Mamsha Ahl Mishr: Melepas Beban Stres di atas Kesengsaraan Orang Lain
Sejak awal tahun 2019, dapat disaksikan rekonstruksi area pedestrian di pinggiran Sungai Nil yang memanjang sejauh 1.8 km dari jembatan 15 Maret hingga jembatan Imbaba. Rekonstruksi ini diselesaikan pada 2021 lalu dan menjadi situs wisata dengan nama yang cukup memikat “Mamsha Ahl Mishr” (Pedestrian Orang-Orang Mesir). Tahun ini tepi-tepian Sungai Nil dari Jembatan 15 Maret hingga Jembatan Qasr al-Nil juga dikerjakan proyek serupa[1]. Kabarnya rekonstruksi area pedestrian ini juga akan dilakukan di sepanjang Nil di kota-kota lain sebagai bagian dari Visi Mesir 2030 di bidang pariwisata.
Dahulu, pedestrian di pinggiran sungai Nil itu telah menjadi situs healing dan rekreasi bagi banyak penduduk. Dari yang muda hingga yang tua. Sejak dulu memang. Tahun pertama kedatangan saya di tanah ini pada akhir 2018, pedestrian ini telah cukup memikat para pemuda dari berbagai kalangan untuk nongkrong secara cuma-cuma di sana. Tempat duduk dan tribun di beberapa titik pedestrian, petak-petak melingkar yang cukup besar, dan kafe-kafe balady (lokal) yang kebanyakan hanya menyediakan kursi-mejanya sendiri. Di beberapa lokasi juga akan ditemukan corniche perahu-perahu dan felukah milik penduduk sekitar. Tak lupa juga iringan musik kafe balady dan perahu-perahu yang tidak pernah membuaikan.
Kini pedestrian itu disulap lebih megah dengan nama “Mamsha Ahl Mishr”. Pedestrian “Orang-Orang Mesir”. Pedestrian di pinggiran Sungai Nil kini sepanjang jalannya telah terpasang lampu-lampu dengan penerangan yang lebih efektif. Air mancur di setiap bundaran Mamsha, patung wanita berair mancur (dewi apalah itu?) dan panggung terbuka. Outlet-outlet restoran dan kafe juga berjejeran di sepanjang pedestrian, seperti Bocharest, Gemini, London Café dan lain sebagainya.
Memang pinggiran sunga Nil dengan adanya Mamsha menjadi tampak lebih maju, dengan berbagai ekonomi hiburan multisegmen. Tentu modal yang dihabiskan negara juga tidak sedikit untuk membuka mungkinnya kemajuan ini. Fase pertama rekonstruksi pedestrian dari jembatan 15 Maret hingga jembatan Imbaba menghabiskan 585 juta Le. Fase kedua berlangsung dari Jembatan 15 Maret hingga Jembatan Qasr al-Nil telah menghabiskan 800 juta Le. Nyatanya, Kemajuan itu sendiri bersifat kontradiktif, jika kita mengamati pedestrian baru itu secara keseluruhan hubungannya dengan detil-detil nafas ‘kehidupan’ Kairo.
Keberadaan Mamsha sebagai wisata dan ruang rekreasi publik dapat dibandingkan dengan taman kota atau “Hadiqah”. Meskipun dalam konteks yang lebih umum lagi, mempertimbangkan keterjangkauan ekonomi dan betapa stressfulnya orang-orang Kairo, dapat juga diperbandingkan dengan kafe-kafe balady. Mari kita demonstrasikan seandainya kita adalah pengunjung Mamsha: Berbeda dari beberapa tahun lalu yang cuma-cuma, ongkos yang harus dikeluarkan kini per-orang 20 Le. Jika kita membawa satu keluarga yang terdiri dari lima orang, maka harus membayar total 100 Le, dengan parkir mobil sebesar 30 Le. Tentu, biaya ini tidak seberapa jika dibandingkan dengan rekreasi lain seperti wahana bermain (malahy) (Ingat bahwa ini adalah kota Kairo yang secara geografis di pedalaman Benua Afrika).
Memasuki mamsha serupa memasuki area bazar. kita dibiarkan begitu saja di antara pamflet-pamflet dan ekspektasi. Sekalipun tanpa niatan untuk mengambil tempat duduk di outlet tertentu, namun kita, tanpa sadar, akan membangun hasrat kita sendiri begitu bersandingan dengan pamflet, ekspektasi, dengan tuturan, sindiran dan lain sebagainya. Hasrat dikonstruksi secara sosial. Hasrat selalu merupakan hasrat orang lain yang diinternalisasikan ke dalam diri kita melalui tuturan, nasihat, sindiran, ekspektasi—singkatnya, melalui bahasa, begitulah kata Slavoj Žižek meminjam analisa Lacan[2]. Kita merasa kurang pada diri kita sendiri, selalu tidak merasa penuh seandainya tidak mengambil tempat duduk di kafe tertentu dan memesan kopi panas layaknya orang lain. Hasrat kita terhadap kopi pada dasarnya adalah hasrat orang lain tentang sesuatu yang ditandai oleh “kopi”, yakni ekspektasi dan tuturan. Segelas kopi setara 70 Le, belum termasuk pajak tempat dan pelayanan kafe tersebut yang total bisa tembus hingga 30%.
Bagi kalangan menengah ke bawah tentu tidak sedikit yang keberatan atas keberadaan Mamsha ini. Begitu mamsha ini diresmikan, beberapa keberatan itu bertebaran di opini publik[3]. Pemungutan ongkos juga memicu komentar di media-media sosial. Sebagaimana Mustafa Bakrie, anggota Majlis al-Nuwwab (Dewan Rakyat) menyatakan kekecewaannya atas pemungutan ongkos tersebut[4]. Bahkan proses pengerjaan Mamsha sendiri mengalami beberapa hambatan, seperti kerusakan fasilitas di kaca-kaca dan penghancuran jalan[5]. Sentimen kemiskinan mungkin menguat, namun melihat kemiskinan secara lahiriah tidak dapat menjelaskan bagaimana sentimen itu secara riil terbentuk. Beberapa pertimbangan diperlukan untuk menjelaskan situasi ini.
Pertimbangan pertama, Mamsha merupakan layanan publik yang diadakan oleh negara. Namun menikmati pesona Sungai Nil mengharuskan setiap orang (bahkan penduduk Mesir) untuk mengeluarkan kantong yang tidak sedikit. Tentu ini sangat memilukan mengingat di dalam nama yang diterakan untuk pedestrian tersebut terdapat “Orang-Orang Mesir”. Hal Ini juga menjadi alasan seorang jurnalis al-Ahram, Muhammad Abdul Tawwab, menulis artikel yang mengingatkan tentang kemungkinan pengadaan Mamsha ini sebagai rehabilitasi citra turisme pada era Mubarak sebelumnya. Jika turisme di era Mubarak dulu menampilkan wajah Mesir bagi wisatawan asing, era El-Sisi ingin menampilkan wajah Mesir bagi orang-orang Mesir itu sendiri. Sekalipun penggusuran terjadi[6] dan pemungutan ongkos terus berlangsung. Dengan kata lain, area di pinggiran Sungai Nil dan corniche-corniche dinasionalisasi dengan pungutan biaya.
Pertimbangan kedua, sirkulasi uang di dalam Mamsha sendiri berputar hanya di beberapa perusahaan yang relatif dapat memberikan pajak yang besar. Menteri Pariwisata Mesir mengemukakan pentingnya Mamsha menjadi ceruk investasi bagi perusahaan-perusahaan hiburan, mencakup kafe-kafe dan restoran[7]. Dampaknya adalah penggusuran kafe-kafe lokal, banyak usaha kafe yang mati dan berpindah di tangga-tangga jembatan dan pinggir-pinggir jalan, tentunya dengan kondisi yang relatif lebih buruk. Kemiskinan individu selalu terbentuk secara kolektif dan struktural mempertimbangkan sirkulasi uang di sebuah masyarakat sebagai keutuhan struktur. Pemiskinan inilah yang dilakukan oleh pihak negara melalui kebijakan dan legalisasi perizinan. Penggusuran juga terjadi di corniche-corniche, penyerobotan lahan di tepian-tepian juga perlu dilakukan terhadap beberapa rumah hunian.
Dua pertimbangan di atas menjelaskan cara kerja kontradiksi dalam Mamsha hubungannya dengan orang-orang Mesir, khususnya kelas pekerja. Sederhananya, orang-orang bekerja demi membangun kemandirian untuk dirinya dan orang-orang lain secara kolektif dan sosial, termasuk di dalamnya adalah membangun ekonomi negara. Sebagai gantinya mereka memperoleh upah yang terbatas pada pemenuhan subsistensi untuk bertahan hidup. Di sisi lain, stres dan beban yang harus mereka tanggung selama bekerja membuat mereka perlu mereproduksi tenaga kerja yang mereka miliki agar dapat bekerja di hari-hari berikutnya. Akan tetapi ongkos untuk reproduksi itu sendiri, yang salah satunya adalah rekreasi di Sungai Nil yang notabene dimiliki bersama dalam perlindungan negara, ternyata membutuhkan penyisihan upah yang cukup banyak dari kantong yang telah mereka kumpulkan dari kerja-kerja mereka. Ini adalah kontradiksi produksi dan reproduksi.
Pembaca sekalian boleh saja memberikan saran agar pekerja lebih baik berekreasi di taman atau kafe saja. Akan tetapi perlu dipikirkan kembali, sejak kapan Mamsha Ahl Mishr dimiliki oleh segelintir orang saja? Komodifikasi Sungai Nil melalui berbagai varian penggusuran dan penyerobotan merupakan salah satu bentuk perampasan akumulasi primitif[8] oleh Negara di bidang perekonomian ‘hiburan’. Orang-orang dirampas penguasaannnya atas lahan dan sarana produksinya untuk kemudian bekerja kepada pihak Negara atau pihak-pihak yang dilindungi oleh Negara, kepada siapapun yang telah memegang secara penuh rampasan tersebut. Negara sendiri juga bersifat kontradiktif, karena alih-alih fungsinya sebagai pelindung dan agregator bagi semua kalangan, mereka justru melakukan penggusuran dan memberikan perlindungan hanya untuk perusahaan-perusahaan yang ‘besar’, yang dapat memberikan uang pajak yang sebanding dengan nominal yang mereka inginkan.
Sungai Nil yang seharusnya dimiliki publik, melalui perampasan oleh Negara, pada kenyataannya membuat orang-orang harus membeli sesuatu dari Sungai yang seharusnya mereka miliki agar mereka dapat menikmatinya. Perampasan ruang publik ini berakibat fatal pada penjaja kopi dan kafe-kafe kecil yang mencari penghidupan sebelum Mamsha Ahl Mishr ini ada. Mereka terpaksa untuk berpindah ke pinggir jalan dengan “demand” yang relatif jauh lebih sedikit atau, karena modal mereka yang terkikis mengecil sehingga mereka kalah dalam persaingan dan beralih ke pekerjaan lain.
Perampasan ruang publik ini juga mulai digalakkan di beberapa situs rekreasi lain, seperti taman kota, misalnya Hadiqah Thifl atau Hadiqah Istana Abdeen, yang mulai menggusur penjaja kopi dan kafe-kafe kecil. Sebentar lagi, tempat melepas lelah adalah Starbuck, Costa, Bocharest yang berjejer-jejer di depan mata kita, atas nama perlindungan Negara. Apa yang tersisa untuk meringankan stres yang ditanggung oleh kelas pekerja: Kafe Balady dan obat pening 123.
Bonus video menarik: لمين الحكومة بتعمل ممشي أهل مصر
Catatan Akhir
[1] https://sis.gov.eg/Story/158795/Mamsha-ahl-Masr-?lang=en-us
[2] Slavoj Žižek, The Ticklish Subject: The Absent Centre of Political Ontology (London: Verso, 1999), 109. Sebagai pengantar lihat: Slavoj Žižek dan Pembentukan Identitas Subjektif Melalui Bahasa – IndoPROGRESS dan Jacques Lacan - the seminars of Jacques Lacan
[3] Kementrian yang komentar. Juga menjadi pembahasan panas di media sosial seperti facebook dan reddit. Misalnya Facebook dan Min chargeممشى اهل مصر و : r/Egypt (reddit.com)
| [4] (2) مصطفى بكري on X: “من إمتي المشي علي النيل بقه بفلوس ، الناس فرحت بممشي أهل مصر وبعدين يقال لهم الممشي يبدأ بعشرين جنيه ، أرجو من رئيس الحكومه أن يتدخل لإلغاء القرار ، ده نيل الشعب المصري ومن حق الناس إنها تتمتع بلحظات من حياتها ، تفك عن نفسها وتشوف نيل بلدها لأنها مخنوقه في البيوت” / X (twitter.com) via [بدأت بانتقاد رسوم الدخول بـ20 جنيهًا.. تفاصيل أزمة ممشى أهل مصر | المصري اليوم (almasryalyoum.com)](https://www.almasryalyoum.com/news/details/2645416) |
[5] بدأت بانتقاد رسوم الدخول بـ20 جنيهًا.. تفاصيل أزمة ممشى أهل مصر (almasryalyoum.com)
[6] Seperti yang dinyatakan oleh arsitek di balik Mamsha, Tariq al-Rifa’i dan pemberitaan al-Ahram تنفيذا لتكليفات الرئيس عبد الفتاح السيسى..«ممشى أهل مصر» لكل المصريين
[7] https://scenenow.com/buzz/aswan-s-abu-simbel-is-getting-its-own-mamsha-ahl-misr-walkway
[8] Economic Manuscripts: Capital Vol. I - Chapter Twenty-Six (marxists.org)
Tinggalkan komentar