3 menit baca

Krisis Kebudayaan atau Krisis Rezim! adalah teks al-Alim yang diterbitkan pertama kali pada tahun ’85. Kemudian dibukukan bersama artikel lainnya di buku Mafāhim wa Qadhāyā Isykāliyyah.

Kata ‘atau’ dalam judul al-Alim sebenarnya bisa menjerumuskan pembaca pada kesimpulan semacam ini: yang terjadi adalah krisis rezim, bukan budaya. Atau sebaliknya. Lalu ia terjebak pada jurang dalam yang sering muncul dalam diskusi Marxisme sebagai: reduksi superstuktur dan determinisme ekonomi.

Namun ada baiknya kita berprasangka baik pada al-Alim: seorang kritikus sastra yang senantiasa bergelut dalam gejolak pemikiran-budaya-seni Arab (atau orang bilang: superstruktur) di tahun enampuluhan, di samping dirinya sebagai pemeluk aliran filsafat, atau anda bilang ideologi, yang masih melibatkan basis secara rutin: Marxisme. Soal reduksi dan determinisme, mana mungkin?

Kita tak perlu menunggu jawaban lama. Seujung jari kita masuk teks, kita telah disambut prolog teks al-Alim yang bilang bahwa: yang lebih penting, namun bukan satu-satunya, dari tsaqofah adalah posisinya dalam kenyataan sebenarnya. Refleksi kita terhadap tsaqofah, bahkan definisi dan konsepsinya, memiliki posisi yang sebenarnya didasari kelas. Sekalipun posisi itu adalah moderat. Atau kata Farah Anton: ulama moderat.

Namun itu bukan satu-satunya yang penting. Pembuka al-Alim lewat cuplikan novel Anton juga menempatkan tsaqofah, selain wataknya yang memiliki kelas, pada ‘tempat yang tinggi’ sebagai ‘teknologi’ yang canggih, sebagaimana kata orang soal seni: cerminan realita lewat alegori dan kemampuan imajinasinya yang melampaui realita sendiri.

Pembaca boleh merasa atau menyatakan asing pada paragraf-paragraf di mana ia menyebut Jabiri, Adonis, ataupun Laroi ketika kita sedang duduk-duduk membahas tsaqofah. Anda bisa menudingkan pertanyaan seperti: mutsaqqaf atau mufakkir? Begitupun saya. Tapi saya juga menudingkan pertanyaan: apakah kebudayaan dan pemikiran bisa saling dipisahkan? apakah kebudayaan itu non/a-pikiran sehingga berbudaya itu bukan berpikir?

Ini adalah, dalam asumsi saya, konsekuensi dari artikulasi tsaqofah yang dalam bahasa Arab diberikan kata: tsaqofah dan segala derivasinya, termasuk mutsaqqaf. Teks ini dengan begitu akhirnya menerjemahkan kata tsaqafah dengan berbagai pinjaman kata sesuai artikulasinya. Polemik kata ini sebenarnya bisa beres ketika melihat al-Alim yang memberikan konsepsi mutsaqqaf melalui Gramschi: tiap manusia adalah mutsaqqaf, meskipun ‘tsaqofah’ bukan kesehariannya. Mufakkir adalah mutsaqqof. Intelektual juga. Penulispun begitu. Agamawan begitu. Sampai pekerja, jurnalis dan pelajar, begitu juga petani.

Karena tiap manusia adalah mutsaqqaf, maka—inilah yang penting dari teks al-Alim: Tak ada yang namanya kekosongan ‘tsaqofah’. Hari ini kita tak bisa mengatakan dunia masisir adalah dunia yang kosong dari kebudayaan. Betapapun tingkatan dan bentuknya, dan ketidaksetujuan terhadapnya. Seperti: kebudayaan islam(is) dan kebudayaan Azhar. Yang bisa dilakukan adalah: kebudayaan mana?

Dalam hutan belantara tanda tanya itu, teks al-Alim tetap mengingatkan bahwa di manapun dan apapun bentuknya, kebudayaan akan menjelma, pada posisi kelasnya, menjadi antara: kebudayaan yang ia sebut dengan ‘kebudayaan adukan semen’ sebagai kebudayaan cap rezim-kelas penguasa, atau kebudayaan oposisi yang revolusioner. Dengan kata ‘adukan semen’, al-Alim mengakui bahwa kebudayaan tidak direduksi pada dikotomi kelas. Melainkan pada kebudayaan-kebudayaan yang diaduk (beraliansi maupun ‘netral’) dan dicap sebagai kebudayaan rezim. Inilah langkah pertama yang harus dipahami dari ‘perjuangan dalam medan kebudayaan’.

Dalam kerangka ini, lontaran isu dan asumsi krisis kebudayaan dihadapi pertanyaan yang lebih spesifik: krisis kebudayaan mana? Dan dalam logika kebudayaan ‘adukan semen’ kita bisa mengajukan pertanyaan-pertanyan lagi: krisis kebudayaan adukan semen maksutnya? Di mana krisis kebudayaan adukan semen itu terletak? Dalam hutan belantara diskusi ‘kebudayaan’ atau dalam realita krisis ‘adukan semen’? Beginilah kita bisa memahami apa yang ia sebut sebagai (antara) krisis rezim dan krisis kebudayaan. Begitupula hubungannya dengan krisis ‘kebudayaan progresif’ yang al-Alim akui juga.

Melalui membaca ulang teks ini, al-Alim tetap hidup dalam pergulatan yang sampai hari ini mungkin telah mati dan bangkit lagi esok hari setelah kita, meskipun mungkin dengan kepura-puraan, melakukan ‘refleksi kebudayaan’.