6 menit baca

Ada perbedaan makna yang terjadi antara mengapa dan bagaimana pada persoalan perempuan, khususnya ketika berkaitan dengan eksploitasi, marginalisasi dan seterusnya. Implikasi pada pertanyaan “mengapa” adalah selubung tipu daya — pembungkaman fakta atas apa yang terjadi pada perempuan hari ini. Melalui jejaring ideologi dan dominasi, pengetahuan dan kultur kebudayaan telah dikuasa-ciptakan oleh sistem-budaya kapitalisme — yang barangkali bisa dikatakan terlambat ketika baru disadari hari ini. Penekanannya terletak pada ketidaksadaran manusia modern atas apa yang terjadi pada kondisi sosial sekitarnya. Sedangkan pertanyaan kedua justru sebaliknya. Pertanyaan “bagaimana” mengandaikan konsep, proses dan hasil yang perlu kita selidiki. Sehingga, muncul pertanyaan-pertanyaan selanjutnya; Seperti apa perempuan dipasung dalam wacana kapitalisme? Pertanyaan ini — juga pertanyaan yang akan diajukan selanjutnya — adalah pertanyaan analisa yang perlu diulas secara tuntas.

Diksi “ayat” dalam judul di atas, setidaknya, memiliki padanan makna yang lain; tanda (sign), kode (code), sistem dan konsep. Penggunaan ini memang memiliki tujuannya sendiri, yakni berupaya membaca perempuan dalam medan bahasa. Perempuan — di samping sebagai manusia seutuhnya — dilihat, dipahami, diselidiki pada samudera tanda dan kode untuk melihat efek dan dampaknya. Ia berkaitan dengan nilai, maksud dan tujuan. Dalam struktur fisik misalnya, aksis tanda (tubuh, wajah, tangan dan seterusnya) bisa kita analisis dalam relasinya dengan sistem kapitalisme yang berkembang. Dan, oleh karena itu, tulisan ini akan menyajikan bagaimana ayat-ayat perempuan ‘direnungkan’ melalui analisis semiotika, khususnya melalui pembacaan pascastrukturalis oleh beberapa tokoh semiotik.

Namun, di satu sisi, kesulitan terbesar atas pembicaraan terkait perempuan — termasuk juga gender dan seksualitas — adalah terperangkapnya dominasi laki-laki. Kita bisa lihat akhir-akhir ini bahwa pembicaraan tentang perempuan selalu dikuasai oleh laki-laki. Bahkan, kehendak, emosi dan perilaku perempuan direduksi oleh ucapan subjektif laki-laki. Adakah semacam toleransi, simpati kepada simbol perempuan — yang barangkali atas dasar penindasan-penindasan? Atau, bukankah ini semacam legitimasi (dan lagi-lagi terjebak pada pembatasan dalam ketakterbatasan) atas ideologi man dominated world? Oleh sebab itu dalam upaya berbicara sedikit mengenai perempuan, penulis meminta maaf sebesar-besarnya kepada kaum perempuan yang mungkin direpresentasikan perasaannya di sini secara palsu dan naif.

Perempuan sebagai Komoditi

Setidaknya, kita bisa memberikan gugatan kepada kebudayaan modernitas atas bagaimana sistem kapitalisme itu bekerja, kawin dan beranak pinak dengan berbagai relasi-relasi di sekitarnya, selain bahwa kapitalisme lahir dalam sistem ekonomi politik liberalisme. Ia mampu untuk beradaptasi terhadap perkembangan zaman, bahkan menciptakan zaman itu sendiri. Kapitalisme telah menciptakan realitas di luar realitas yang ada nan sejati. Apa yang disebut Baudrillard sebagai dunia simulasi hari ini tidak lepas dari kekuatan gaib kapitalisme. Realitas — yang menunjukkan dunia ada-sekarang — telah dirubah-bentukkan menjadi dunia hiper realitas (realitas buatan, melampaui realitas). Tanda, kode dan makna diformulasi sedemikian rupa untuk menciptakan struktur dan konsep kebudayaan baru atas nama modernitas. Dari sinilah era simulasi muncul dan berkembang. Manusia tidak hanya dibebaskan memilih kehendak atau keinginannya sendiri tetapi juga diberi peluang besar untuk menciptakan penampakan simulasi. Hiper realitas — barangkali bisa kita sederhanakan dengan — adalah dunia parodi (Yasraf Amir, Semiotika dan Hiper Semiotika).

Proses decoding (pemaknaan, pemahaman) dalam perempuan bisa dimulai dari setelah terciptanya dunia simulasi. Kapitalisme mengadakan bentuk teater kehidupan yang memiliki efek dan dampak besar, khususnya kepada perempuan. Dalam ekonomi politik kapitalisme misalnya, menurut Yasraf, adalah sejarah pemenjaraannya sebagai tanda atau fragmen-fragmen tanda (Yasraf Amir, Dunia Yang Dilipat, 2020). Perempuan dilepaskan dari tanda dan relasinya dalam keautentikan budaya tradisional dan dipenjarakan dalam rimba ekonomi-politik yang diciptakan oleh sistem kapitalisme. Artinya, komoditisasi perempuan telah masuk pada ranah kesadaran dalam bentuk tanda, kode dan makna. Kita bisa lihat bagaimana perempuan dieksplorasi dengan beragam cara dalam permainan tanda. Dengan pembagian menurut relasinya masing-masing, perempuan diarahkan pada simbol-simbol yang mampu menghasilkan makna pasar yang diinginkan.

Proses sebaliknya, encoding (Penciptaan) atas perempuan erat kaitannya dengan bagaimana tanda, citra, imaji dan identitas perempuan diproduksi di berbagai media. Bahasa, teks dan tanda dalam diri perempuan meliputi wajah, mata, bibir dan juga konsep-konsep seperti liar, patuh, agresif dan seterusnya. Mediaisasi — atas dasar kebohongannya terhadap publik — adalah faktor paling subtil dalam proses encoding ini. Perempuan diselubungi oleh konsep-konsep kapitalistik tanda. Bahwa kapitalisme menjadikan perempuan alat untuk pertukaran tanda, dan selanjutnya, juga mengeksplorasi tanda-tanda, khususnya kekuatan tanda, bahasa tubuh dan fetisisme tubuh.

Bukan tidak mungkin, pada masa-masa yang akan datang bahwa kekuatan produksi simbol yang dicipta-bentukkan oleh sistem kapitalisme akan berkembang ke arah yang terduga. Dari sini kita bisa memahami bagaimana kecemasan dan kekhawatiran perempuan atas eksploitasi yang terjadi, bahwa di sisi lain, gerakan-gerakan perempuan menemukan momentumnya. Feminisme, barangkali, berupaya untuk meredam — untuk tidak dikatakan menghapus, merobohkan — geliat produksi tanda atas nama perempuan. Sehingga, bisa dikatakan bahwa gerakan-gerakan seperti feminisme tidak bisa dianggap sebagai utopia — pun meskipun ada sebagian tokoh yang menolaknya akhir-akhir ini. Lalu, bagaimana peran perempuan di tengah meruyaknya kapital tanda dalam sosial kebudayaan?

Revolusi Semiotis

Bagi Julia Kristeva, pertanyaan tentang peran sosial perempuan adalah pertanyaan tentang reposisi tanda-tanda. Atas dasar bahwa represi yang dilakukan oleh masyarakat patriarki adalah masalah konstruksi sosial dan kultural masyarakat patriarki ideologis, bukan semata melihat hakikat perbedaan yang bersifat given (pemberian). Konsep-konsep dominan atas gender dan seksualitas perlu dibaca ulang. Sebab hal ini menimbulkan pergulatan subjek gender.

Apa yang diinginkan oleh Kristeva adalah semacam pemberian kebebasan terhadap perempuan untuk menentukan tanda, kode dan makna di medan arena semiotik. Sebab, pertarungan yang dihadapi oleh para pasca strukturalis adalah kebebasan atas konsep-konsep yang satu, utuh dan bersifat oposisi biner. Berbeda dengan semio-kapitalisme yang menciptakan perempuan hanya pada satu makna yang utuh dan sama. Medan arena perempuan hanya dipusatkan pada kode; kecantikan, keseksian, kemanisan, kevulgaran dan seterusnya. Pada titik inilah, pertentangan antar dua kubu tersebut terjadi. Yang ingin diperjuangkan oleh kaum feminisme moderat (sebagai istilah yang lebih sesuai ketimbang yang disebut Yasraf dengan kaum (feminisme) puritan) adalah persamaan hal dan peran dalam bidang sosial, ekonomi dan kebudayaan, bukannya mencari kekuasaan dan anarki dalam seksualitas. Emansipasi, persamaan hak dan peran sosial seperti inilah yang sesungguhnya diperjuangkan Kartini di Indonesia, bukannya keliaran citra, penampilan dan seksualitas. (Yasraf Amir, Dunia Yang Dilipat, 2020).

Kritis Feminisme tidak hanya ditujukan pada ‘kesadaran patriarki’, tapi juga ‘kesadaran kuasa-atas’ sebagai titik tolaknya. Meskipun bisa diperdebatkan mengenai jejaring yang melingkupinya, akan tetapi ‘kuasa-atas’ mengandaikan variabel-variabel yang beragam. Kuasa-atas-ekonomi, politik, sosial dan seterusnya. Sehingga, demokratisasi suara dan persamaan dalam upaya menjelaskan, memperlihatkan dan mempertontonkan perempuan sebagai subjek yang berdiri di atas kakinya sendiri masuk pada upaya semiotis; suatu proses untuk menciptakan tanda, kode dan makna dari cengkeraman kuasa-atas.

Diupdate:

Tinggalkan komentar