda-benda yang bukan lagi komoditas di jaman ini. Hadits Nabi, “Kaum Muslimin berserikat dalam tiga hal: air, rumput, dan api” sudah tidak berlaku di dunia di mana kita hidup sekarang. Air telah dimonopoli oleh perusahaan-perusahaan. Bahkan untuk mendapatkannya, Anda perlu menjual tenaga kerja Anda ke kaum pemilik modal. Relasi komoditas ini mempertajam kontradiksi antara nilai guna dan nilai tukar, dan mendikte bagaimana dunia bekerja hari ini, bahkan dalam skala global.

Tapi apakah itu komoditas sebagai relasi? bagaimana kesetaraan formal di ranah pertukaran benda-benda komoditas ini berubah menjadi relasi eksploitasi begitu masuk ke ranah produksi di antara kelas kapitalis dan kelas pekerja? apakah yang dimaksud dengan kelas sebagai kategori sosial, ditentukan oleh apa? apakah dan bagaimana sejatinya eksploitasi itu berlangsung padahal kontrak jual-beli tenaga kerja secara kasat mata tampak adil dan sah-sah saja? apakah yang dimaksud dengan nilai? bagaimana kapitalis lewat kompetisi, entah disadari atau tidak, justru saling bekerja sama dan meratakan tingkat laba dalam problem perubahan nilai ke harga produksi? apa saja syarat-syarat bagi runtuhnya kapitalisme baik dari kondisi objektif maupun kondisi subjektif?

Pembelajaran atas pertanyaan-pertanyaan di atas harus kita kuasai. Marx telah menuliskan dengan panjang lebar, ilmiah, dan sistematis dalam bukunya Das Kapital untuk membantu kita memahami bagaimana kapitalisme ini, dunia di mana kita hidup, bekerja dan mendikte semua hal-ihwal.

Kita bisa saja berangkat dari Das Kapital yang ditulis Marx. Tapi terdapat kerumitan dalam konsep-konsep Das Kapital yang barangkali membuat kita pening tak main. Khususnya di dua bab pertama, teori Marx tentang nilai dan komoditas. Ini wajar saja sebab dua bab pertama merupakan punggung teori dari Das Kapital. Marx mengelus dada pembacanya berkata demikian:

“Setiap awal itu sulit, ini berlaku untuk semua ilmu pengetahuan. Oleh karena itu pemahaman bab pertama—terutama bagian yang berisi analisis tentang komoditas—akan menjadi kesulitan terbesar” (Economic Manuscripts: Capital Vol. I - 1867 Preface)

Hal ini lantaran kekuatan abstraksi yang melekat pada metode dialektika yang Marx gunakan.

Pada kesempatan kali ini, saya akan merekomendasikan 5 buku—berdasarkan yang pernah saya baca—sebagai pintu pertama untuk memahami Das Kapital, sehingga memudahkan kita untuk memahami konsep-konsep tersebut.

1. Pengantar Ekonomi Politik (Swanvri dkk)

Buku yang relatif tipis ini adalah modul kuliah dalam Short Course Pengantar Ekonomi Politik yang diadakan oleh Resist Institute.

Selain memperkenalkan ke pembaca tentang teori-teori dasar Marxisme, seperti apa itu kapitalisme sebagai cara produksi, akumulasi primitif, teori nilai dan eksploitasi, buku ini juga memperkenalkan ekonomi-politik sebagai disiplin ilmu.

Jika anda mengenal Marx mula-mula sebagai sosiolog atau ekonom, membaca buku ini akan mengantarkan Anda untuk mengenal Marx dari sudut pandang ekonomi-politik. Dan jika Anda mengenal Marxisme sebagai bidang ilmu yang muncul dari ruang kosong, buku ini akan memahamkan Anda betapapun Marxisme sebagai ilmu ekonomi-politik itu berpijak pada tradisi ekonomi-politik Inggris, seperti Adam Smith, David Ricardo, Thomas Malthus dan lain sebagainya. Bukan melanjutkan tradisi itu dengan serta merta, melainkan melihatnya secara kritis dan membangun teori baru di atas reruntuhan teori ekonomi-politik Inggris.

2. Geneologi Kapitalisme (Dede Mulyanto)

Buku ini ditulis oleh KDM tapi bukan KDM yang caper itu. Tapi KDM yang kepanjangannya adalah Kang Dede Mulyanto, seorang antropolog Marxis. Menurut pengakuannya, argumen-arguen dalam buku ini didasarkan pada perkembangan diskusi Das Kapital di Perhimpuan Muda.

Kang Dede tidak hanya bertujuan mengantar pembaca kepada soal bagaimana analisa Marx tentang kapital, tapi juga dengan elaboratif menjelaskannya dari sudut pandang antropologi. Dengan antropologi, Kang Dede membuktikan bahwa kapitalisme sebagai sistem ekonomi memiliki asal-usul historis. Ini merupakan gugatan atas klaim para intelektual borjuis yang menganggap kapitalisme bersifat transhistoris dan azali. Dengan antropologi pula, Kang Dede dengan lincah dapat mencontohkan bagaimana Kapitalisme muncul dan berkembang di berbagai wilayah Nusantara, dengan kespesifikan kehidupan pra-kapitalis yang beragam.

Buku ini dilengkapi dengan glosarium, rujukan, dan kutipan, khususnya bagian-bagian yang penting dari Das Kapital. Selain itu, Kang Dede di beberapa bagian bukunya juga dengan cukup keras berusaha untuk mengklarifikasi pemahaman para pembaca pemula yang biasanya berangkat dari “Pemikiran Karl Marx”-nya Romo Franz Magnis Suseno.

Jika Anda pertama kali kenal pemikiran Marx dari Romo Magnis, saya jamin Anda akan mendapatkan ide-ide baru dari buku Kang Dede ini. Bahkan, Anda barang tentu menjadi yakin bahwa Romo Magnis sebenarnya tidak benar-benar membaca Das Kapital-nya Marx.

3. Analisa Marx atas Produksi Kapitalis (Gerard Dumenil dan Duncan Foley)

Buku ini adalah artikel Gerard Dumenil bersama Duncan Foley yang diterjemahkan Indoprogress. Buku ini relatif tidak ramah untuk pembaca yang mencari sensasi estetik tulisan.

Lantaran, seperti buku ‘jitu’ dan buku ‘jagoan’, buku ini langsung menembak ke setiap inti persoalan dangan singkat dan padat setebal 66 halaman. Terjemahan buku ini juga tidak dengan bahasa populer yang bisa dinikmati pembaca pemula ekonomi-politik.

Buku ini tidak cocok sebagai pengantar jika Anda mencari kenikmatan membaca. Tapi jika Anda berniat mencari pegangan yang ringkas selama Anda membaca Das Kapital, dari bab awal sampai akhir, buku ini sangatlah cocok Anda anggap sebagai talkhisan dari talkhisan Das Kapital.

4. Understanding Marx’s Capital (Rob Sewell & Adam Booth)

Buku ini ditulis oleh Rob Sewell dan Adam Booth, dua tokoh terkemuka International Marxist Tendency, sebuah organisasi yang menganut paham Marxis secara kāffah.

Buku ini cocok sebagai pengantar untuk memahami teori-teori pokok dari Das Kapital-nya Marx. Buku ini hanya mencakup jilid pertama dari Das Kapital. Ia ditulis dengan pelan-pelan agar pembaca benar-benar memahami apa yang penting dari Das Kapital Marx, disertai dengan kutipan-kutipan penting dari teks-teks babon pemikir Marxisme.

Buku ini dapat dikatakan mudah dibaca bagi para pembaca pemula ekonomi-politik. Selain menjelaskan beberapa konsep-konsep rumit Marx dengan bahasa yang relatif mudah dipahami, buku ini juga menyertakan glosarium di bagian akhir bukunya sebagai panduan konsep tersebut.

Selain itu, buku ini juga memuat pengantar Trotsky untuk Das Kapital jilid pertama. Pengantar Trotsky ini penting dibaca jika Anda memang ingin benar-benar mencari sudut pandang Marxis.

Di bagian akhir, terdapat tiga esai tambahan dari Rob Sewell menyoal tentang krisis kapitalisme. tiga esai ini penting jika Anda tertarik dengan bagaimana kontradiksi dalam kapitalisme sebagai cara produksi itu muncul.

5. Al-Iqtishād al-Siyāsī li al-Ra’smāliyyah

Buku yang kelima ini ditulis oleh para sarjana Soviet dan diterjemahkan oleh Maher Asal. Saya merekomendasikan buku ini kepada Anda yang tertarik memahami kosakata Das Kapital dalam bahasa Arab. Utamanya, jika Anda ingin memahami teks para pemikir Arab Marxis seperti Mahdi Amil, Kamerad Fahd, atau Samir Amin, yang memiliki concern dalam pengembangan teori kritik Kapitalisme abad ke-20.

Buku ini, meski dalam bahasa Arab, tetap relatif mudah dipahami, lantaran buku ini seperti buku “sekolahan”. Setiap kata kunci secara harfiah digarisbawahi demi kemudahan pembaca. Meskipun mencapai 686 halaman, tapi ia di-lay-out dalam format buku saku. Jadi Anda tidak perlu gemetar dulu.


Sebagai pungkasan saya ingin mengutip Marx dalam pengantarnya:

“Di jalan ilmu, tidak ada jalan raya yang mulus, dan hanya mereka yang tidak takut lelah mendaki di jalan yang terjal, yang memiliki harapan untuk mencapai puncak yang bersinar” (Economic Manuscripts: Capital Vol. I - 1872 Preface)

Referensi

Economic Manuscripts: Capital Vol. I - 1867 Preface. (t.t.). Diambil 20 September 2026, dari https://www.marxists.org/archive/marx/works/1867-c1/p1.htm
Economic Manuscripts: Capital Vol. I - 1872 Preface. (t.t.). Diambil 20 September 2026, dari https://www.marxists.org/archive/marx/works/1867-c1/p2.htm

Tinggalkan komentar