Epistemologi Sebagai Signifikansi Metafisik Revolusi
Revolusi adalah salah satu momen krusial yang lahir dari akumulasi keresahan masyarakat terhadap pemerintah. Namun, revolusi sejatinya bukan hanya sekadar transformasi politik, melainkan juga memiliki aspek metafisik dan epistemologis yang menjadi cikal bakal terciptanya aktivitas tersebut. Tulisan ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana epistemologi dapat memberi signifikansi metafisik pada aktivitas revolusi, serta memperluas maknanya sebagai upaya transformatif multidimensi.
Epistemologi adalah bidang studi filsafat yang membahas tentang teori pengetahuan. Sifat-sifat, asal-usul, batasan, serta metodologi dan validitas penelitian tentang pengetahuan. Dalam perkembangannya, masing-masing pemikir memiliki cara tersendiri untuk memahami keberawalan pengetahuan manusia. Beberapa yang terkenal adalah René Descartes dengan rasionalisme, yakni setiap individu independen secara epistemik, mereka berhak menentukan sendiri apa yang ingin atau tidak ingin dipercayai. Juga Immanuel Kant dengan kritisisme, yakni manusia tidak mendapatkan pengetahuan secara langsung melainkan terlebih dahulu diinterpretasikan melalui kerangka terstruktur dalam fakultas-fakultas kognitif.
Membahas epistemologi dalam revolusi berarti menelusuri sejauh mana aktivitas kognitif individual dalam melakukan suatu tindakan, serta kuat lemah pengaruhnya terhadap kesadaran kolektif yang memicu pecahnya revolusi. Dalam hal ini, kacamata yang cocok digunakan untuk membedah adalah epistemologi materialis-dialektis milik Karl Marx dan Friedrich Engels. Sebab, materialis-dialektis memahami dunia sebagai sesuatu yang terus bergerak dalam proses konstan pembaharuan, sesuatu yang telah lama berkembang dan menua digantikan oleh yang baru. Begitulah sifat alam dan masyarakat bekerja.
Sebagaimana pandangan utama materialis-dialektis, materi (matter) dan gerak (motion) adalah yang utama dan alam eksternal, sebagai sumber pengetahuan objektif, menghasilkan pola pikir mengingkari sesuatu yang absolut. Karena sejatinya segala pengetahuan yang didapatkan berjalan secara dialektis dan senantiasa menghasilkan perubahan-perubahan pada dunia. Dengan menekankan pada sifat dinamis moral dan kebenaran, akan mudah untuk melihat efeknya yang signifikan pada aktivitas revolusi.
Lantas apakah materialisme-dialektis menanggalkan konsepsi benda-pada-dirinya (an sich) yang masyhur pada Kantian dan Humean dengan menolaknya begitu saja dan menyatakan bahwa benda dan semua pergerakannya adalah betul-betul sesuatu yang objektif sebagaimana tercantum dalam tesis pertama Marx (gegenständliche wahrheit)?
Engels memang menyatakan keberatannya dengan Hume dan Kant. Namun perihal benda-pada-dirinya, Hume sebetulnya tidak ingin tahu terkait dengan “benda-pada-dirinya”, baginya pemikiran itu adalah hal yang tidak diperkenankan secara filosofis dan memasukkannya ke dalam dimensi metafisika. Adapun Kant, mengakui keberadaan “benda-pada-dirinya” dan menyatakannya sebagai sesuatu yang tidak bisa diketahui. Secara fundamental ia berbeda dengan penampakan dan masuk dalam kategori alam pelampauan (jenseits) yang mana tidak dapat diakses pengetahuan kecuali diproyeksikan oleh iman.
Engels keberatan dengan hal itu. Katakan dahulu kita menemukan alizarin hanya pada akar marena. Namun sekarang kita juga menemukan alizarin pada tar batubara. Pertanyaannya adalah apakah sejak dahulu alizarin ada pada tar batubara atau baru sekarang? Tentu saja ada sejak dahulu. Demikian pula tercantum pada tesis kedua Marx, bahwa persoalan objektivitas adalah persoalan praktis dan bukan teoretis. Oleh karena itu, bagi Engels “benda-pada-dirinya” pada tingkat lanjut adalah “benda-untuk-kita” (für sich), yakni kebenaran objektif bergantung pada aktivitas korespondesi.
Benda-benda yang ada di dunia menjadi objek korespondensi ide-ide kita. Begitu pula di luar kita, aktivitas fenomenal benda-benda yang juga merupakan korespondesi dari aktivitas nyata di luar kita, yaitu aktivitas benda-benda lain. Dalam kondisi ini, manusia adalah bagian dari yang absolut. Tidak hanya pada tataran teoretis, tetapi juga pada aktivitas praktis. Oleh karena itu, semua aktivitas manusia, memperoleh kehormatan dan kemuliaan, dan dimungkinkan baginya untuk melangkah sejajar bersama teori. Di sini nampak jelas bagaimana aktivitas revolusi memperoleh signifikansi metafisik.
Mari bertolak pada contoh kasus. Khaled Saeed, pemuda asal Mesir berusia 28 tahun yang harus meregang nyawa akibat kekejaman oknum polisi. Ia hanyalah seorang pemuda biasa yang pada saat itu ingin singgah ke warung internet untuk menyapa teman-temannya. Ia tidak pernah melakukannya, belum satu langkah memasuki tempat itu, dua polisi sudah menghantamkan kepalanya ke pintu, kemudian membenturkannya ke lantai beton, dilanjutkan dengan ragam cara penyerangan tanpa henti bahkan setelah 20 menit kematiannya. Yang lebih memilukan, peristiwa itu disaksikan oleh khalayak ramai yang menikmati malam musim panas, termasuk anak-anak. Anak-anak.
Penyerangan baru berhenti setelah seorang dokter berhasil meyakinkan polisi akan kematian Saeed. Padahal para warga berkali-kali berusaha untuk menghentikannya namun malah dibalas dengan ancaman siapapun yang berani ikut campur akan berakhir sama seperti Saeed. Setelah peristiwa itu, polisi memasukkan jasad korban ke dalam mobil polisi dan membawanya pergi. 10 menit kemudian, polisi tersebut datang kembali, meletakkan jasad di tempat yang sama, dan ambulans datang menjemputnya.
Ketegangan tercipta di masyarakat. Mereka semua berkumpul dalam satu grup facebook bernama We are Khaleed Saeed. Semua orang ketakutan akan kemungkinan, bisa jadi dirinya menjadi Khaleed Saeed yang berikutnya. Ketegangan ini terus berlangsung, ditambah dan diakumulasikan oleh percakapan dan diskusi di media sosial yang seketika pecah pada tanggal 25 Januari 2011. Peristiwa ini kemudian kita kenal sebagai Revolusi Mesir 2011 untuk menggulingkan rezim brutal Hosni Mubarak.
Pengeroyokan Saeed adalah basis material yang menjadi titik tolak revolusi. Suara hantaman kepalanya ke beton terngiang-ngiang di kepala masyarakat, rahang yang dislokasi dilihat oleh anak-anak, ancaman polisi bagi siapapun yang ikut campur, semuanya adalah aktivitas fenomenal materi yang berkorespondensi dengan aktivitas kognitif individu. Individu-individu tersebut mengumpulkan hasil dari aktivitas kognitif mereka pada satu titik temu yang sama, yakni grup facebook, yang menjadi tempat mencurahkan kekhawatiran mereka selagi perlahan mengumpulkan bahan bakar untuk menyulut revolusi.
Jika kita memperhitungkan kemungkinan pecahnya revolusi, maka bagaimanapun kesadaran kolektif masyarakat terakumulasi sebetulnya hanya ada dua kemungkinan yang bisa tercapai; pertama, revolusi terjadi; kedua, revolusi tidak terjadi. Kemungkinan ini dimungkinkan sebab sebelum revolusi politik atau sosial dimulai, ada revolusi yang harus lebih dahulu dimulai, yaitu revolusi sebagai praksis kesadaran, bagaimana seorang individu memilih pilihan hidup secara cepat dan reaksioner, bukan akibat dari pendidikan dan pertumbuhan secara lambat (evolusi). Dan yang perlu diingat adalah sekalipun pilihan hidup yang reaksioner, konsep pengetahuan baik buruknya suatu tindakan masih bersandar pada konsep fundamental yang berupa alat klasifikasi yang sarat akan konteks sosial.
Aspek moralitas individu harus digali sedalam-dalamnya agar tidak terjebak dalam kerangkeng bentukan sosial. Semisal kita katakan saya percaya akan sesuatu, maka di waktu yang sama sesuatu tersebut juga memiliki kemungkinan salah. Oleh karena itu, saya harus memiliki landasan kokoh yang menjamin bahwa sesuatu yang saya percayai benar adanya. Namun, saya tidak bisa meyakinkan kebenaran keyakinan sebab keterbatasan pengetahuan, maka saya dimungkinkan untuk salah. Selama individu memiliki kemungkinan untuk salah sebab tidak adanya landasan kokoh untuk mengatakan bahwa sesuatu adalah benar, maka tidak ada landasan yang menjamin kebenaran sesuatu, maka pengetahuan benar salah adalah mustahil. Bagaimana cara melampaui kenyataan ini agar revolusi bisa bergerak dari tingkat individu ke kolektif?
Jika kita kembali pada epistemologi materialis-dialektis, persoalan semacam ini mudah saja untuk dipecahkan. Benar salah memang berubah-ubah sesuai dengan kondisi dan kebutuhan. Berikan penekanan pada kesadaran individu bahwa manusia bertugas untuk melahirkan kemungkinan-kemungkinan itu, bukan terjebak di dalamnya. Sebab, manusia selalu dalam proses menjadi (becoming) dan bukan entitas lengkap dan definitif. Manusia direpresentasikan melalui pilihannya masing-masing hingga pilihan-pilihan tersebut melahirkan kemungkinan-kemungkinan baru yang beririsan dengan individu satu sama lain dan diakumulasikan menjadi keinginan dan pilihan kolektif, di sana revolusi dimungkinkan.
Hal serupa juga bisa kita temukan dalam epistemologi analitik. Gilbert Ryle membagi pengetahuan menjadi tiga; pengetahuan proposisional (knowledge-that), kemampuan dan kapasitas (knowledge-how), serta kebijaksanaan dan kebiasaan ( knowledge-to). Tiga jenis pengetahuan ini dirangkai menjadi satu kesatuan dan mengandung pengetahuan pluralistik mengenai moral, emosional, dan interpersonal. Begitu juga dengan pengetahuan yang dibawa melalui studi dan praktik seperti musik, seni dan olahraga.
Ketiga pengetahuan ini membuat hubungan koheren yang dikenal dengan kebijaksanaan intelektual. Mereka yang memiliki kemampuan intelektual tinggi seharusnya akan menyadari kapabilitas dan kemungkinan salah dirinya. Individu yang telah menyadari hal ini akan lebih dekat kepada kebajikan dan kebenaran. Dari sini kita mendapati, bahwa prakondisi pengetahuan proposisional adalah kebijaksanaan intelektual yang menyatu dengan kemampuan praktikal. Baru kemudian dialektika dan perimbangan dilakukan berdasarkan tiga pengetahuan ini yang akan memantik pilihan cepat saat momen revolusi dimungkinkan.
Ketika individu telah menyadari pentingnya keberadaannya di dunia, maka di saat itu pula kesadaran bisa menjadi subjek sejarah. Di sinilah letak revolusi intelektual, individu yang mampu bertindak dan mengekspresikan emosinya terhadap peristiwa sosial, lengkap dengan rasa tanggung jawab penuh atas semua tindakan yang dilakukan, didukung dengan respon individu lain yang ada kalanya mendukung atau mengkritik setiap tindakan dan pilihan kita untuk menjaga objektivitas moral dan rasional pada laku tubuh manusia. Intelektualitas tinggi yang menubuh pada setiap individu perlahan bergerak mengarah pada sikap intelektual kolektif yang menjadi cikal bakal aktivitas revolusi.
Tetapi dimana letak kekurangan epistemologis apabila revolusi tak kunjung pecah padahal basis-basis material yang diperlukan sudah tersedia dan terpenuhi? Ketergantungan epistemik. Cobalah untuk merunut dari mana asal-usul informasi yang masyarakat dapatkan dan hindari bergantung pada sistem informasi yang ditunggangi otoritas. Baik individu maupun kolektif seharusnya mampu mengevaluasi realitas secara independen, sebab kesadaran bukan hal yang statis melainkan dibentuk secara reflektif dan bersifat interogatif. Dalam arti paling luas, edukasi adalah bahan bakar paling penting untuk meledakkan revolusi.
Daftar Pustaka
Bakhurst, D. (2020). Teaching and Learning: Epistemic, Metaphysical and Ethical Dimensions— Introduction. Journal of Philosophy of Education, 255-267, https://doi.org/10.1111/1467-9752.12418
Dewitt, A. (2012). Group Agency and Epistemic Dependency. Episteme, 235-244, https://doi.org/10.1017/epi.2012.13
Keller, D. R. (2019). From Empiricism and Rationalism to Kant and Nietzsche. Studies in Global Studies, 133-160, https://doi.org/10.1007/978-3-030-11636-1_7.
Khalil, A. (2012). Liberation Square. Cairo: The American University in Cairo Press.
Khatri, T. B. (2022). Dialectical Materialism and its Theory of Knowledge. Patan Prospective Journal, 254-261, https://doi.org/10.3126/ppj.v2i2.53125.
Lenin, V. (2023). Materialisme dan Empirio-Kritisisme. Malang: Edisi Mori.
Malik, N. (2019). Karl Marx’s Dialectical Materialism A Philosophical Analysis. Al-Hikmat: A Journal of Philosophy, 1-17.
احمد برقاوي. (2014). أنطولوجيا الذات. Morocco: المركز الثقافي العربي.
Tinggalkan komentar