8 menit baca

Jika Anda mengamati media sosial Facebook sekitar empat tahun lalu, tatkala maraknya wabah Covid19, Anda akan menjumpai perdebatan menarik dari para tokoh-tokoh kita yang memiliki beragam kecenderungan, mulai dari ahli filsafat, agamawan, intelektual, budayawan dan seterusnya. Perdebatan itu memuat suatu polemik tentang sains, agama dan filsafat—suatu perdebatan yang tak akan pernah selesai(?). Dari sana, dinamika meletup tiba-tiba. Mungkin saja ini karena mereka memiliki banyak waktu di rumah sambil membaca.

Baiklah. Kita mulai saja tulisan ini. Mungkin sebagian kita telah mafhum tentang istilah sains itu sendiri. Seseorang menganggap “sains adalah ilmu pengetahuan”, yang lain “sains adalah salah satu cabang pengetahuan modern” atau secara gamblang, sains adalah “satu disiplin ilmu mencakup fisika, biologi dan seterusnya”. Ketiga definisi ini, pada kenyataannya, adalah benar, tergantung konteks mana sains tersebut diucap-diskusikan. Sayangnya, saya selalu menemukan definisi sains yang ambigu dan samar-samar dalam beberapa literatur dan tulisan yang secara spesifik membicarakan tentang hubungan antara sains dan agama.

Setidaknya, bagi saya, terma sains memiliki dua pemahaman; (i) sains adalah satu sistem pengetahuan yang memiliki kriteria dan penalaran yang rigid dan sistematis. Makna sains di sini mungkin bisa kita padankan dengan ilmu pengetahuan (logos), sehingga pada era modern disebut science yang dimaksud adalah ilmu, seperti political science, Islamic science, dan seterusnya; (ii) sains adalah salah satu cabang filsafat yang menyelidiki dunia fisik. Dalam sejarah filsafat, kata sains di sini tumbuh dan berkembang dalam domain filsafat alam (natural philosophy).

Menurut hemat saya, kedua pemahaman ini punya nomenklatur masing-masing—serial dalam tulisan ini menitikberatkan pada kemunculan ‘sains’ bermakna filsafat alam, bukan ilmu pengetahuan.

***

Mungkin, satu-satunya cabang filsafat yang bersamaan dengan kehadiran manusia adalah filsafat alam. Filsafat alam ada, barangkali, sejak manusia itu ada karena ia berhubungan langsung dengan kondisi tempat di mana ia hidup dan tinggal. Manusia sejak awal sudah belajar tentang alam melalui metode pengenalan tentang lingkungan, hewan, tumbuhan dan fenomena alam. Kita bisa membayangkan, misalnya, manusia yang hidup di zaman batu. Mereka dan nenek moyangnya mungkin hidup berpindah dari satu tempat ke tempat lain karena perubahan zaman, atau mengetahui tempat pemburuan ikan yang cocok di laut, hewan-hewan apa saja yang bisa dikonsumsi dan tumbuh-tumbuhan mana saja yang bisa dijadikan obat. Itu semua adalah satu potret di mana manusia—secara langsung, sadar atau tidak sadar—melewati proses pengenalan tentang kondisi-kondisi di sekelilingnya.

Kita tahu bahwa filsafat pertama kali menjadi satu aktivitas yang sistematis pada era Yunani, era di mana pemikiran manusia tentang dunia berkembang pesat—setidaknya melampaui pemikiran zaman sebelumnya; Mesir kuno dan Mesopotamia, sekalipun dalam beberapa catatan para filsuf meneguk ide-ide dari sana. Tentu, topik yang paling sentral kala itu adalah alam semesta. Sejarah mencatat ada banyak nama-nama yang ikut melemparkan pertanyaan sekaligus jawaban mengenai alam ini, untuk lebih lanjut, Anda bisa membaca lebih jauh tentang ini dengan merujuk buku-buku sejarah filsafat. Hasil dari para filsuf ini membuka babak baru tentang pemahaman manusia tentang alam.

Apa maksudnya? Sebelum para filsuf, peristiwa-peristiwa alam dalam konsepsi masyarakat Yunani, Mesir kuno dan Mesopotamia masih didasari oleh pandangan-pandangan supranatural. Dalam konteks kebudayaan kita tentang proyeksi gempa bumi atau gerhana matahari, barangkali, adalah peristiwa dari kemarahan dewa atau jin-jin yang sedang mencari mangsa. Inilah yang saya maksudkan dengan ‘pemahaman baru’ tentang alam. Oleh karena itu, yang perlu digaris bawahi di sini adalah filsafat alam mengawali karirnya dengan mempertanyakan alam dengan menangguhkan kekuatan luar (supranatural).

Observasi dan Logika Induksi

Filsafat alam bermula tanpa nama dan tanpa sistem, sampai dibangun secara utuh dan sistematis melalui karya-karya Aristoteles. Ia menjadi figur filsuf paling signifikan yang, mungkin saja, akan dirujuk sampai akhir nanti dalam sejarah pemikiran filsafat. Perluasan pengetahuan yang ia susun adalah ‘kebijaksanaan’ yang bahkan bisa kita rasakan saat ini. Salah satu aspek terpenting dalam filsafat alam Aristoteles adalah penyelidikan atas segala fenomena-fenomena alam yang terjadi. Berbeda dengan pendahulunya, Aristoteles tidak berhenti pada pengandaian-pengandaian atas fenomena alam. Tetapi juga berupaya untuk menyelidiki fakta-fakta paling dasar seperti pada perhatian penuhnya pada entitas-entitas alam seperti hewan, tumbuhan dan bintang-bintang melalui metode observasi.

Dalam Historia Animalium__, yang menjadi rujukan Alister McGrath, Aristoteles melakukan dengan baik pengamatan tentang sikap-sikap hewan. Ia berargumen bahwa observasi secara kompleks dalam pola makhluk hidup dapat dijelaskan melalui prinsip dasar seperti kebutuhan makanan, perubahan temperatur, dan isu-isu yang berkaitan dengan pengembang-biakan. Penelitiannya terhadap hewan, tumbuhan dan manusia menciptakan satu cabang pengetahuan mandiri yang biasa disebut biologi.

Penyusunan filsafat alam tidak berdiri sendiri. Penjelasan observasi atas berbagai entitas luar akan mengarahkan kepada konklusi-konklusi yang salah (false conclusions) tanpa dibarengi satu metode yang rigid. Oleh karena itu, satu-satunya metode yang beriringan dengan observasi dan investigasi empirik adalah kerangka logika induksi—satu kerangka yang tidak menghasilkan konklusi yang benar dalam segala waktu, berbeda dengan kerangka logika deduksi (terma ini dalam perkembangan sains modern memiliki implikasi yang sangat besar. Sependek pengetahuan saya hal ini biasa disebut dengan probabilitas).

Ajarannya tentang penalaran induksi berjalan seiringan dengan kerangka filsafat alam yang bersifat dinamis. Di satu sisi, logika induksi berjalan dari sampel khusus ke proposisi umum yang bersifat universal. Dan, di sisi lain, filsafat alam—yang dalam dirinya adalah sesuatu yang selalu baharu—mau tidak mau harus berurusan dengan fakta-fakta yang diperoleh melalui hasil observasi. Dua model inilah yang dapat menghasilkan penjelasan saintifik (scientific explanations), sehingga filsafat alam akan selalu berhubungan dengan observasi dan logika induksi.

Kalau kita menengok kembali revolusi saintifik yang diawali oleh perubahan besar mengenai sistem tata surya, kita akan menemukan pergeseran dari paradigma Aristoteles yang dalam hal ini adalah pandangan geosentris menjadi pandangan heliosentris. Apa yang menjadi kekurangan dari pandangan lama sains Aristoteles, selain penemuan alat bantu baru yakni teleskop, mikroskop dan seterusnya, adalah bukti-bukti observasi lama yang tidak sesuai (not adequately) dengan fakta-fakta baru. Ada satu kekosongan yang terkuak tatkala ditemukannya fakta dan variabel baru.

Pada titik ini kita telah melihat bagaimana filsafat alam bekerja melalui dua model. Tetapi, muncul masalah baru, yaitu belum adanya seseorang yang mampu mendefinisikan dan mengklasifikasikan filsafat alam dengan segala ruang lingkupnya. Masalah ini memang masalah semenjak Mesir kuno sampai awal-awal Yunani, sebagaimana yang Aristoteles ungkap. Segala perubahan yang melibatkan benda-benda material masih dimasukkan pada ranah filsafat alam. Selanjutnya, kontribusi Aristoteles berubah.

Klasifikasi Filsafat Alam

Aristoteles memahami bahwa filsafat alam adalah disiplin yang mandiri. Dalam Meteorology, filsafat alam dipahami sebagai sistem penyelidikan pada perbedaan elemen dunia alam untuk menemukan koneksi antara bagian-bagian yang berbeda, kemudian mengarah kepada pemahaman atas alam—inilah yang di beberapa literatur Aristoteles menyebutnya sebagai the__ō__ria. Kemunculan dari nosi te__ō__ria ini sebagai penjelasan tugas-tugas filsafat dan penetapan hasil sebagai sesuatu yang penting.

Dalam tinjauan Edward Grant, Aristoteles mengklasifikasi metafisika, matematika dan fisika. Pengklasifikasian ini merujuk pada objek itu sendiri. Dua yang pertama kembali kepada entitas yang tidak cukup memadai pada gerak dan perubahan. Sedangkan entitas filsafat alam, yakni fisika, mengalami gerak dan perubahan. Tapi, apa yang dimaksud Aristoteles dengan pengalaman gerak dan perubahan? Pengalaman gerak dan perubahan adalah esensi yang membersamai entitas alam material. Dengan sifat dan konsekuensinya, maka kedua model di atas, observasi dan induksi, menjadi berlaku. Dengan demikian, bahwa menurut Aristoteles metafisika dan matematika jelas berbeda dengan filsafat alam karena klasifikasi filsafat alam hanya berkutat pada aspek-aspek yang mengalami gerak dan perubahan—menyingkirkan teologi, matematika dan metafisika sebagai pengetahuan yang bersifat teoritis dan praktis. Meskipun bagi Aristoteles ilmu eksakta—seperti matematika, optik, harmonika dan astronomi yang berada di tengah-tengah antara matematika murni dan filsafat alam—tetap relevan bagi keduanya karena dianggap sebagai scientiae mediae (ilmu perantara).

Akhirnya saya memahami bagaimana penggunaan ‘sains’ dan ‘filsafat alam’ itu muncul dan menjadi lebih jernih di sela-sela pengertian yang tumpang tindih, sekalipun saya belum menjelaskan makna pertama ‘sains’. Muzaffar Iqbal, Hossein Nasr barangkali menjadi deretan yang—pada beberapa literatur yang pernah saya baca—enggan mencoba mendefinisikan lebih dulu makna sains sebelum memaparkan bagaimana polemik agama dan sains. Meskipun, pada beberapa waktu, pertentangan antara agama dan sains terakumulasi pada zaman pertengahan era kebangkitan Barat. Untuk serial selanjutnya, saya akan menulis secara historis tentang perkembangan sains pada era akhir kegelapan (late antiquity) yang menjadi momen agung dan bersejarah pada perkembangan sains modern.

Daftar Pustaka

Bertens, K. Sejarah Filsafat Yunani. 5th ed. Vol. 5. D. I. Yogyakarta: Kanisius, 2022.

Grant, Edward. A History of Natural Philosophy: From the Ancient World to the Nineteenth Century. Cambridge New York: Cambridge University Press, 2007.

McGrath, Alister E. The Reenchantment of Nature: The Denial of Religion and the Ecological Crisis. 1st Galilee ed. New York: Doubleday/Galilee, 2003.

Diupdate:

Tinggalkan komentar