19 menit baca

Hampir saja kematian Marxis-Leninis secara tidak langsung terang-terangan diumumkan. Oleh para kaum neo-/pos-/ Marxis sendiri. Setelah buku Losurdo terbit, Western Marxism: How it was Born, How it Died, How it Can be Reborn, yang diedit oleh Gabriell Rockhill, diskusi tentang Marxisme Barat kembali naik. Lalu pada tahun kemarin, Buku Who Paid the Pipers of Western Marxism? milik Rockhill hadir di pangkuan publik dan memberikan guncangan di kursi-kursi universitas para akademisi Marxis. Apalagi Rockhill mengatakan buku itu terbit sebagai buku pertama dari serial kritik yang ia tulis. Diskusi makin memanas dan melebar, dan kalangan Marxis-Leninis—terutama dalam mazhab tafsiran Rockhill, berada antara dua kemungkinan; menarik diri secara total atau menemukan kembali momentumnya.1

Marxisme Barat bukanlah istilah baru yang Rockhill gunakan. Begitu juga Losurdo. Ia memberikan judul bukunya dengan istilah Marxisme Barat sebagai mimikri dari tulisan Perry Anderson yang terbit pada tahun 1976. Namun istilah Marxisme Barat, catat Losurdo, justru mengemuka saat Merleau-Ponty menerbitkan tulisannya yang ia beri judul “Marxisme Barat” pada awal tahun-tahun Perang Dingin. Sejak tulisan filsuf Prancis itu lahir, istilah Marxisme Barat memang dikhawatirkan menjadi istilah yang kerap salah digunakan dan diartikan. Walaupun, bagi Losurdo, terlepas dari kritik padanya, justru Ponty patut diberi kredit karena menjadi orang pertama yang mengidentifikasi alasan-alasan objektif sosiopolitik yang berujung pada bifurkasi antara dua mazhab Marxisme.

Bifurkasi Marxisme, bagi Perry Anderson, terjadi dalam satu lintasan linimasa yang memuncak pada periode setelah kegagalan pemberontakan proletar di Eropa Barat dan terisolasinya Revolusi Rusia di Timur di tahun 1920. Kelas Pekerja di Eropa Barat, kecuali di beberapa negara, yang telah mencapai ‘kapitalisme maju’ gagal mendirikan revolusi proletariat. Sementara di Timut, Soviet mengalami isolasi imperialis yang menyebabkan kemunduran politik internalnya sendiri. Kenyataan Soviet yang terjebak dalam Stalinisasi menghambat kebebasan dan kejujuran berteori dalam berpolitik internal. Tradisi Marxisme Klasik, semacam Lenin dan Luxemberg, yang menggambarkan jalinan harmonis teori dan praktek revolusioner kelas pekerja lama kelamaan mulai benar-benar retak dan patah. Marxisme Barat lahir, dan, bagi Anderson, ia adalah produk kekalahan.

Kajian Marxis yang mulanya memiliki fokus ekonomi-politik riil kemudian menyempit pada ranah filsafat, epistemologi, dan metodeologi estoteris. Teori Marxis yang mulanya selalu bergandengan dengan praktik perjuangan kelas kemudian menarik mundur pada lingkungan universitas. Apabila Marx bermula dari Filsafat, lalu ke Politik lalu ke Ekonomi, maka kajian Marxis era ini sepenuhnya berputar bagai roda; dari Politik dan ke Ekonomi, lalu ke Filsafat. Kenyataan demikian dalam tradisi Marxisme Barat sepenuhnya disayangkan. Teoritikus ‘Marxisme Barat’ di generasi awal seperti Gramsci dan Lukács memiliki kondisi realita objektif yang membuat karyanya cukup dianggap terpisah dari kenyataan kelas pekerja. Gramsci, yang mulanya pemimpin gerakan Buruh di Turin dan memimpin Partai Komunis Italia (PCI), harus menulis buku monumentalnya, Prison Notebook, dalam kondisi diisolasi dalam penjara dengan menggunakan bahasa sandi yang rumit karena sensor fasis. Lukács, atas kecaman keras Komintern dan paksaan penarikan kembali penerbitan, sejak tahun 1929 berhenti menjadi militan politik dan mengalihkan fokus intelektualnya ke ranah kritik sastra serta filsafat murni.

Apabila Gramsci, meskipun dengan bahasa sandinya dan ketiadaan semacam teori klasik seperti hukum gerak mode produksi namun mengenalkan khalayak teori Hegemoni, adalah seorang Marxis yang masih berkutat pada isu perjuangan kelas, maka yang terjadi setelahnya adalah suatu keheningan total atas tatanan politik borjuasi, lebih-lebih untuk menggulingkannya. Keheningan Marxisme Barat atas permasalahan metode yang subtansial mencapai titik nadirnya dengan studi-studinya yang menitikberakan pada ‘superstruktur’. Bukan hanya pada superstuktur, namun pada titik yang paling tinggi dan jauh dari pergulatan basis itu sendiri. Tidak tentang negara ataupun hukum yang menjadi isi tulisan mereka, namun justru tentang budaya.

Mazhab Frankfurt pada mulanya adalah Institut Penelitian Sosial melalui tangan Grünberg, seorang ekonom dan sejawaran. Di bawah kepemimpinannya, Institut tersebut difungsikan sebagai pusat kajian Marxis atas perkembangan masalah-masalah tradisional gerakan pekerja dan konsolidasi kerja empirik dan analisis teori. Pada tahun 1929, ia berhenti lalu menyerahkan jabatan direkturnya pada Horkheimer, seorang filsuf yang tak pernah menjadi anggota partai kelas pekerja, kendati mengagumi Luxemberg dan punya posisi politik radikal. Di tangan Horkheimer, arah institusi yang semula punya perhatian Materialisme Historis sebagai pengetahuan, beralih pada pengembangan filsafat sosial yang didukung investigasi empirik. Arsip Sejarah Sosialisme dan Gerakan Pekerja lalu diubah menjadi Jurnal Kajian Sosial. Pusat kajian Marxis telah mati, dan muncul mazhab baru yang mengenali diri sebagai Mazhab Teori Kritis. Kenyataan Nazi yang membuat Institut ini harus eksil dan berpindah ke Amerika Serikat, adaptasi politik dengan lingkungan massa non-kelas pekerja yang tak pernah bersentuhan dengan praktis sosialis maupun subtansiklasik Marxis, membuat Teori Kritis yang dikembangkan oleh Horkheimer, meskipun telah kembali ke Frankfurt, terang-terangan menyatakan perceraian dengan praktik sosialis. Marxisme di Barat, atas apa yang ia tulis pada praktik-praktiknya di Prancis, Italia, dan Jerman, kemudian memiliki pergolakan yang serupa pada kaitan produksi teori dan sikap terhadap partai dan gerakan kelas pekerja.

Yang menarik dari kajian Anderson tentang mengenai Marxisme Barat, selain perpindahan fokus kajian dari basis ke superstuktur dan keterlepasannya dengan praktik revolusioner, adalah pernyataanya mengenai orisinalitas teoretis (Marxisme Barat) yang lebih canggih dibandingkan Marxisme Timur. Pernyataan ini justru memberikan pembacanya pertanyaan-pertanyaan berikut: Apa yang ia maksut ‘orisinalitas’ dan ‘kecanggihan’? Apakah baginya kemenangan Komunis Vietnam pada setahun sebelum bukunya terbit bukanlah suatu kecanggihan dan bukan didasari atas teori sehingga ia berada di luar ‘sejarah’? Apa perceraian teori-praktek dalam kalangan Marxis ia temukan juga dalam kemenangan Komunis Vietnam, perjuangan Mao, dan pengalaman revolusi kaum-kaum yang boleh disebut sebagai Marxisme Timur? Pernyataan ini yang membuat Losurdo curiga dan menemukan preseden Anderson tentang Marxisme Barat, bukan dari Ponty, melainkan dari sikap Horkheimer itu sendiri di tahun 1942.2 Posisi Anderson terhadap Marxisme (Barat) sejatinya adalah posisi Marxisme Barat itu sendiri: idealisme dan memillih superioritas teori, eurosentris chauvinis, dan penolakan dogmatis terhadap sosialisme yang hari ini eksis.

Bagi Losurdo, Bifurkasi Marxisme bukan terjadi setelah dan dampak Stalinisasi, melainkan terjadi pada lubuk gerakan Marxisme itu sendiri pada 1914 di Barat kala Perang Dunia Pertama meledak, dan 1917 di mana Revolusi Oktober memberikan semangat pembebasan dan anti kolonial di Timur. Karena melihat perang sebagai dampai atas kebobrokan moral kaum borjuasi dan dibuktikan melalui alat pembataian massal, tokoh Marxisme Barat justru melihat negara-bangsa/kedaulatan nasional sebagai masalah yang usang dan merayakan ‘internasionalisme abstrak’. Padahal di Timur, negara adalah sarana anti kolonial dan imperialisme. Pengabaian terhadap kedaulatan negara sejatinya adalah pengabaian terhadap masalah kolonial. Pengabaian atau pengkerdilan masalah kolonial, bagi Losurdo, adalah sebuah eurosentris chauvinis. Pandangan ini pada muaranya akan mendelegitimasi perjuangan pembebasan nasional yang dilakukan oleh bangsa-bangsa terjajah dan, oleh karenanya, melegitimasi atau membiarkan dominasi imperialis tetap berlangsung. Dalam konteks Marxisme Barat modern, hal ini berujung pada sikap tokoh-tokoh seperti Max Horkheimer atau Theodor Adorno yang beralih membela tindakan imperialisme Barat (seperti mendukung intervensi AS di Vietnam atau invasi Suez) dengan dalih bahwa imperialisme tersebut sedang membela “konstitusi,” “hak asasi manusia,” atau “peradaban” melawan “barbarisme” Timur.

Bifurkasi Marxisme dengan demikian tidak lagi hanya diidentifikasi lewat geografi, apalagi geografi Eropa seperti yang Anderson lakukan (Marxisme Barat adalah Marxisme Eropa Barat). Marxisme Timur, dengan demikian menurut Losurdo, diidentifikasi sebagai mereka yang berada dalam kekuasaan, seperti USSR, Vietnam, Korea, China, Cuba, dan sebagainya. Sementara Marxisme Barat adalah para intelektual yang menolak upaya upaya kuasa untuk membangun sosialisme, menjauhi upaya kuasa dengan alasan berbagai macam bentuk ‘teori kritis’, bahkan, sebagian di antaranya, memberi jarak atas kuasa sebagai pengalaman epstemik untuk menemukan ‘Marxisme yang otentik’. Dua Marxisme tadi merujuk pada dua orientasi politik yang berbeda.

Dalam dunia Marxis, bukan ide yang menggerakan sejarah—dan orientasi politik hidup dalam dunia ide, melainkan kekuatan material. Menurut Rockhill, Anderson tak pernah sampai pada inti masalah dengan menempatkan Marxisme Barat, sebagaimana yang ia pahami, dalam hubungan sosial produksi global (termasuk produksi teoretis) dan perjuangan kelas internasional. Penjelasan Anderson dengan begitu tidak sepenuhnya materialistis karena tidak secara serius terlibat dalam ekonomi politik produksi, sirkulasi, dan konsumsi pengetahuan, dan juga tidak menempatkan imperialisme sebagai pusat analisisnya.

Marxisme Barat, menurut Rockhill, adalah produk ideologis imperial. Pengetahuan tak pernah bisa dipisahkan dari realita. Ia berkembang dalam situasi yang partikular dan konkret, dihasilkan melalui praktek teori spesifik yang tumbuh dalam organisasi intelektual masyarakat secara keseluruhan. Rockhill menolak asumsi humaniora borjuis, melalui perkataan Heidegger dan dekonstruksi Derrida3, yang mengisolasi teks dari konteks materialnya dan mengklaim bahwa biografi atau keadaan sosial-politik seorang filsuf tidaklah penting. Menyatakan bahwa Marxisme Barat adalah produk ideologis imperialisme44, adalah menyatakan versi spesifik Marxisme yang muncul dalam suprastruktur—dan lebih khusus lagi, aparatus budaya—dari negara-negara imperialis terkemuka. Kemudian Marxisme menjadi kehilangan kontak dengan ambisi universalnya untuk secara ilmiah menjelaskan dan secara praktis mengubah tatanan dunia kapitalis.

Dalam masyarakat kelas, pengetahuan selalu terlibat dalam perjuangan kelas dan menentukan posisinya. Di bawah kapitalisme global, rezim penguasa (kelas borjuasi) tidak hanya menguasai alat produksi material, tetapi juga alat produksi intelektual. Perang Imperial bergandengan tangan dengan perang ideologi. Lalu pengetahuan imperial, dengan atau tanpa suatu embel-embel ideologi tertentu, disebar dan diproduksi jaringan institusi yang sangat massif dan saling terhubung; universitas elit, lembaga pemikir, industri penerbitan, media massa, serta yayasan filantropi.

Atas nama kebebasan akademik, objektifitas ilmiah, dan demokratisasi pengetahuan, kultur borjuasi menyamarkan dirinya sebagai kebebasan; kebebasan yang membebaskan dirinya selama tidak melampaui batasan-batasan sistem sosioekonomik yang memproduksi dirinya sendiri: kapitalisme. Atas nama dan batasan demikian, kiri yang kompatibel lahir. Kecaman vulgar terhadap komunisme telah usang. Rezim borjuasi butuh gerakan kiri yang terlihat kritis, di atas kertas, terhadap kapitalisme, namun memerangi proyek sosialis nyata di belahan dunia lainnya. Marxisme Barat cenderung membayangkan hidup di masa depan pasca-kapitalis yang murni secara utopis. Lalu potensi pemberontakan kelas pekerja ditafsiri dan dibawa ke arah pemberontakan simbolis, dekonstruksi teks, atau akrobatik teoritik, sekalipun menggunakan kosa kata Marxis, yang sama sekali tidak membahayakan tatanan kapitalis.

Apabila tradisi Marxis berhutang pada Adorno atas kritiknya pada industri budaya, maka para ahli waris kaum Marxis perlu menagih dan menudingkan ‘industri teori’ yang mendanai, mempromosikan, dan memberikan status sosial Adorno itu sendiri. Teori kritis, begitupun teori-teori lainnya, telah menjelma dari fungsinya yang hanya memiliki nilai guna menjadi memiliki nilai tukar. Praktek teoritik tidak lagi didasari atas kebutuhannya sebagai proyek kolektif perjuangan kelas dan memiliki tujuan memberikan pemahaman tentang realitas material guna mengubahnya, melainkan didasarkan nilai tukar yang bisa diproduksi dan dipasarkan pada di pasar ide. Produksi intelektual telah mengalami komdifikasi,

Atas mode produksinya yang demikian, atau Rockhill sebut sebagai Industri Teori Imperial, teori Marxis dikawinkan dengan berbagai teori apapun, eksistensialisme, fenomenologi, pskoanalisis, dan aliran borjuasi lainnya yang laku di pasar dan jinak terhadap kapitalisme. Eklektisisme teoritis ini tentu bermasalah karena mengandaikan asumsi Marxisme bukan pengetahuan yang digunakan membaca dan mengubah realitas, melainkan hanya salah satu wacana atau kerangka penafsiran subjektif yang dapat dibongkar pasang lalu dinamai sebagai ‘pembaruan’ teoritis. Marxisme hanyalah menjadi bumbu supaya produk teoretis mereka dianggap radikal dan memiliki nilai tukar yang tinggi di industri teori. Praktik teoretis berbasis nilai tukar adalah tanda bahwa Marxisme (Barat) telah diubah dari alat teoritik perjuangan menjadi komoditas budaya kelas menengah ke atas yang melayani status quo imperial. Tugas filsuf, dengan begitu, bukan hanya menafsiri dan mengubah dunia, melainkan menjajakan diri dan produk filsafatnya pada pasar.

Meskipun dengan uraian panjang dan istilah yang sampai hari ini dipergunakan, istilah Marxisme Barat sendiri masih dalam batasan-batasan tertentu untuk digunakan. Foster, dalam satu wawancaranya, menyatakan ketidaksukannya terhadap istilah Marxisme Barat. Hal itu didasari karena istilah tersebut diadopsi sebagai bentuk identifikasi diri oleh para pemikir yang menolak bukan hanya Marxisme Soviet, tetapi juga sebagian besar Marxisme klasik Karl Marx dan Frederick Engels, serta Marxisme Global Selatan. Pada saat yang sama, sebagian besar Marxisme di Barat, dengan analisis yang lebih materialistis, berkutat pada politik-ekonomi, dan historis, cenderung dikecualikan, teurtama oleh Anderson, dari jenis Marxisme Barat yang diidentifikasi ini. Anderson secara sengaja mengesampingkan cara-cara para pemikir politik dan ekonomi dalam tradisi Marxisme Barat. Kita dapat melihat indeksnya untuk memahami sifat pembatasan yang dilakukan Anderson. Para filsuf dan teoretikus budaya menonjol dalam karakterisasinya terhadap kaum Marxis Barat, namun para ekonom politik dan sejarawan Marxis (termasuk sejarawan budaya) bisa dihitung jari. Bahkan Ilmuwan Marxis sama sekali tidak disebutkan, seolah-olah mereka semua tidak pernah ada dalam catatan sejarah Marxis.

Bagi Foster, pertanyaan tentang Marxisme Barat adalah pertanyaan secara teoritis tentang tradisi filosofis tertentu. Hal ini dimulai dengan Ponty, dan ditandai dengan pengabaian konsep dialektika alam. Dengan begitu, gagasan Marxisme Barat secara sistematis disingkirkan dari materialisme ontologis dan ditarik pada aliran yang condong pada idealisme. Foster juga menggarisbawahi bahwa Marxisme Barat ditandai dengan penarikan diri dari kritik terhadap imperialisme dan seluruh pengalaman revolusioner Dunia Ketiga atau Global South. Hemat Foster, Marxisme Barat lebih tepat disebut dengan Marxisme Eurosentris Barat. Namun, Foster memahami apa yang Rockhill sajikan di bukunya adalah kritik materialis-historis klasik yang berfokus pada fondasi kelas ideologi; kritik diri yang mustahil dilakukan oleh Marxis Barat itu sendiri, karena tanpa membongkar seluruh inti permasalahannya, hal itu akan sia-sia.

Hubungan Marxisme Barat dengan imperialisme, bagi Foster, tidak sederhana dan perlu uraian yang dalam dan kompleks. Masalah ‘imperial’ bukan hanya pada produksinya di bawah lingkungan sosioekonomik kapitalis-borjuis dan aliran dana yang menopang kerja-kerja intelektualnya. Masalah imperial justru terletak pada jantung Eurosentrisme yang melekat pada budaya Barat (termasuk, tentu saja, bukan hanya Eropa, tetapi negara-negara kolonial pemukim: Amerika Serikat dan Kanada di Amerika Utara dan Australia dan Selandia Baru di Australasia, ditambah, dalam konteks yang agak berbeda, Israel).

Penggunaan istilah Marxisme (Eurosentris) Barat, kendati demikian, bagi Foster penting untuk disadari dan terus melancurkan kritik terhadapnya. Lebih-lebih hari ini terjadi perpecahan Perang Dingin Baru antara kaum kiri Eurosentris dan Marxisme global. Kaum kiri Eurosentris meremehkan, menyangkal, atau—dalam kasus ekstrem—bahkan merangkul kekuatan imperialis inti. Atas kritik maupun masukannya terhadap istilah tersebut, Foster mengatakan bahwa tradisi Marxis Barat, meskipun memberikan banyak wawasan kritis, terjebak dalam kemunduran empat kali lipat: (1) kemunduran dari kelas; (2) kemunduran dari kritik imperialisme5; (3) kemunduran dari alam/materialisme/sains; dan (4) kemunduran dari akal. Tanpa ontologi positif yang tersisa, yang dipertahankan, dalam kaum kiri postmodernis dan pasca-Marxis, hanyalah Firman atau dunia wacana kosong, yang memberikan dasar untuk mendekonstruksi realitas tetapi tanpa proyek emansipatoris apa pun.

Teori Rockhill mengenai pengetahuan (Marxisme Barat) sebagai produk ideologi imperial harus diletakkan secara hati-hati dalam kerangka yang ia gunakan, yaitu MDH (Materialis Dialektis Historis). Dalam kerangka MDH, titik tolak analisis adalah realita objektif. Dengan begitu, tidak semua Marxis (Barat), perlu ditekankan, jatuh ke dalam perangkap yang sama. Baran, misalnya, yang merupakan teman seumur hidup Marcuse, sejak mereka berdua berada di Institut Penelitian Sosial di Frankfurt, memiliki corak pemikiran yang sangat berbeda dengan watak pemikiran utama dari apa yang telah diidentifikasi sebagai tradisi Marxis Barat. Ia menulis Ekonomi Politik Pertumbuhan pada tahun 1957, karya Marxis terbesar tentang imperialisme pada masanya, dan menulis Kapital Monopoli bersama Sweezy.

Dalam kritik terhadap ‘Marxisme Barat’, pada dua Marxis Arab terkemuka kita bisa mengambil pelajaran; Sadik Jalal al-Azm dan Mahmud Amin al-Alim. Tanpa memberikan label geografis dan diskusi ekstra diskursif, kritikannya diletakan dalam kotak-kotak yang konkrit tanpa harus mengkotak-kotakan Marxisme dan memaksakan penggunaan istilah ‘Marxisme Arab’.6 6

Yang tersisa di hari ini, apabila kita tak ingin mengambil pelajaran yang Losurdo tawarkan tentang melahirkan kembali Marxisme Barat, adalah selalu memberikan ruang, di antara teori-teori (berbasis praktik) yang tak pernah berhenti diproduksi, pada pertanyaan besar yang dahulu Lenin kemukakan: Apa yang harus dilakukan?

Daftar Pustaka

Al-Azm, Sadik Jalal. (1990) Tsalat Muhawaraat Falsafiyyah; Difaan ‘an al-Maddiyah wa al-Tarikh. Dar al-Fikr al-Jadid.

Al-Alim, Mahmud Amin (1972) Markyuz aw Falsafah at-Taariq al-Masdud. Mansyuraat al-Adab.

Anderson, Perry. (1979) Consideration on Western Marxism. Verso.

Losurdo, Dominico. (2024) Western Marxism: How it was Born, How it Died, How it Can be Reborn. Monthly Review Press. (Translated by Stevenn Colatrella with George De Stefano)

Rockhill, Gabriel. (2025) Who Paid the Pipers of Western Marxism? Monthly Review Press.

https://jacobin.com/2024/11/western-marxism-philosophy-theory-review,

https://jacobin.com/2024/06/frankfurt-school-marcuse-adorno-theory,

https://jacobin.com/2026/04/review-rockhill-western-marxism-cold-war,

https://www.historicalmaterialism.org/article/theory-betrayed-an-essay-on-gabriel-rockhills-who-paid-the-pipers-of-western-marxism-part-one/.

Monthly Review Vol. 77 (2025–2026), No. 09 (February 2026)https://monthlyreview.org/articles/western-marxism-and-the-myth-of-capitalisms-adamantine-chains/#en14

Monthly Review Vol. 76 (2024–2025), No. 06 (November 2024)https://monthlyreview.org/articles/the-new-denial-of-imperialism-on-the-left/

Monthly Review Vol. 77, No. 10 (March 2026)https://monthlyreview.org/articles/french-theory-in-the-intellectual-cold-war/

Monthly Review March 2025 (Volume 76, Number 10)https://monthlyreview.org/articles/western-marxism-and-imperialism-a-dialogue/

  1. Lihat misalnya, https://jacobin.com/2024/11/western-marxism-philosophy-theory-review, https://jacobin.com/2024/06/frankfurt-school-marcuse-adorno-theory, https://jacobin.com/2026/04/review-rockhill-western-marxism-cold-war, dan https://www.historicalmaterialism.org/article/theory-betrayed-an-essay-on-gabriel-rockhills-who-paid-the-pipers-of-western-marxism-part-one/

  2. Horkheimer mengecam pemerintah Soviet karena dinilai mengabaikan idealisme Marxis tentang penghapusan/pelenyapan negara. Horkheimer merasa kecewa karena para pemimpin Soviet malah berfokus pada pembangunan industri yang dipercepat di tanah air mereka yang terbelakang. 

  3. Heidegger mengatakan: “Satu-satunya hal menarik pada kehidupan personal seorang filsuf adalah: dia lahir begin dan begitu, dia bekerja lalu mati.” Pernyataan ini ia lontarkan saat pembukan kuliahnya tentang Aristoteles. Dalam Bahasa Rockhill, ini adalah fetisme komoditas intelektual. Kondisi materil kerja seorang filsuf, sebagaimana personal dan kenyataan hidupnya, dianggap tidak relevan. Kecuali tanggal lahir dan matinya. Yang penting dan relevan hanyalah produk intelektualnya. 

  4. Rockhill menempatkan kata “imperialisme” dalam arti yang paling luas, sebagai proses pembentukan dan penegakan transfer nilai sistematis dari wilayah-wilayah tertentu di dunia, yaitu Global Selatan, ke wilayah lain (Global Utara), melalui ekstraksi sumber daya alam, penggunaan tenaga kerja gratis atau murah, penciptaan pasar untuk menjual komoditas, dan banyak lagi. Proses sosioekonomi ini telah menjadi kekuatan pendorong di balik keterbelakangan sebagian besar planet ini dan perkembangan pesat inti imperialis, termasuk industri produksi pengetahuannya. Di dalam negara-negara imperialis terkemuka, hal ini telah melahirkan suprastruktur imperialis, yang terdiri dari aparatus politik-hukum negara dan sistem material produksi, sirkulasi, dan konsumsi budaya yang dapat kita sebut, mengikuti Brecht, “aparatus budaya.” Industri produksi pengetahuan yang dominan di inti imperialis merupakan bagian dari aparatus budaya negara-negara imperialis terkemuka. 

  5. Setelah wawancaranya yang memuat pesan kehati-hatiannya terhadap Rockhill mengenai ‘kecaman mutlak’ dan ‘kritik’, terutama terhadap Marcuse—seseorang yang punya pengaruh dalam diri Foster, dan kehati-hatiannya terhadap penggunaan istilah Marxisme Barat, ia menulis dua artikel penting; tentang posisinya terhadap kiri baru yang mula meninggalkan teori imperialisme, dan tentang Marxisme Barat dan Mitos Belenggu Kapitalisme Adamantine. Dalam artikel pertama, secara khusus ia mengomentari tesis kedua tradisi Marxis Barat. Hanya saja, pada orang-orang yang meninggalkan teori imperialisme, Foster menggunakan istilah Marxis/Kiri Eurosentrisme. Dalam artikel kedua, ia juga secara gamblang menggunakan istilah Marxisme Barat dan secara khusus mengkritik Marcuse dan Adorno. Kemudian pada bulan Maret lalu, Foster memberikan pengantar pada buku Rockhill yang baru mengenai Teori Prancis dan keterkaitannya dengan Perang Dingin. 

  6. Dalam wawancaranya bersama Qaysar yang dimuat menjadi sebuah buku, al-Azm memberikan pembelaannya terhadap Materialisme dan Sejarah dan mengkritik Marxisme dan Filsafat ‘kekinian’ yang meninggalkan Materialisme. Ia tak segan-segan menyifati pengetahuan modern sebagai pengetahuan yang borjuis. Ia juga secara terang-terangan memperlihatkan ketidaksetujuannya pada Marxisme yang dicampurkan pada filsafat lain. Sementara al-Amin, dengan bertolak dari krisis pemikiran kontemporer di Arab secara umum yang, salah satunya, didasari atas penerimaan filsafat Sartre, Bergson, dan terutama Marcuse, memberikan kritik terhadap pemikiran Marcuse dan memberikan label filsafatnya sebagai filsafat jalan buntu. 

Diupdate:

Tinggalkan komentar