9 menit baca

شَهْرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٍ مِّنَ ٱلْهُدَىٰ وَٱلْفُرْقَانِ ۚ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ ٱلشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا۟ ٱلْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Al-Quran sebagai pedoman utama masyarakat muslim, disebutkan turun pertama kali pada malam Lailatul Qadr di bulan Ramadan. Hal itu dipertegas oleh al-Quran sendiri dalam surat al-Baqarah ayat 185, surat al-Qadr, surat ad-Dukhan ayat 3-4 atau surat al-Anfal ayat 41. Logika yang masyhur dalam masyarakat muslim kebanyakan, bahwa proses penurunan al-Quran yang terjadi di bulan Ramadan ini merupakan fase pertama. di mana al-Quran diturunkan dari Lauhul Mahfudz ke Baitul Izzah di langit dunia secara daf’ah wahidah atau dalam bentuk yang utuh.

Hal tersebut didasari oleh penafsiran Ibnu Abbas tentang ayat-ayat Nuzulul Quran, yang mengatakan bahwa maksud dari ayat-ayat tersebut adalah fase pertama al-Quran diturunkan. Sedangkan sampainya al-Quran kepada nabi yang dibawa oleh Jibril merupakan fase kedua, yang prosesnya berangsur-angsur selama 23 tahun. Selama periode klasik hingga akhir abad 19 penjelasan tentang Nuzulul Quran lebih menitikberatkan pada ragam teori teologi metafisik. Bahwa fenomena turunnya al-Quran adalah kejadian sakral yang tidak akan pernah mampu dinalar oleh manusia. Namun para pemikir kontemporer abad 20 akhir hingga sekarang, mencoba lepas dari penafsiran metafisik dan berupaya melakukan penafsiran kontekstual dengan menggunakan pendekatan metodologi baru. Seperti yang dilakukan oleh pemikir Damaskus, Syiria bernama Muhammad Syahrur, yang menggunakan pendekatan saintifik-linguistik dalam memahami fenomena Nuzulul Quran. Ia beranggapan bahwa teori-teori ilmiah yang berkembang begitu pesat di masa sekarang mampu mengandaikan ilustrasi proses penurunan al-Quran secara teoretis non-teologis.

Dalam meneorisasi tahapan proses penurunan al-Quran, Syahrur membedakan antara istilah Inzal ( إنزال ) dan Tanzil (تنزيل ) karena di dalam al-Quran sendiri frasa yang digunakan dalam ayat-ayat Nuzulul Quran berbeda-beda. Misal pada surat al-Baqarah ayat 185 ( أُنزِلَ فِيهِ ٱلْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ ) surat al-Qadr ( إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ ) surat Yusuf ayat 2 ( إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ ), tiga ayat tersebut menggunakan frasa Inzal. Namun dalam surat al-Insan ayat 23 ( إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ تَنْزِيلًا ) menggunakan Frasa Tanzil. Bagi Syahrur perbedaan frasa ini tidak bisa dianggap hanya perbedaan gramatikal saja, tanpa mempertimbangkan makna yang terkandung dalam perbedaannya. Oleh karena itu Syahrur mendefinisikan sendiri istilah Inzal dan Tanzil. Dan dalam menjelaskan esensi dan hal pembedanya, Syahrur mengaitkannya pada fakta empirik masa sekarang.

Dengan pembacaan teoretis al-Quran sebagai konsep linguistik; yaitu komunikasi metafisik yang terekspresikan dengan bahasa tertentu, Syahrur mengatakan bahwa Tanzil adalah proses penurunan al-Quran secara subtansial di luar kesadaran dan pengetahuan manusia, sedangkan istilah Inzal adalah proses penurunan al-Quran dalam bentuk materi-fisik di luar kesadaran dan pengetahuan manusia; dari yang tidak bisa diketahui menjadi dapat diketahui, yaitu sudah masuk dalam medan pengetahuan manusia.

Syahrur menganalogikannya dengan teknologi live streaming yang sudah lumrah di masa sekarang. Syahrur mencontohkan bahwa pertandingan sepak bola yang sedang berlangsung di negara Brazil, dapat ditonton langsung oleh rakyat Syiria yang berbeda benua dengan Brazil melalui teknologi live streaming. Sebagaimana lumrah diketahui, bahwa aktivitas live streaming bisa terjadi dengan beberapa syarat. Pertama, harus ada pertandingan secara aktual yang kemudian direkam dan dikonversikan ke dalam gelombang radio elektromagnetik. Melalui satelit, gelombang elektromagnetik dipindahkan dan ditangkap oleh alat penerima gelombang yang ada dalam perangkat televisi. Dan yang terakhir, dikonversikan kembali menjadi suara dan gambar sehingga dapat disaksikan oleh masyarakat Damaskus.

Perubahan suara dan gambar menjadi gelombang elektromagnetik dan ditranformasikan ke Damaskus melalui satelit inilah yang disebut proses Tanzil. Menurut Syahrur, karena hal tersebut terjadi di luar kesadaran manusia. Adapun proses konversi dari gelombang elektromagnetik menjadi suara dan gambar dalam perangkat televisi adalah proses Inzal. Karena hal tersebut merupakan proses perubahan dari sesuatu yang tidak dapat diketahui oleh manusia yaitu gelombang, menjadi sesuatu yang dapat diketahui oleh manusia dan masuk dalam medan pengetahuan manusia, yaitu berupa gambar dan suara. Satu hal yang harus digaris bawahi adalah proses live streaming ini tidak akan pernah dapat dilakukan jika tidak ada pertandingan serta unsur-unsur penting di dalamnya. Sehingga adanya pertandingan, para pemain, wasit, petugas pertandingan secara aktual menjadi syarat mutlak terjadinya fenomena live streaming.

Pengertian dan pemahaman yang sama ketika membaca dan memahami istilah Inzal dan Tanzil dalam peristiwa Nuzulul Quran. Proses Inzal dan Tanzil tidak bisa terjadi jika al-Quran belum ada sebelum proses tersebut. maka secara logika umum, adanya al-Quran menjadi sarat mutlak terjadinya proses Inzal dan Tanzil. Namun, bentuk al-Quran sebelum proses Inzal dan Tanzil tentu berbeda dengan bentuk al-Quran yang ada di hadapan masyarakat muslim sekarang. Karena al-Quran adalah perwujudan kalam Allah sebagai Tuhan seluruh umat manusia, maka al-Quran harus terbebas dari segala keberpihakan. Sehingga al-Quran yang sekarang ada di hadapan umat manusia, yang berbahasa Arab, menurut Syahrur adalah hasil dari proses Inzal dan Tanzil. Sebuah upaya Syahrur dalam membersihkan al-Quran dari isu ideologi, ras, atau suku tertentu.

Sekitar tiga halaman lebih Syahrur menjelaskan bagaimana peralihan bentuk al-Quran yang berada di Lauhul Mahfudz menjadi bentuk al-Quran yang diturunkan di malam Lailatul Qadr. Menurut Syahrur bentuk al-Quran ketika berada di Lahul Mahfudz adalah murni pengetahuan Allah. pengetahuan Allah adalah jenis pengetahuan abstraksi tertinggi yang tidak mungkin diketahui dan dipahami oleh manusia. Syahrur mengumpamakan pengetahuan Allah seperti ilmu kuantitatif murni, yaitu melampaui angka biner dalam teknologi digital. Di mana angka-angka abstrak bertebaran di atas bumi tanpa diketahui manusia sebelum ditangkap dan dikonversikan dalam bentuk teks, suara atau gambar. Al-Quran yang ada di Lahul Mahfudz adalah rumusan abstrak murni yang tidak mampu dijangkau oleh kemampuan akal manusia.

Ketika Allah ingin menurunkan al-Quran kepada manusia, maka bentuk al-Quran harus diubah melalui proses Inzal. Ia harus berbentuk sesuatu yang dapat dipahami oleh manusia. Syahrur mengatakan bahwa dalam istilah Inzal mengandung dua proses; proses Ja’ala ( جعل) dan proses Inzal ( أنزل ). Peralihan dari rumus abstrak murni menjadi rumus Arab murni diistilahkan dengan lafad Ja’ala ( جعل ) dalam al-Quran ( إِنَّا جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ ). Perubahan dalam proses Ja’ala belum membentuk al-Quran yang bisa dipahami oleh manusia, sehingga dibutuhkan proses Inzal untuk mengubah dari rumus Arab murni menjadi bentuk linguistik bahasa Arab ( إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ ). Maka proses Inzal adalah aktifitas mengonversi rumusan yang tidak dapat dipahami menjadi rumusan yang bisa dipahami oleh umat manusia. rumusan tersebut berbentuk linguistik bahasa Arab yang kita ketahui hari ini. Ialah bentuk al-Quran ketika berada di langit dunia yang diturunkan pada malam Lailatul Qadr.

Tahapan selanjutnya, yaitu penurunan al-Quran dari Baitul Izzah kepada nabi Muhammad selama 23 tahun dinamakan proses Tanzil. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, istilah Tanzil adalah proses penurunan al-Quran secara substansial di luar kesadaran dan pengetahuan manusia. Al-Quran yang sudah dalam bentuk linguistik bahasa Arab diturunkan secara bertahap dari langit dunia melalui perantara Jibril kepada Nabi Muhammad dengan metode shautiyah. Kemudian oleh nabi disebarkan dan diajarkan kepada sahabat-sahabatnya. Al-Quran mulai dihafalkan dan dikodifikasi oleh para sahabat-sahabat nabi, tabiin, umat muslim hingga sampai di hadapan kita sekarang.

Dengan pemahaman seperti ini, Syahrur menggugat para pemikir klasik yang mencetuskan istilah “Asbabunnuzul” dalam menjelaskan korelasi peristiwa-peristiwa di zaman nabi dengan penurunan sebagian ayat-ayat al-Quran. Karena bagi Syahrur, jika menggunakan istilah “asbabunnuzul” memiliki konsekuensi bahwa turunnya al-Quran disebabkan oleh peristiwa-peristiwa tersebut. Sedangkan sudah disepakati dan diyakini bersama bahwa al-Quran sudah diturunkan dalam bentuk utuh ke langit dunia pada malam Lailatul Qadr. Maka Syahrur menawarkan istilah baru, yaitu “Munasabatunnuzul” untuk menggantikan istilah “Asbabunnuzul”. karena istilah tersebut dirasa lebih cocok dan lebih merepresentasikan pemahaman yang diyakini bersama selama ini.

Gugatan-gugatan serupa juga ditemukan di berbagai karya Syahrur. Ia termasuk pemikir yang menolak sinonimitas dalam sebuah bahasa, sehingga ia meredefinisi semua istilah-istilah yang dianggap sama, yang di zaman klasik tidak memiliki makna khusus. Metode Syahrur dalam upaya merevitalisasi penafsiran al-Quran dengan menganggap bahwa al-Quran diperuntukkan kepada semua umat manusia lintas zaman. Bahwa al-Quran dapat dipahami lewat kondisi peradaban masing-masing tanpa harus ewuh pakewuh pada peradaban sebelumnya, dengan memperlakukan al-Quran seperti halnya baru diturunkan. Sehingga saat kemunculan karya kontroversialnya yang berjudul “Al-Quran Wa al-Kitab” menurut Peter Clak cukup membuat dunia arab terguncang.

Pendekatan saintifik-linguistiknya Syahrur, seperti kebanyakan produk pemikiran pos-modernisme lainnya—yang juga menjadi karakteristik pos-modernisme—yakni menolak penafsiran dominan dan berusaha memberikan alternatif penafsiran yang lain banyak mempengaruhi pemikiran-pemikiran Syahrur. Syahrur dengan model dekonstruksi Derrida berusaha mendobrak produk pemikiran klasik yang dianggap sudah ‘mapan’ atau ‘sakral’. Syahrur berusaha mengabaikan sisi-sisi transenden al-Quran, dan menempatkan al-Quran sebagai objek penelitian murni. Hal serupa yang dilakukan Toshihiko Izutsu dalam memahami Wahyu Ilahi, Ia berusaha mengonsepsikan Wahyu Tuhan yang di zaman klasik cenderung bersifat metafisik, dengan secara teoretis non-teologis.

Posisi al-Quran dalam kacamata Syahrur sebagai konsep linguistik, dapat diartikan bahwa al-Quran sebagai manifestasi bentuk komunikasi antara dua entitas dari level wujud yang berbeda, di mana pihak pertama dari level yang lebih tinggi ( Allah ) memilih menyesuaikan dengan bahasa yang dipakai dan dipahami oleh pihak kedua atau audiens pertama (Nabi Muhammad) (Inzal). Komunikasi tersebut adalah komunikasi rahasia antara Allah dan nabi Muhammad. Namun karena tugas utama nabi Muhammad menyampaikan risalah, maka komunikasi tersebut menjadi konsumsi publik (Tanzil). Teori Inzal dan Tanzil adalah sebuah jembatan untuk menghubungkan antara Allah yang merepresentasikan alam metafisik yang lebih tinggi dengan umat manusia yang merepresentasikan alam fisik.

Diupdate:

Tinggalkan komentar