Bagai upacara bendera di tengah padang pasir, kunjungan Presiden Prabowo bertanggal 17 Desember 2024 di Mesir menjadi tontonan ganjil yang mengundang tepuk tangan sekaligus geleng kepala. Di satu sisi, ia adalah simbol tertinggi negara; di sisi lain, terlihat absurditas relasi antara kekuasaan dan elemen diaspora mahasiswa yang kehilangan arah. Sebagian besar mahasiswa berkerumun mengelu-elukan rombongan istana dengan senyum mengembang, bahkan berebut berjabat tangan hingga membuat salah satu masyayikh Al-Azhar hampir terjatuh, sementara sebagian yang lain berbisik lirih di obrolan WhatsApp: “sangat memalukan, berebut tangan ber__lumuran darah.”
“Memangnya kita tidak boleh menyambut presiden yang sedang berziarah?” Kalimat ini sering muncul, retoris dan pasrah. Seolah menyambut pemimpin negara adalah tindakan netral—padahal dalam politik tiada yang benar-benar netral. Bahkan diam pun adalah sikap. Dan di sinilah luka itu menganga: kesadaran politik Mahasiswa Indonesia di Mesir (selanjutnya disebut Masisir) yang tumpul, tercerabut dari konteks dan sejarah. Ada yang sibuk kuliah dan talaqqi, ada yang sibuk organisasi, ada pula yang sibuk memproduksi konten dakwah—tapi hanya sedikit yang mengkaji: Bagaimana semestinya mahasiswa melek kondisi sosial-politik?
Sepulang presiden dari ziarahnya di Mesir, isu nasional justru makin gaduh: efisiensi anggaran, UU TNI, dan banyak lainnya yang jelas mengancam rakyat kecil. Gemuruh mahasiswa di Indonesia untuk turun ke jalan semakin menderu, sedangkan di sini, Masisir masih saja diam membisu. Hingga akhirnya pada 8 April 2025, koalisi rakyat sipil yang berisikan berbagai komunitas Masisir menginisiasi forum diskusi terbuka berjudul “5W1H Situasi Politik Rakyat Indonesia.”[1]
Forum ini tak lain merupakan wadah bagi Masisir untuk berjejaring dan menyuarakan keresahan terhadap kondisi Indonesia hari ini. Bukan sekedar forum, tapi semacam ruang pengakuan dosa kolektif: dosa karena terlalu lama diam, dosa karena menganggap politik adalah urusan orang lain. Forum “5W1H” diharapkan bisa merawat kesadaran Masisir bahwa segala lini kehidupan tak ada yang benar-benar lepas dari politik. Oleh karena itu, kita berhak marah dan protes ketika pemerintah membuat kebijakan yang merugikan rakyat. Masisir datang bukan karena diundang, tapi karena merasa terpanggil. Tempat acara sesak oleh protes-protes yang terakumulasi dalam setiap kepala yang datang di forum.
Apakah Masisir Berhak Mengkritik Pemerintah?
Meskipun hampir keseluruhannya adalah mahasiswa pembelajar ilmu agama, Masisir tetaplah mahasiswa yang berkewajiban mengawal isu-isu sosial di sekitar. Atau, jika ingin dilihat dari kacamata agama, bukankah Islam sendiri datang ingin menumbangkan tirani serta penindasan yang ada? Misalnya, praktik mengubur bayi perempuan yang baru saja lahir, atau praktik ekonomi yang dimonopoli sehingga menciptakan konflik kesukuan di masa jahiliyah dahulu. Rasulullah hadir berbekal wahyu ilahi untuk melepaskan belenggu-belenggu ketidakadilan. Dapat dipahami bahwa belajar agama bukan saja ingin menjadi ahli dalam tafsir, hadis, ataupun akidah, melainkan juga harus memiliki kepekaan sosial dan kesadaran politis sebagaimana apa yang telah dilakukan Rasulullah. Bukankah kita ingin meneladani Nabi kita secara kaffah?
Dalam konteks menjadi seorang muslim, mengutip Asghar Ali Engineer, apabila seseorang sudah bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah (laa ilaha illa Allah), maka siapapun harus mempunyai kesadaran bahwa tiada seorang pun manusia berhak bertindak sewenang-wenang, apalagi menindas rakyat kecil—hanya Allah, Tuhan maha segala. Konsekuensi dari syahadat bagi seorang muslim adalah ia harus aktif turut serta memperjuangkan keadilan untuk semua manusia, bahkan keadilan bagi non-muslim.
Menjadi Masisir yang mempunyai privilage belajar ilmu agama secara mendalam, terlebih bisa belajar di Mesir, seharusnya dapat menyisihkan sedikit ruang—selain tuntutan belajar agama—untuk memerhatikan kondisi sosial sekitar. Apabila ada senior Masisir yang mendoktrin: “kalian di Mesir fokus saja ngaji dan belajar, tidak perlu ikut-ikutan aktivisme”, maka kita patut bertanya: ilmu macam apa yang dipelajari kalau justru menjauhkan diri dari realitas umat?
Kalimat itu mungkin terdengar bijak di permukaan, tetapi sesungguhnya ia adalah bentuk lain dari kealpaan. Seolah-olah ilmu agama itu steril dan terpisah, tidak berkaitan dengan nasib petani yang tanahnya disita, buruh yang upahnya ditekan, atau mahasiswa yang dibungkam. Seolah-olah Rasulullah tak pernah turun ke pasar, tak pernah mengurusi orang miskin, tak pernah protes terhadap kebijakan Quraisy yang menindas.
Menjadi pelajar agama seyogyanya bukan berarti menutup mata dari jeritan sosial. Justru, di situlah letak integritas calon ulama—bukan hanya paham kitab kuning, tapi juga peka terhadap ketimpangan yang terjadi. Apakah kita lupa bahwa dalam sejarah Islam, para ulama yang sejati seringkali menjadi pengkritik paling tajam terhadap penguasa lalim? Masisir harus sadar, bahwa “ngaji” dan “peduli” bukan dua hal yang kontradiktif. Justru keduanya harus saling menguatkan. Mungkin bayangan ideal demikian yang bisa disebut Gus Mus sebagai sholeh ritual sekaligus sholeh sosial.
Penutup
Ketika tulisan ini digarap, saya sedikit gusar melihat media sosial. Di tengah berita nasional yang semakin runyam berseliweran di portal-portal media, Presiden Prabowo dijadwalkan kembali berziarah ke Mesir. Kegusaran pertama, bagaimana respons Masisir terhadap kedatangan presidennya untuk kali kedua ke Mesir? Apakah Masisir masih tetap mengelu-elukan sampai berebut berjabat tangan—terjatuh dan menjatuhkan orang lain—seperti kedatangan Desember 2024?
Setelah hampir 4 bulan semenjak ziarah pertamanya ke Mesir, banyak kebijakan sewenang-wenang telah dibuat pemerintah: perumusan UU yang tidak transparan, pemangkasan di sektor-sektor vital bagi masyarakat, dsb. Kunjungan Desember 2024 di Tanah Para Nabi seakan-akan adalah gerbang pembuka kontroversi. Harapan saya pribadi, melihat panasnya konteks sosial-politik hari ini, juga setelah digelarnya forum diskusi “5W1H Situasi Politik Rakyat Indonesia” beberapa hari yang lalu, agaknya Masisir lebih bisa skeptis dan mengambil sikap tegas terhadap apapun yang berbau pemerintahan.
Kegusaran kedua, saya teringat kunjungan Presiden Soeharto ke Mesir pada 1998 di tengah gejolak demonstrasi di Indonesia. Konteks lebih lanjut bisa dicari dan dikaitkan sendiri oleh pembaca.
[1] Jika ingin membaca laporan forum diskusinya, silahkan mengikuti tautan berikut: 5W+1H Situasi Politik Rakyat Indonesia: Upaya Menumbuhkan Kesadaran Politik Rakyat di Kalangan Masisir - Bedug