Dimana Masisir saat Semua Karut-Marut di Indonesia Terjadi?
Tak henti-hentinya media sosial kita dibombardir dengan kabar-kabar buruk dari negara kita tercinta. Bahkan rasanya sejak Prabowo dilantik lima bulan lalu, rakyat sudah kehilangan nikmatnya bernapas dan merasa pengap hidup di bumi pertiwi akibat kabar-kabar buruk itu. Terlebih lagi ketika rakyat mendapati adanya rapat yang dilakukan diam-diam dan tertutup di salah satu hotel mewah mengenai RUU TNI, seketika amarah membuncah dan meledak menjadi serial aksi demo ketidakpuasan dan ketidakpercayaan yang terjadi di berbagai kota seperti Jakarta, Bandung, Malang, dan beragam kota lainnya.
Paragraf di atas adalah refleksi yang menyembul secara tiba-tiba dalam pikiran saya di tengah hiruk pikuk dan keramaian shalat malam ke-27 di Jami’ Azhar. Kala itu, saya sempat kesulitan untuk mendapatkan tempat untuk shalat, badan saya terhimpit, dan akhirnya menyerah lalu memilih melanjutkan shalat di luar. Betul-betul nikmat rasanya bisa menghidupi hari-hari terakhir Ramadan, saya bersyukur atas hal itu. Namun apa artinya kekhusyukan ini tatkala kawan-kawan sebaya saya ditendang, dipukul bahkan sampai rontok gigi di negara sendiri? Pertanyaan ini muncul pada jeda ritmis di antara shalat. Diiringi bacaan surat Qaf yang merdu dan hembusan lirih angin malam, kepala saya berisik menimbang kemungkinan-kemungkinan jawabannya. Hingga akhirnya membawa pada pertanyaan inti; dimana keberpihakan masisir saat semua karut-marut di Indonesia terjadi?
Saya memulai dengan memikirkan ulang mengenai kapital sosial. Mudahnya, kapital sosial adalah sumber daya yang diperoleh melalui jaringan interaksi masyarakat, norma bersama, dan kepercayaan yang berkembang di antara anggota masyarakat. Ada banyak manfaat yang bisa kita lihat bersama dalam dunia masisir, seperti meningkatkan kerja sama yang memudahkan koordinasi dan kolaborasi untuk mencapai tujuan yang sama, dan memfasilitasi pertukaran informasi sehingga memungkinkan efisiensi di berbagai macam kondisi.
Macam-macam organisasi sudah memfasilitasi interaksi ini sejak lama dan memang terbukti sangat bermanfaat. Saya kira, pembaca masisir sudah menebak pikiran saya. Senat mahasiswa, misalnya. Inisiatif dan kerja sama antar mereka membuat mahasiswa mendapatkan informasi yang kredibel melalui saluran whatsapp. Selain itu, senat mahasiswa juga kerap kali mengadakan acara-acara yang memudahkan kehidupan masisir seperti info pendaftaran tahun ajaran baru dan bimbel dengan harga yang lebih miring ketimbang lembaga-lembaga lain.
Satu hal yang unik, interaksi masyarakat di dunia masisir tidak hanya terjadi secara materil atas dasar fungsionalitas dan mutualisme saja, tetapi juga terjadi secara spiritual. Seperti salah satu kawan saya yang jarang berada di rumah dan banyak menghabiskan waktunya di majelis burdah demi melayani masisir yang datang dan pergi untuk melantunkan puja-puji kepada Nabi Muhammad Saw.
Semua interaksi-interaksi ini kemudian menjelma menjadi budaya dan kultur yang menubuh dalam setiap individu masisir. Sampai-sampai budaya ini tidak diberikan ruang untuk tumbuh dan berkembang secara organik, tetapi ditanamkan melalui orientasi mahasiswa baru yang dilakukan setiap tahun oleh senior-seniornya. Saya berasumsi bahwa ketidakpedulian terhadap isu politik domestik adalah akibat turunan dari budaya yang telah mengakar ini, baik pada individu yang mendapatkan budaya ini secara organik maupun yang non-organik melalui dikte para senior. Keduanya hanya menekankan bagaimana cara hidup dan bertahan di Mesir selama masa pendidikan tanpa ada pembahasan bagaimana cara hidup dan bertahan di Indonesia pasca pendidikan.
Dari sini kita memahami bahwa ketidakpedulian masisir terhadap isu politik domestik tidak dilakukan secara sadar, melainkan hasil bangunan dari kultur yang sudah diteruskan turun-temurun. Di luar daripada hal itu, ada beberapa faktor yang berkontribusi dalam ketidakpedulian politik, di antaranya adalah tekanan sosial-ekonomi. Dalam masyarakat postmodern yang berkembang cepat, prestasi ekonomi dan status sosial menjadi tolak ukur keberhasilan, sedangkan partisipasi politik tampak kurang relevan dan bermanfaat. Hal ini diamini oleh PPMI dan PPIDK Timtengka dengan beberapa kali mengadakan seminar pra-kerja seperti pembuatan CV dan manajemen akun Linkedin.
Ekspektasi budaya dan keluarga di kampung halaman juga memiliki peranan signifikan dalam membentuk sikap apatis terhadap politik. Melatih diri untuk berceramah, memimpin doa, dan menjadi imam lebih bermanfaat ketimbang mengikuti isu-isu politik yang tiada habisnya. Hal seperti ini banyak kita jumpai di sekitar kita seperti sahah dan madyafah yang memfasilitasi pengembangan ilmu bagi calon-calon agamawan di masa mendatang. Dengan ini saya sampai pada kesimpulan unik, masisir bukanlah masyarakat marginal yang diacuhkan oleh politik, tetapi masisir sendirilah yang memarginalkan dirinya sendiri demi memenuhi harapan-harapan semu yang ada di kepalanya tanpa mengetahui bahwa situasi politik domestik memiliki tangan besi nan kuat yang mampu untuk meluluhlantakkan kondisi ideal dan harapan-harapan hidup pasca pendidikannya.
Masisir sudah terlalu lama hidup dalam ruang nyaman. Semuanya berjalan begitu saja dari rapat ke rapat, dari satu scroll ke scroll lainnya. Padahal, sebetulnya, hidupnya berada di bawah bayang-bayang kekuasaan yang siap menghantam kapan saja. Seperti masisir yang duduk menjabat sebagai instrumen dari divisi keilmuan di berbagai organisasi hanya melakukan program kerja yang itu-itu saja dengan motif yang rata-rata sama, menaikkan indeks kelulusan. Tidakkah mereka pernah berpikir menyoal kekurangan pedagogis yang ada dalam kultur belajar mengajar masisir dalam konteks pendidikan politik dan kewarganegaraan, atau jangan-jangan Azhar terlalu sakral untuk dilihat kekurangannya dan berujung pada romantisasi keikhlasan dakatir dalam mengajar? Ketahuilah, itu pekerjaannya.
Belum lagi nyamannya majelis puja-puji tuhan dan nabi (dengan huruf kecil), begitu nikmatnya sampai acara seperti ini digelar berkali-kali. Seharusnya puja-pujian ini tidak berhenti pada kenikmatan estetis saat mendengar alunan dan kombinasi nada-nada yang dihasilkan, dan juga tidak berhenti pada refleksi pribadi atas perjuangan hidup dan dakwah sang nabi melalui aspek-aspek emosional dan tasawuf. Lebih dari pada itu, puja-pujian ini harus menjadi refleksi kolektif atas kondisi sosial dan budaya masyarakat dengan berkaca pada kondisi lingkungan sang nabi. Dengan begini, puja-pujian kepada tuhan dan nabi bisa menjadi kapital sosial yang semakin kuat seiring waktu ketimbang sekadar masturbasi spiritual yang semakin nikmat seiring waktu.
Tak lupa bagi mereka yang menghabiskan malamnya untuk bermain gim dan hanya serius belajar mendekati waktu ujian. Tidakkah kalian menyadari bahwa nilai yang sempurna bukanlah cerminan dari kualitas intelektual—paling tidak berpikir? Tidakkah kalian mengetahui bahwa malakah pengetahuan dibentuk melalui panjangnya waktu belajar diiringi dengan taammul dan nadzar? Tidakkah kalian menyadari bahwa mereka saja yang mendapatkan nilai jayyid masih memiliki masalah konversi nilai ke IPK hingga detik ini? Terakhir, dengan kalimat yang lebih mudah, tidakkah antum ingin menjadi pribadi yang berkualitas dan berintegritas? Di negara sendiri mereka yang berkualitas saja sudah kalah dengan pribadi yang tidak tahu malu dan bermental culas, apalagi.
Perlu diketahui, semua kritik di atas tidak serta merta menunjukkan kesimpulan bahwa masisir sama sekali tidak memiliki kesadaran politik. Tidak, bukan demikian poin saya dalam tulisan ini. Saya menjadi saksi adanya bibit-bibit kesadaran itu muncul dengan adanya mereka yang membagikan story Instagram menggunakan template berisi rekapan kejadian politik terkini, dan ada juga yang membicarakan situasi politik Indonesia di kafe-kafe bersama kawan-kawannya. Kritik tulisan ini tidak ditujukan pada mereka, hanya saja perjuangan yang demikian masih terfragmentasi dan tidak memiliki episentrum yang kokoh, diperlukan sebuah cara atau metode yang mampu mematangkan perjuangan dan memberikan solusi konkret bagi gonjang-ganjing politik Indonesia.
Islam hadir sebagai solusi. Oh tidak, saya tidak bermaksud membawa percakapan ini ke arah “sana” tetapi yang dimaksud solusi pada kalimat ini adalah Islam sebagai medan bebas tafsir dengan tetap mempertahankan konstruksi epistemik yang ia miliki. Sama seperti Marxisme, ia adalah pemikiran yang memiliki batasan epistemiknya sendiri, maka jangan heran apabila kita mendapati perbedaan besar setelah melihat Marxisme dalam tafsiran Stalin dan pengaplikasiannya pada Soviet dan Marxisme dalam tafsiran Xi Jinping dan pengaplikasiannya pada Tiongkok.
Islam tidak berupa ajaran rigid yang hanya boleh ditafsirkan menjadi A atau B. Ia boleh ditafsirkan menjadi hal-hal yang bahkan belum terpikirkan oleh kita sekarang. Inilah bentuk manifestasi ṣāliḥ li-kulli zamān wa-makān. Ingat, jikalau salah dalam menafsirkan ajaran Islam maka kita mendapatkan ajrun wāḥidun, bukan dosa. Jikalau benar, kita akan mendapatakan ajrān. Tuhan Maha Baik, ia memberikan ruang untuk menafsirkan syariatNya demi kehidupan ideal hambanya dan di sisi lain ia memastikan hambanya untuk tidak merisaukan masalah ganjaran pahala dan dosa, sebab apapun yang dilakukan untuk syariat adalah kebaikan dan berpahala.
Oleh karena itu, masisir adalah masyarakat yang beruntung. Selain jaminan kebebasan menafsirkan ajaran agama yang dijanjikan Tuhan, mereka juga memiliki kepercayaan masyarakat dan diberi wewenang untuk menafisirkan teks-teks religius, terlebih lagi mereka hidup di Kairo yang terdapat banyak sekali buku-buku dari berbagai disiplin ilmu dengan harga yang murah. Fakta ini memberikan legitimasi bahwa masisir, setidaknya selama pendidikannya, memiliki kebebasan dalam berpikir, mengombinasikan, dan mengomparasikan bidang keilmuannya dengan keilmuan-keilmuan lain. Usaha-usaha inilah yang kelak akan memberikan kontribusi akademis bagi polemik politik Indonesia.
Sudah banyak kita mengkaji pemikir-pemikir dunia Arab dan kontribusinya bagi perkembangan epistemologi dan budaya Arab. Nama-nama tersohor seperti Ali Shariati, Hassan Hanafi, Hamid Dabashi, dan lainnnya, sudah sering kita jumpai. Lantas apa yang menjadikan masisir sekarang tidak berani merumuskan pemikirannya sendiri, apakah era masisir berpikir sudah selesai di era Gus Dur dan Quraish Shihab?
Berpikir nyatanya memang tidak semudah itu. Tidak adil apabila kita membandingkan zaman kita sekarang dengan zamannya Gus Dur dan Quraish Shihab. Era serba cepat ini membuat perjuangan-perjuangan kecil yang terfragmentasi sebagaimana disebutkan tadi semakin kehilangan pengaruhnya. Untuk itu, masisir memerlukan sebuah wadah netral dan bebas nilai yang bisa merangkul keseluruhan masisir di berbagai bidangnya baik mereka yang fokus di organisasi, kajian, talaqqi, ataupun muthawwif tanpa job yang sedang berada di Mesir. Wadah ini harus menjadi tempat diskusi dan pengujian batas-batas epistemik Islam serta titik kumpul masisir untuk memperkuat perjuangan kawan-kawan di Indonesia. Sebab Islam bukan agama eksklusif yang mengatur pribadi dan tuhannya, Islam juga mampu meliuk-liuk ke dalam seluk beluk kompleksitas perjuangan rakyat.
Lantas apa gunanya kontribusi akademik tanpa praktik? Mengingat jarak yang jauh, masisir bisa jadi akan dianggap sebagai burung berkicau saja tanpa pernah bisa menyentuh ranah penerapannya. Itulah pentingnya menjalin relasi dengan komunitas akademik, organisasi non-profit, atau institusi penelitian di Indonesia. Suara berisik masisir harus menggema dan menjadi wacana yang ikut andil memantik api perjuangan. Sebagaimana media sosial yang mampu memecah belah rakyat, media sosial juga bisa menjadi senjata untuk meningkatkan efisiensi transmisi ide dari tempat-tempat yang jauh. Ketika ide-ide segar masisir dengan ciri khas Islamnya sebagai kapital perjuangan sudah diterima di tanah air, kita serahkan pada koordinator lapangan untuk menguji dan mempraktikkannya di medan juang. Di bawah kubah-kubah masjid, ruang-ruang diskusi terbuka, hingga panasnya aspal yang dipijak oleh parcok dan kacang hijau, kita pastikan suara masisir menggema di sana.
Jangan berhenti di sana, jaga komunikasi dengan kawan-kawan pejuang di Indonesia untuk mendapatkan feedback terkait dengan plus minus ide-ide tadi di lapangan. Selanjutnya, bawa kembali ide-ide itu untuk kembali diolah di think tank masisir. Memang semua itu tidak mudah, sebab naskah akademik untuk mencapai kebijakan atau aksi praktis pastilah dihalangi oleh dinding-dinding besar kepentingan yang beragam, lagi-lagi, tugas kita untuk memastikan Islam bisa menggeliat melewati dinding-dinding itu, bagaimanapun perjuangannya.
“Allāhu Akbar,” ucap imam sebagai komando untuk rukuk. Seketika dialektika di kepala terhenti, kemudian saya melaksanakan rukuk seraya berkata dalam hati Ya Rabb, tidak mengapa hambamu ini tidak mendapatkan Lailat al-Qadr, tetapi berikanlah kemenangan rakyat sebagai gantinya.
Tinggalkan komentar