14 menit baca

Di dekade pertama abad 21 dunia dihiasi kabar tentang pembunuhan, pembantaian dan pertikaian antar umat manusia. Berita utama harian seluruh dunia dipenuhi laporan serangan-serangan teroris di Eropa dan invasi militer AS di Timur Tengah. Setiap hari selalu ada laporan jumlah korban jiwa dari serangan teroris dan pembantaian AS di Timur Tengah. Di tengah-tengah spiral ketakutan dan kemarahan yang kejam ini, ‘Islam dan Barat’ sekali lagi diajukan sebagai kategori utama dari konfrontasi global antar dua musuh yang tidak bisa dipisahkan.

‘Islam dan Barat’ diproyeksikan sebagai dua musuh bebuyutan abadi, dua kekuatan kosmik yang baik dan yang jahat. Oposisi biner ini dibuat secara politis dan telah menciptakan dunia berada dalam kondisi ketakutan yang permanen; ketakutan akan serangan teroris di satu sisi dan ketakutan akan desain predatoris AS/Inggris terhadap dunia di sisi lain. Istilah-istilah horor diproduksi dan diperjualbelikan kepada dunia; terorisme, negara iblis, poros setan dan senjata pemusnah massal, menciptakan sebuah dunia yang mencekam dan tidak nyaman untuk di huni. Proyek narasi propaganda bahwa AS ‘yang baik’ sebagai pejuang perdamaian menghadapi Islam ‘yang jahat’ sebagai perusak perdamaian, melalui akademisi dan para intelektual bayaran AS berhasil dengan sempurna.

‘Islam dan Barat’ sebagai diskursus biner diketahui muncul sejak kolonialisme bangsa Eropa sampai di tanah Arab. Perlawanan bangsa Arab terhadap penjajahan yang dilakukan oleh bangsa Eropa mendapat legitimasi dari Islam. Hal tersebut mengawali perjumpaan Islam dengan modernitas Eropa yang secara bertahap mengubah sebuah keyakinan abad pertengahan menjadi sebuah situs perlawanan ideologis terhadap modernitas kolonial. Konfrontasi antara ‘Barat dan Islam’ dalam konteks kolonialisme, menjadikan ‘Barat’ kategori utama sebagai lawan bicara antagonistik bagi ‘Islam’ saat itu (Nasr, 1999).

Sebagai sebuah modus perlawanan terhadap ‘Barat’ yang secara dialektis telah menghasilkan dan mempertahankannya, Islam sebagai ideologi (sebuah ideologi politik yang didasarkan pada Islam, hampir sama dengan model Teologi Pembebasan yang didasarkan pada agama Kristen) juga sama esensialnya; kategoristik, dan monolitik. Ia tidak mengizinkan adanya keragaman; bahkan menghilangkan dan menghancurkan warisan-warisan intelektual Islam sendiri yang beragam di bawah tekanan korespondensi dengan modernitas pencerahan Eropa.

Selama ini ‘Islam’ selalu terikat dengan ‘Barat’, baik dengan menentangnya dalam versi radikalnya maupun merangkulnya dalam mutasi yang lebih liberal, atau secara terang-terangan dalam ideologi sekuler yang diartikulasikan dan dilembagakan dalam masyarakat Muslim. Umat Islam, percaya atau tidak, terikat pada kekuatan dan mistik ‘Barat’, yang lebih merupakan khayalan imajinasi mereka sendiri daripada realitas nyata. Apa pun yang mereka lakukan, menentang atau menerimanya, pada akhirnya mereka menguatkan dan mengukuhkan kebenaran ontologis dari apa yang mereka sebut sebagai ‘Barat’.

Namun runtuhnya menara kembar Word Trade Center di New York akibat serangan teroris pada 9 November 2001, menandakan runtuhnya juga menara kembar ‘Islam dan Barat’ sebagai oposisi biner yang paling kuat dalam perjalanan modernitas kolonial (Dabhasi, 2008). Islam sebagai ideologi perlawanan yang sempat eksis atas hegemoni Barat dan dominasi AS, runtuh seketika. Peristiwa 9/11 memberikan celah bagi AS untuk melancarkan propaganda-propagandanya terhadap Islam. Melalui media-media dan para akademisi bayaran, pemerintah AS berhasil memupuk kebencian dunia kepada Islam dengan wacana Islamophobia.

AS menarasikan Islam kepada dunia sebagai ‘yang brutal’, ‘yang barbar’, ‘yang jahat’ dan ‘anti perdamaian’. Islam direduksi oleh George W. Bush dan pemerintahannya dalam dua kategori; Islam baik dan Islam buruk. Islam baik adalah ia yang mendukung proyek kapitalisme dan pasar bebas AS, tunduk dan patuh atas agenda politik dan ekonomi AS. Sedangkan Islam buruk adalah sebaliknya. AS mampu membingkai pemberontakan dan perlawanan umat Islam atasnya sebagai tindakan kebrutalan dan kejahatan, tanpa perlu melihat alasan dibaliknya. Lewat politik imagologi, mesin propaganda AS merekayasa citra Islam di hadapan dunia dengan lukisan terorisme untuk menciptakan realitas artifisial yang sesuai dengan kepentingannya. Media-media populer seperti CNN, The New York Times, Fox News, dan lainnya tampak berhasil menjadi kendaraan propaganda-propaganda pemerintahan AS (Buchanan, 2006).

Kemenangan AS di Timur Tengah dan dominasi AS sebagai satu-satunya negara adidaya yang masih hidup menandakan ‘Barat’ sudah kehilangan semua legitimasi kategorisnya sebagai lawan bicara antagonistik bagi Islam. Keretakan bersejarah antara AS dan Eropa selama Perang Teluk Kedua, dan penyatuan Eropa yang cepat menjadi kekuatan global utama yang cukup independen yang kemudian bersaing dengan AS, adalah implikasi akumulatif dari runtuhnya ‘Barat’ sebagai sebuah kepercayaan atas hegemoni ekonomi dan politik yang sudah bertahan lama (Garton Ash, 2004). Sehingga menghadirkan ‘Barat’ sebagai kontra diskursus dari Islam akan menemui jalan buntu dan menjadi hal yang sia-sia. Barat—secara epistemik—tidak lagi menempati ‘yang liyan’ dalam Islam.

‘Barat’ sebagai sebuah kategori peradaban telah berakhir, yang berakibat runtuhnya epistemis dari dialog yang telah bertahan lama antara ‘Islam dan Barat’. Oposisi biner tersebut tidak lagi menjadi sebuah proposisi yang dapat dipertahankan. Kondisi geopolitik yang sepenuhnya baru dan dikuasai oleh kaum kapitalis, menghasilkan imperium baru yang belum pernah terjadi sebelumnya. ‘Barat’ sebagai rujukan ikonik modernitas pencerahan Eropa, telah menghancurkan dirinya sendiri dalam apa yang sekarang diberi nama postmodernisme; suatu periode sejarah di mana gagasan dan lokasi dari fabrikasi fiktif yang disebut ‘Barat’ tidak lagi berfungsi. Dengan ‘Barat’ yang kini telah mati, Islam tidak memiliki lawan bicara. Para intelektual, aktivis, dan pemimpin Muslim terkemuka tidak tahu kepada siapa mereka berbicara.

Lawan bicara baru Islam

Gerakan revolusioner Islam sebagai proyek politik yang sah, sepanjang abad kesembilan belas dan kedua puluh, selalu diartikulasikan dalam kondisi percakapan antara dua entitas dengan konsekuensi kolonial ‘Barat’ sebagai lawan bicara utama Islam. Sebagai seperangkat oposisi biner, ‘Islam dan Barat’ diciptakan di bawah kondisi historis tertentu di mana ‘Islam’ selalu menganggap ‘Barat’ sebagai pusat yang menjadi basis operasi kapital, dan ‘Islam’ sebagai pinggiran yang selalu dijadikan objek untuk kepentingan perluasan kolonialnya dan kelipatan modalnya.

Pusat dan pinggiran tersebut saat ini telah lenyap karena kapital yang mengglobal dengan cepat dan terang-terangan tidak lagi memungkinkan adanya ilusi semacam itu. Kategori ‘Islam dan Barat’ kini telah layu dalam korespondensi dengan kapital yang tidak berbentuk, yang tidak lagi memiliki pusat. Target utama serangan 9/11, World Trade Center di New York, adalah sebuah kekeliruan. Perdagangan dunia tidak memiliki pusat. Pusatnya sudah berada di pinggiran, pinggiran di pusat. Kolonial selalu tertanam di ibu kota, ibu kota di kolonial. Dunia Ketiga sekarang berada di Dunia Pertama, dan Dunia Pertama di Dunia Ketiga (Vattimo, 1991). Kapital yang tak berbentuk, tanpa pusat, kini telah menghasilkan sebuah imperium global yang beroperasi tanpa hegemoni, tidak lagi berada di bawah narasi besar ‘Barat’.

Begitu juga umat Islam. Mereka tidak lagi terbatas pada Tanah Arab dan dunia Timur. Imperium global berperan atas kehadiran umat muslim di penjuru dunia. Lewat kapitalisasi global yang tidak mengenal warna, kulit dan gender, imperium ini membongkar tembok imajiner yang membatasi antara Barat dan Islam. Dengan kehadiran besar-besaran buruh imigran muslim di seluruh dunia, Islam mengglobal secara permanen. Islam saat ini tidak hanya dibicarakan dan diceritakan dalam bahasa sakralnya yaitu bahasa Arab. Namun, melalui para penganutnya di seluruh penjuru dunia, Islam dibicarakan dan diceritakan dengan beragam bahasa.

Umat Islam saat ini berada di ambang rekonfigurasi kekuasaan dan politik yang sama sekali baru, bangunan imperium global yang dihasilkan dari kaum kapitalis. Oleh karenanya bentuk perlawanan moral dan normatif terhadapnya harus diperbarui. Oposisi biner ‘Islam dan Barat’ tidak lagi efektif dalam membaca logika berbahaya dari kapital yang tidak pernah memakai pakaian budaya yang sudah usang (Dabhasi, 2008). Logika kapital yang berkelok-kelok, luas, dan tidak beraturan akan pergi ke padang rumput yang lebih hijau dan retorika yang lebih berguna untuk mempertahankan kekuasaanya. Oposisi biner ‘Islam dan Barat’ tidak lagi mampu menjadikan narasi perlawanan umat Islam tepat sasaran.

Di zaman kiwari ini, upaya melanggengkan kekuasaan tidak lagi dapat dibaca dan diketahui dari upaya represif yang dilakukan sebagaimana yang dikatakan Niccolo Machiavelli, atau dengan narasi besar seperti teori hegemoni Gramsci. Dalam pandangan postmodernisme, melanggengkan kekuasaan dapat dilakukan dengan menawarkan bentuk pengetahuan, hasrat dan kesenangan baru dalam rangka melanggengkan ketergantungan orang terhadapnya (Foucault, 1978). Dengan kata lain, kekuasaan ada di mana-mana. Kekuasaan tidak hanya ada di sekitar presiden, menteri, dan partai politik, tapi juga di televisi, media sosial, media digital bahkan bintang film atau penyanyi. Oleh karenanya, upaya mempertahankan kekuasaan dapat dilakukan siapa saja dan di mana saja. Artinya kezaliman, penindasan dan kejahatan dengan motif melanggengkan otoritas kekuasaan bisa timbul dari mana saja; tidak hanya di pusat, tetapi juga di pinggiran.

Umat muslim atau para tokoh Islam yang masih membagi dunia antara Islam dan Barat, muslim dan non muslim, yang percaya dan yang tidak percaya akan terjebak dalam keributan-keributan kecil tanpa akhir. Para intelektual, aktivis, dan pemimpin Muslim terkemuka harus paham dan sadar akan kondisi sosial-politik saat ini. Musuh yang mereka hadapi saat ini adalah sebuah imperium tanpa negara, tanpa suku, tanpa agama dan tanpa nama. Bukan tentang apakah ia orang Amerika, orang Eropa, atau orang “Barat”, karena sejauh yang diketahui oleh jutaan aktivis anti-perang, orang-orang Amerika biasa dari semua lapisan masyarakat yang tumpah ruah di jalan-jalan di kota-kota mereka, mengutuk perang yang dilancarkan oleh AS dan berseru dengan lantang; “Bukan Atas Nama Kami!”. Menentang imperium ini tidak memiliki sebutan budaya, tidak memiliki domain denominasi. Ia sama globalnya dengan monster yang ingin dihadapi (Dabhasi, 2008).

Jika umat Islam tidak bisa menyadari perbedaan tersebut, mereka akan terjebak dalam teori konspirasi patologis yang memuakkan tentang Islam itu sendiri. Umat Islam, lebih-lebih para tokohnya akan terjebak dalam definisi dan kategorisasi Islam yang dibuat oleh non muslim. Umat Islam yang terjebak dalam kategori Islam baik dan Islam buruk, mata hati dan pikirannya akan buta terhadap realita yang sebenarnya di lapangan. Islam yang awalnya diperuntukkan untuk orang lemah, miskin dan tertindas, Islam yang tujuannya untuk menegakkan keadilan dan menjamin kesejahteraan umatnya, secara dramatis berubah menjadi alat legitimasi dan bamper para aktor kejahatan, karena harus menyesuaikan kategori yang bahkan tidak muncul dari Islam sendiri.

Oleh karenanya umat Islam harus mampu mengidentifikasi objek perlawanannya di tengah kondisi sosial-politik saat ini. Identifikasi yang salah berimplikasi terhadap penanganan yang salah. Islam harus diposisikan sebagai ideologi perlawanan atas penindasan apapun; lintas agama, teritorial dan budaya. Umat Islam harus berani bersuara atas tindakan pemerintahan AS kepada rakyatnya yang paling miskin, paling lemah dan paling rentan, yang mengirim tentara militer serta penembak jitu untuk menyakiti dan membunuh warganya sendiri yang tak berdaya—jika mereka berani pergi ke pusat perbelanjaan untuk mencari makanan atau tempat berlindung—dengan alasan ketertiban.

Yang perlu disadari saat ini bahwa imperium global memainkan perannya dengan manajemen tinggi dan politik tinggi. Artinya begitu canggihnya cara, trik, taktik, dan strategi yang digunakan membuat ia tak tampak dan penuh kamuflase (Piliang, 2023). Melalui mesin-mesin propagandanya istilah dan frasa tanpa disadari memiliki kekuatan ikoniknya sendiri dan digunakan secara tepat. Bukan lagi hukum dan moral yang menentukan mana yang benar dan salah atau mana yang jahat dan baik, akan tetapi aktor-aktor dibalik propaganda-propaganda media informasi dan digital yang menentukannya.

Mencuatnya narasi perdamaian artifisial yang dimotori oleh Amerika Serikat, menandakan berevolusinya imperium global sebagai pemain tunggal dalam dinamika sosial, politik dan ekonomi dunia abad 21 (Johnson, 2000). Kini imperium global dengan kekuatan absolutnya terus melipat gandakan modalnya dan kepentingan materialnya tanpa mengindahkan hukum internasional melalui strategi-strateginya yang kasar dan brutal. Mode baru teologi pembebasan Islam harus muncul untuk bergabung dengan mode perlawanan revolusioner lainnya terhadap imperium predator ini.

Islam harus menjadi bagian dari perlawanan terhadap kekerasan, perampasan, kejahatan dan kebiadaban tanpa memandang agama, suku dan budaya, karena “mereka” juga lintas agama, suku dan budaya. Tentang konflik Israel dan Palestina misalnya, bukan lagi konflik antara Arab dan Eropa, atau Islam dan Yahudi, tapi konflik antara penjajah dengan pribumi, perampas tanah dengan pemilik tanah, serta penindas dengan yang ditindas. Yang Islam lawan adalah pembunuhan manusia tidak bersalah, penculikan tanah pribumi, dan genosida atas etnis tertentu. Hal yang sama saat menghadapi konflik di Myanmar, India atau di Kathrina New Orleans.

Saat ini nasib Muslim dan non-Muslim lebih saling terkait daripada sebelumnya. Kekuatan kegelapan dan ketidaktahuan yang melayani imperium global tidak dapat lagi dibiarkan memecah belah dunia ke dalam kecenderungan sektarian untuk memerintahnya. Berlawanan dengan tesis Samuel Huntington tentang “benturan peradaban”, umat manusia telah memasuki periode pasca-peradaban dalam konflik global. Periode di mana umat manusia membutuhkan pemahaman baru tentang sifat kekuasaan yang mengglobal dan cara-cara revolusioner yang muncul untuk melawannya. Saat ini umat Islam, sebagaimana jutaan orang lain di dunia, menghadapi sebuah imperium global yang tak berbentuk, tidak punya identitas dan domisili yang pasti.

Mengutip Hamid Dabhasi (2008);

Kita harus berhenti sejenak dan merefleksikan diri terhadap kecepatan memori sejarah kita yang semakin terkikis. Bagaimana dan mengapa Islamisme mulai berhadapan dengan modernitas kolonial? Kapan dan mengapa ia kehabisan energi ideologis? Dan pada akhirnya, apa saja kekuatan-kekuatan ketidakpuasan yang muncul yang berusaha dan harus membebaskan umat Islam dari tirani lokal mereka sendiri dalam menghadapi imperium global yang predatoris dalam hal domestik yang sesuai dengan harapan mereka, yang setia pada yang terbaik dalam karakter dan budaya mereka? Mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini dan berusaha menjawabnya tidak lagi terbatas pada Muslim atau non-Muslim.

Daftar Pustaka

Dabhasi, Hamid : Islamic Libration Theology; Resisting The Empire. the Taylor & Francis e-Library, 2008.

Garton Ash, Timothy : Free World: America, Europe, and the Surprising 268 Notes Future of the West. New York: Random House, 2004.

Buchanan, Patrick : State of Emergency: The Third World Invasion and Conquest of America. New York: Thomas Dunne Books, 2006.

Chalmers Johnson, Blowback: The Costs and Consequences of American Empire. New York: Metropolitan Books, 2000.

Nasr, S. V. R. : ‘‘European Colonialism and the Emergence of Modern Muslim States,’’ in John L. Esposito (ed.), The Oxford History of Islam. Oxford: Oxford University Press, 1999: 549–599

Vattimo, Gianni : The End of Modernity: Nihilism and Hermeneutics in Postmodern Culture. Baltimore, MD: The Johns Hopkins University Press, 1991.

Foucault, Michel : History of Sexuality. Penguin, 1978.

Amir Piliang, Yasraf : Transpolitika; Dinamika Politik di Era Virtual. Cantrik Pustaka, 2023.

Diupdate:

Tinggalkan komentar