Kegelapan sebelum Fajar Menyingsing, Penjajahan Pemukim Israel Berada di Titik Terakhir
Pada peringatan Genosida tahunan IHRC di London, Inggris (21/1), Profesor Ilan Pappé berbicara tentang perlunya memahami bahwa genosida terhadap warga Palestina yang kita saksikan saat ini, betapapun brutalnya, juga merupakan keruntuhan dari apa yang disebut dengan negara Yahudi. Kita harus siap untuk membayangkan dunia baru sesudahnya.
Gagasan bahwa Zionisme adalah kolonialisme pemukim (settlers colonialism) bukanlah perkara baru. Para cendekiawan Palestina pada tahun 1960-an yang bekerja di Beirut di Pusat Penelitian PLO telah memahami bahwa apa yang mereka hadapi di Palestina bukanlah proyek kolonial klasik. Mereka tidak hanya membingkai Israel sebagai koloni Inggris atau Amerika, melainkan juga menganggapnya sebagai fenomena yang ada di belahan dunia lain; yang didefinisikan sebagai kolonialisme pemukim. Sangat menarik bahwa selama 20 hingga 30 tahun, gagasan tentang Zionisme sebagai kolonialisme pemukim sempat menghilang dari wacana politik dan akademis. Gagasan ini kembali muncul ketika para cendekiawan di belahan dunia lain, khususnya Afrika Selatan, Australia, dan Amerika Utara, sepakat bahwa Zionisme adalah fenomena yang serupa dengan gerakan orang-orang Eropa yang menciptakan Amerika Serikat, Kanada, Australia, Selandia Baru, dan Afrika Selatan. Gagasan ini membantu kita untuk memahami dengan lebih baik sifat sebenarnya dari proyek Zionisme di Palestina sejak akhir abad ke-19 hingga saat ini, dan memberikan kita gambaran tentang apa saja yang akan terjadi di masa mendatang.
Saya pikir gagasan yang muncul pada tahun 1990-an ini, yang menghubungkan dengan sangat jelas tindakan para pemukim Eropa, khususnya di tempat-tempat seperti Amerika Utara dan Australia, dengan tindakan para pemukim yang datang ke Palestina pada akhir abad ke-19, menggambarkan dengan jelas niat para pemukim Yahudi yang mengkolonisasi Palestina dan sifat sebenarnya dari perlawanan penduduk Palestina terhadap kolonisasi tersebut. Para pemukim mengikuti logika utama yang dianut oleh gerakan kolonial pemukim, yaitu agar dapat menciptakan komunitas kolonial pemukim yang sukses di luar Eropa, Anda harus menyingkirkan penduduk asli di negara yang Anda tinggali. Ini berarti bahwa perlawanan penduduk asli terhadap logika ini adalah perjuangan melawan eliminasi (struggle against elimination), bukan sebatas pembebasan. Hal ini penting ketika kita berpikir tentang operasi Hamas dan operasi-operasi perlawanan Palestina lainnya sejak tahun 1948.
Para pemukim itu sendiri, sebagaimana kebanyakan orang Eropa yang datang ke Amerika Utara, Amerika Tengah, atau Australia, adalah para pengungsi dan korban persekusi. Sebagian tidak terlalu bernasib malang dan hanya mencari kehidupan dan kesempatan yang lebih baik. Namun, kebanyakan dari mereka justru merupakan orang-orang yang terbuang dari Eropa dan ingin menciptakan Eropa di tempat lain, Eropa yang baru, alih-alih Eropa yang enggan terhadap mereka. Dalam kebanyakan kasus, mereka memilih tempat di mana orang lain sudah mendiaminya, yaitu penduduk asli. Oleh karena itu, kelompok inti yang paling penting di antara mereka adalah para pemimpin dan ideolog yang memberikan pembenaran religius dan kultural atas kolonisasi tanah orang lain. Kita dapat menambahkan hal lain, yaitu kebutuhan untuk bergantung pada sebuah negara imperialis dalam memulai kolonisasi dan mempertahankannya, bahkan jika pada saat itu para pemukim memberontak terhadap negara imperialis yang telah membantu mereka lalu menuntut serta meraih kemerdekaan, yang dalam banyak kasus mereka akhirnya mendapatkannya dan kemudian memperbaharui aliansi dengan negara imperialis tersebut. Hubungan Anglo-Zionis yang berubah menjadi aliansi Anglo-Israel adalah contohnya.
Gagasan bahwa Anda dapat menyingkirkan secara paksa orang-orang dari tanah yang Anda inginkan, mungkin lebih dapat dimengerti—bukan berarti dibenarkan—dengan latar belakang abad ke-16, 17, dan 18—karena gagasan ini sejalan dengan dukungan penuh terhadap imperialisme dan kolonialisme. Hal ini juga dipicu oleh dehumanisasi yang lumrah terjadi pada orang-orang non-Barat dan non-Eropa. Jika Anda merendahkan martabat manusia, Anda akan lebih mudah menyingkirkan mereka. Apa yang begitu unik mengenai Zionisme sebagai sebuah gerakan kolonial pemukim adalah bahwa ia muncul di ranah internasional persis ketika orang-orang di seluruh dunia mulai berpikir dua kali tentang hak-hak menyingkirkan penduduk asli, mengeliminasi pribumi, dan oleh karena itu, kita dapat memahami usaha dan upaya yang dikerahkan oleh kaum Zionis, yang kemudian menjadi negara Israel, untuk menutupi tujuan sebenarnya dari gerakan kolonial pemukim seperti Zionisme, yaitu eliminasi pribumi.
Namun hari ini di Gaza, Israel tengah mengeliminasi penduduk pribumi di depan mata kita. Lalu, mengapa mereka kini nyaris meninggalkan upaya selama 75 tahun penyembunyian kebijakan-kebijakan eliminasi? Untuk memahami hal itu, kita harus memahami perubahan sifat sebenarnya dari Zionisme di Palestina selama bertahun-tahun.
Pada tahapan awal proyek kolonialisme pemukim Zionis, para pemimpinnya menjalankan kebijakan-kebijakan eliminasi dengan upaya yang sesungguhnya untuk memutarbalikkan keadaan (to square the circle)[1] dengan menyatakan bahwa adalah mungkin untuk membangun sebuah negara demokrasi dan di saat yang sama melenyapkan penduduk asli. Terdapat keinginan kuat untuk menjadi bagian dari komunitas bangsa-bangsa beradab dan terdapat asumsi dari para pemimpinnya, khususnya setelah Holocaust, bahwa kebijakan-kebijakan eliminasi tidak akan menyingkirkan Israel dari komunitas tersebut.
Untuk memutarbalikkan keadaan, para pemimpin Zionis bersikeras bahwa tindakan eliminasi terhadap orang-orang Palestina merupakan ‘pembalasan’ atau ‘respon’ terhadap tindakan-tindakan penduduk Palestina. Namun segera, ketika para pemimpin ini ingin melangkah ke tindakan yang lebih besar untuk mengeliminasi, mereka meninggalkan dalih palsu ‘pembalasan’ dan berhenti memberikan pembenaran atas apa yang mereka lakukan.
Dengan demikian, terdapat korelasi antara cara pembersihan etnis pada tahun 1948 dengan operasi-operasi yang dilakukan Israel di Gaza saat ini. Pada tahun 1948, para pemimpin mencari pembenaran atas setiap pembantaian yang ia lakukan, termasuk pembantaian Deir Yassine yang terkenal pada tanggal 9 April, sebagai reaksi terhadap tindakan Palestina: bisa saja terhadap pelemparan batu ke arah bus atau penyerangan pemukiman Yahudi, namun hal tersebut harus diberitakan di dalam dan di luar negeri sebagai sesuatu yang tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan sebagai upaya pembelaan diri. Inilah mengapa tentara Israel dinamai “Israeli Defence Forces”. Akan tetapi, karena ini adalah proyek kolonial pemukim, ia tidak bisa bergantung terus-menerus pada narasi ‘pembalasan’.
Pasukan Zionis memulai pembersihan etnis selama Nakba pada bulan Februari 1948. Selama satu bulan, semua operasi ini diberitakan sebagai pembalasan terhadap penentangan Palestina terhadap Rencana Pembagian Palestina oleh PBB pada November 1947. Pada tanggal 10 Maret 1948, para pemimpin Zionis berhenti berbicara tentang pembalasan dan mulai menerapkan rencana besar untuk pembersihan etnis Palestina. Dari Maret 1948 hingga akhir 1948, pembersihan etnis Palestina yang menyebabkan pengusiran separuh populasi Palestina, penghancuran setengah dari desa-desanya dan de-Arabisasi sebagian besar kotanya, dilakukan sebagai bagian dari rencana besar pembersihan etnis yang sistematis dan disengaja.
Demikian pula, setelah pendudukan Tepi Barat dan Jalur Gaza pada Juni 1967, setiap kali Israel ingin secara fundamental mengubah realitas atau terlibat dalam operasi pembersihan etnis berskala penuh, ia tidak lagi menghiraukan kebutuhan akan pembenaran.
Kita menyaksikan pola yang sama hari ini. Pada awalnya, tindakan tersebut dilakukan sebagai bentuk pembalasan atas Operasi Taufan al-Aqsa, namun kini justru menjadi perang, yang dinamai “sword of war”, yang bertujuan untuk mengembalikan Gaza di bawah kendali langsung Israel, namun secara bersamaan juga melakukan pembersihan etnis penduduknya melalui sebuah kampanye genosida.
Pertanyaan besarnya adalah mengapa para politisi, jurnalis, dan akademisi di Barat bisa terjebak dalam perangkap yang sama seperti yang mereka alami pada tahun 1948? Bagaimana mungkin mereka masih percaya pada gagasan bahwa Israel sedang melakukan pembelaan diri di Jalur Gaza? Bahwa tindakan mereka hanyalah reaksi terhadap aksi-aksi 7 Oktober?
Atau mungkin saja mereka tidak jatuh ke dalam perangkap. Mereka bisa jadi sudah mengetahui bahwa apa yang Israel lakukan di Gaza hanyalah menggunakan 7 Oktober sebagai dalih.
Bagaimanapun, sejauh ini, klaim orang-orang Israel atas sebuah dalih setiap kali menyerang Palestina, telah membantu negaranya untuk mempertahankan tameng imunitas yang memungkinkannya untuk melanjutkan kebijakan-kebijakan kriminal tanpa perlu takut terhadap reaksi yang berarti dari masyarakat internasional. Dalih ini juga mempertegas citra Israel sebagai bagian dari dunia demokratis dan dunia Barat, dan karenanya melampaui kecaman dan sanksi apa pun. Seluruh wacana pertahanan dan pembalasan ini penting bagi tameng imunitas yang Israel nikmati dari berbagai pemerintahan di belahan Dunia Utara.
Namun, sebagaimana pada tahun 1948, bahkan kini ketika Israel terus melancarkan operasinya, mereka tidak lagi menggunakan dalih tersebut, dan tepat di waktu inilah para pendukung terbesarnya pun sulit untuk mendukung kebijakannya. Tingkat kehancuran, pembantaian besar-besaran di Gaza, genosida, sudah sedemikian rupa sehingga orang Israel semakin sulit untuk meyakinkan diri mereka sendiri bahwa apa yang sedang mereka lakukan adalah bagian dari pembelaan diri atau reaksi. Dengan demikian, tidak menutup kemungkinan bahwa di waktu mendatang akan semakin banyak orang yang sulit menerima penjelasan Israel atas genosida di Gaza.
Bagi kebanyakan orang, jelas bahwa yang diperlukan adalah konteks dan bukan dalih. Baik secara historis maupun ideologis, sangat jelas bahwa 7 Oktober hanya digunakan sebagai dalih untuk menyelesaikan apa yang tidak dapat diselesaikan oleh gerakan Zionis pada tahun 1948.
Pada tahun 1948, gerakan kolonial Zionisme menggunakan serangkaian situasi historis tertentu yang telah saya tulis secara rinci dalam buku “The Ethnic Cleansing of Palestine” untuk mengusir separuh dari penduduk Palestina. Sebagaimana telah disebutkan, dalam prosesnya mereka menghancurkan setengah dari desa-desa Palestina, meruntuhkan sebagian besar kota-kota Palestina, namun separuh dari penduduk Palestina tetap tinggal di sana. Orang-orang Palestina yang menjadi pengungsi di luar perbatasan Palestina kemudian melanjutkan perlawanan orang-orang Palestina dan, oleh karena itu, cita-cita penjajah untuk mengeliminasi penduduk asli tidak terpenuhi dan secara bertahap Israel menggunakan seluruh kekuatannya dari tahun 1948 hingga hari ini untuk melanjutkan eliminasi penduduk asli.
Eliminasi penduduk asli dari awal hingga akhir mencakup tidak hanya operasi militer, yang dengannya Anda dapat mengokupasi suatu daerah, tetapi juga membantai atau mengusir orang-orang. Eliminasi membutuhkan pembenaran atau, jika tidak, hanya akan menjadi sebuah kelembaman, sedang satu-satunya cara untuk melakukannya adalah melalui dehumanisasi secara terus-menerus terhadap mereka yang ingin Anda eliminasi. Anda tidak dapat membunuh orang secara besar-besaran atau melakukan genosida terhadap manusia lain kecuali jika Anda melakukan dehumanisasi terhadap mereka. Oleh karena itu, dehumanisasi terhadap orang-orang Palestina merupakan pesan eksplisit dan implisit yang disampaikan kepada orang-orang Yahudi Israel melalui sistem pendidikan mereka, sistem sosialisasi mereka di militer, media, dan wacana politik. Pesan ini harus disampaikan dan dipertahankan jika eliminasi ini ingin diselesaikan.
Jadi, kita menyaksikan upaya baru yang kejam dalam menyelesaikan eliminasi. Namun, tidak semuanya berarti tanpa harapan. Malah, ironisnya, penghancuran Gaza yang tidak berperikemanusiaan ini justru memperlihatkan gagalnya proyek kolonialisme pemukim Zionisme. Ini mungkin terdengar absurd, karena saya sedang mendeskripsikan konflik antara gerakan perlawanan kecil, gerakan pembebasan Palestina, dan sebuah negara yang kuat dengan mesin militer dan infrastruktur ideologis yang berfokus semata-mata hanya pada penghancuran penduduk asli Palestina. Gerakan pembebasan ini tidak memiliki aliansi yang tangguh, sementara negara yang dihadapinya, menikmati aliansi yang kuat di belakangnya—mulai dari Amerika Serikat hingga perusahaan-perusahaan multinasional, firma keamanan industri militer, media arus utama dan akademisi arus utama—kita sedang membicarakan perihal yang hampir terdengar tanpa harapan dan menyedihkan karena, bayangkan, Anda memiliki kekebalan internasional atas kebijakan-kebijakan eliminasi yang bermula sejak tahap awal Zionisme hingga hari ini. Barangkali ini akan menjadi babak terburuk dari upaya Israel untuk mendorong kebijakan eliminasi ke tingkat yang lebih tinggi, yaitu upaya yang jauh lebih terkonsentrasi untuk membunuh ribuan orang dalam waktu yang singkat, yang tidak pernah berani mereka lakukan sebelumnya.
Jadi, bagaimana bisa hal ini menjadi sekaligus sebuah momen harapan? Pertama-tama, entitas politik semacam ini, sebuah negara, yang harus mempertahankan praktik dehumanisasi Palestina untuk menjadi pembenaran atas praktik eliminasi merupakan landasan yang sangat rapuh jika kita melihat ke masa depan yang lebih jauh.
Kelemahan struktural ini sudah terang terlihat sebelum tanggal 7 Oktober dan bagian penting dari kelemahan ini adalah fakta bahwa jika Anda mengambil proyek eliminasi, sangat sedikit hal yang dapat mempersatukan kelompok dari orang-orang yang mendefinisikan diri mereka sebagai bangsa Yahudi di Israel.
Jika Anda mengesampingkan kebutuhan untuk memerangi dan mengeliminasi orang-orang Palestina, Anda akan mendapati dua kubu Yahudi yang saling bermusuhan, sebagaimana telah kita saksikan di jalan-jalan Tel Aviv dan Yerusalem hingga 6 Oktober 2023. Demonstrasi besar-besaran antara orang-orang Yahudi sekuler, yakni mereka yang menggambarkan diri mereka sebagai Yahudi sekuler—sebagian besar berasal dari Eropa—yang percaya bahwa adalah mungkin untuk menciptakan sebuah negara pluralistik yang demokratis dengan tetap mempertahankan okupasi dan sistem apartheid terhadap orang-orang Palestina di dalam wilayah Israel, menghadapi jenis Zionisme mesianis baru yang berkembang di permukiman-permukiman Yahudi di Tepi Barat, apa yang saya sebut di tulisan lain sebagai negara Yudea, yang tiba-tiba muncul di tengah-tengah kita, yang meyakini bahwa mereka kini memiliki cara untuk menciptakan semacam teokrasi Zionis tanpa mempertimbangkan demokrasi, dan meyakini bahwa inilah satu-satunya visi bagi sebuah negara Yahudi di masa mendatang.
Hampir tidak ada kesamaan di antara kedua visi itu selain satu hal: kedua kubu sama-sama tidak peduli dengan Palestina, kedua kubu tersebut percaya bahwa kelangsungan hidup Israel tergantung pada kelanjutan kebijakan eliminasi terhadap Palestina. Hal ini tentunya tidak akan bertahan lama. Hal ini akan tercerai-berai dan meledak dari dalam dirinya sendiri, karena di abad ke-21 Anda tidak dapat mempertahankan sebuah negara dan masyarakat atas dasar sama-rasa memiliki yang sekaligus menjadi bagian dari proyek genosida. Hal ini mungkin berhasil untuk beberapa orang, namun tidak untuk kesemuanya.
Kita telah melihat indikasi tersebut bahkan sebelum tanggal 7 Oktober, bagaimana orang-orang Israel yang memiliki kesempatan di belahan dunia lain lantaran kewarganegaraan ganda, profesi dan kemampuan finansial, justru berpikir serius untuk merelokasi uang dan diri mereka sendiri ke luar negara Israel. Apa yang akan Anda dapati adalah sebuah masyarakat yang secara ekonomi lemah, yang dipimpin oleh perpaduan Zionisme mesianis dengan rasisme dan kebijakan-kebijakan mengeliminasi Palestina. Ya, perimbangan kekuatan pada awalnya akan berpihak pada pihak yang mengeliminasi, bukan pada korban yang dieliminasi, tetapi perimbangan kekuatan tidak hanya bersifat lokal, perimbangan kekuatan bersifat regional dan internasional, sehingga semakin menindas kebijakan-kebijakan eliminasi tersebut (dan ini sangat mengerikan untuk dikatakan, tetapi ini benar adanya), maka semakin kecil kemungkinan kebijakan-kebijakan tersebut dapat ditutup-tutupi sebagai sebuah “respon” atau “pembalasan”, semakin ia terlihat sebagai sebuah kebijakan genosida yang brutal. Oleh karena itu, semakin kecil kemungkinan kekebalan hukum yang dinikmati Israel saat ini dapat terus berlanjut di masa mendatang.
Jadi, saya benar-benar berpikir bahwa pada momen yang sedemikian gelap ini, apa yang kita alami—dan ini merupakan momen gelap karena eliminasi warga Palestina telah bergerak ke tingkat yang baru, yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dalam hal wacana yang digunakan oleh Israel, dan intensitas serta tujuan dari kebijakan-kebijakan eliminasi tersebut—tidak pernah ada periode seperti ini dalam sejarah, ini adalah fase baru dari kebrutalan terhadap Palestina. Bahkan peristiwa Nakbah, yang merupakan bencana yang tak terbayangkan, tidak sebanding dengan apa yang kita saksikan sekarang dan apa yang akan kita saksikan dalam beberapa bulan ke depan. Dalam benak saya, dalam tiga bulan pertama dari periode dua tahun ini, kita akan menyaksikan horor terburuk yang bisa dilakukan Israel terhadap Palestina.
Namun, bahkan pada momen yang gelap ini, kita perlu memahami bahwa proyek kolonial yang tercerai-berai selalu menggunakan cara-cara terburuk untuk menyelamatkan proyek mereka. Hal ini terjadi di Afrika Selatan dan Vietnam Selatan. Saya tidak mengatakan ini sekedar angan-angan, dan saya tidak mengatakan ini selaku aktivis politik: Saya mengatakan ini sebagai seorang sarjana Israel dan Palestina dengan segala kepercayaan diri berdasarkan kualifikasi keilmuan saya. Atas dasar penelitian profesional yang cermat, saya menyatakan bahwa kita sedang menyaksikan akhir dari proyek Zionis, hal itu tidak diragukan lagi.
Proyek bersejarah ini akan segera berakhir dan ini adalah akhir yang penuh kekerasan—proyek semacam ini biasanya akan runtuh dengan penuh kekerasan dan oleh karena itu merupakan momen yang sangat berbahaya bagi para korban proyek ini, di mana korbannya selalu adalah orang-orang Palestina sekaligus orang-orang Yahudi, karena orang-orang Yahudi juga merupakan korban dari Zionisme. Dengan demikian, proses keruntuhan ini bukan hanya sebuah momen harapan, tetapi juga fajar yang akan menyingsing setelah kegelapan, dan secercah cahaya di ujung terowongan.
Keruntuhan seperti ini bagaimanapun menghasilkan kekosongan. Kekosongan itu muncul secara tiba-tiba; ibarat dinding yang perlahan-lahan terkikis oleh retakan-retakan, namun kemudian runtuh seketika dalam waktu yang sangat singkat. Dan kita harus siap menghadapi keruntuhan semacam itu, demi lenyapnya sebuah negara atau hancurnya proyek kolonial pemukim. Kita telah melihat apa yang terjadi di dunia Arab, ketika kekacauan dari kekosongan tidak diisi oleh proyek yang konstruktif dan alternatif; dalam kasus seperti itu kekacauan akan terus berlanjut.
Satu hal yang jelas, siapa pun yang memikirkan alternatif bagi negara Zionis seharusnya tidak mencari model di Eropa atau Barat untuk menggantikan negara yang telah runtuh tersebut. Ada banyak model yang jauh lebih baik yang bersifat lokal dan merupakan warisan dari masa lalu yang lebih tua di Mashraq (Mediterania timur) dan dunia Arab secara keseluruhan. Periode Utsmaniyah yang panjang memiliki model dan warisan sedemikian rupa, yang dapat membantu kita mengambil ide-ide dari masa lalu untuk menatap masa depan.
Model-model ini dapat membantu kita membangun bentuk masyarakat yang sangat berbeda yang menghargai identitas kolektif dan juga hak-hak individu, dan dibangun dari awal sebagai model baru yang diuntungkan oleh pembelajaran dari kesalahan-kesalahan dekolonialisasi di berbagai belahan dunia, termasuk di dunia Arab dan Afrika. Hal ini diharapkan akan menciptakan jenis entitas politik yang berbeda yang akan memberikan dampak yang besar dan positif bagi dunia Arab secara keseluruhan.
Ilan Pappé adalah Profesor Sejarah dan Direktur Pusat Studi Palestina di Universitas Exeter. Ia adalah penulis sejumlah buku, di antaranya adalah The Biggest Prison on Earth: A History of the Israeli Occupation of Palestine (Oneworld, 2015), The Idea of Israel (Verso, 2014) and The Modern Middle East; A Social and Cultural History (Routledge, 2014)
Artikel ini dipublikasikan di situs web IHRC pada tanggal 1 Februari 2024, dan diterjemahkan oleh Ahmad Faishol Abimanyu.
[1] Arti sebenarnya adalah menyejajarkan dua hal yang sukar bersatu.
Tinggalkan komentar