Berebut Tangan Berdarah Sang Penjahat HAM
Pada tanggal 17 Desember 2024, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto tiba di Mesir untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) D8. Di tengah-tengah kesibukannya itu, ia menyempatkan diri untuk menyapa masisir dan memberikan pidato sepatah dua patah kata di Al-Azhar Convention Center pada tanggal 18 Desember 2024.
Ratusan masisir hadir dan menyaksikan momen penting itu, mereka berpenampilan rapi dengan mengenakan jas dan kakula. Namun sangat disayangkan, saat Prabowo hendak meninggalkan lokasi banyak masisir yang berebutan untuk bersalaman dengannya sampai membuat suasana menjadi tidak kondusif, bahkan Rektor Universitas Al-Azhar, Prof. Salama Dawood, sampai-sampai hampir terjatuh akibat ricuhnya masisir.
Apa yang membuat masisir bertingkah sedemikian rupa? Apakah kecintaan pada presiden dan nasionalisme yang kuat menyebabkan mereka lupa atas sejarah kelam yang telah ia lakukan sebelumnya? Tidakkah menjadi paradoks masisir yang kental dengan pembelajaran agama justru berebutan menyalami tangan kriminal? Tulisan ini bermaksud untuk menyelidiki dan menakar mengapa hal-hal yang disebutkan di atas dimungkinkan untuk terjadi.
1. Analisis Metode Belajar
Islam adalah agama yang menjunjung tinggi keadilan dan menolak segala rupa kezaliman, sebagaimana tercantum dalam Al-Qur’an:
”Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS. An-Nahl: 90)
Seharusnya pengetahuan dan nilai-nilai keislaman bisa digunakan sebagai pisau analisis untuk membedah realitas sosial. Semisal dengan menggunakan ayat di atas, kita bisa menghasilkan berbagai macam pertanyaan seperti, “apakah sang pemimpin telah berlaku adil?” atau bisa juga seperti, “apakah sang pemimpin memiliki rekam jejak berbuat keji, atau bahkan memulai permusuhan?” Islam dengan segala kekayaannya telah menyiapkan perangkat untuk berpikir kritis dan merespons peristiwa sosial.
Namun kita mendapati banyak dari masisir yang bereaksi berlebihan, seakan-akan lupa siapa orang yang ingin ia salami. Maka dari sini kita bisa melihat pendidikan yang ditempuh oleh masisir di Universitas Al-Azhar hanya berhenti pada tataran pengetahuan yang bersifat ritual dan menyelamatkan dirinya saat ujian, belum menjadi sebuah laku keseharian yang menubuh.
Tentu kita tidak bisa menyalahkan masisir sepenuhnya atas masalah ini. Karena adanya asap mesti didahului api, begitu pula dalam persoalan ini. Kami menduga ketidakbertubuhan pengetahuan dan nilai-nilai keislaman berkaitan erat dengan metode belajar yang cenderung satu arah, yakni menerimanya dari guru tanpa adanya elaborasi lebih lanjut. Akhirnya, pengetahuan hanya menjadi objek formal pembelajaran yang tidak jelas fungsinya secara substansial.
Lantas jika demikian, tanggung jawab siapa masalah ini? Sekurang-kurangnya masing-masing individu masisir harus menyadari keadaan dan metode belajar yang ia pakai. Jika sudah sadar, gunakan pengetahuan yang didapat itu dalam dialog imajinatif keilmuan, bisa dengan menabrakkannya dengan pengetahuan lain, menguji batasan-batasannya, merekonstruksi premisnya, dan lain-lain. Jangan hanya dibiarkan dingin di kepala dan baru kembali dipanaskan saat ujian mendekat.
Demikianlah kemungkinan pertama mengapa masisir berebutan untuk mencium tangan Prabowo.
2. Kesadaran Palsu Masisir
Kesadaran palsu adalah suatu kondisi yang menyebabkan individu atau kelompok sosial tidak menyadari penindasan yang sedang mereka hadapi, kemampuan dan potensi mereka, posisi mereka dalam sejarah, dan bahkan kemauannya sendiri yang disebabkan oleh distorsi pada persepsi terhadap realitas. Hal ini terjadi akibat narasi dominan yang digulirkan oleh elit dan kaum penguasa yang selalu menghiasi citra presiden sebagai pribadi yang baik tanpa cacat.
Masyarakat dicekoki narasi-narasi jahat ini setiap hari melalui media sosial dan media-media lain, menyebabkan perubahan krusial pada cara pandang individu terhadap bagaimana nilai-nilai sosial bekerja, roda ekonomi berputar. Yang harusnya untuk kepentingan umum, beralih menjadi kepentingan pemimipin. Dan ini semua terjadi tanpa sadar.
Dalam kasus masisir, sepertinya pemilu yang lalu betul-betul berperan dalam membentuk kesadaran individu. Walaupun paslon 01 menang dengan persentase 73,60%, tetapi paslon yang menjual lore kehebatan masa lalu dan romansa yang berakhir tragis lebih mendapatkan tempatnya di kepala masyarakat, tak terkecuali masisir.
Jika kesadaran saja sudah rusak, maka bagaimana kita bisa memperbaiki ini semua? Salah satu caranya adalah dengan melakukan muhasabah sosial, sebagaimana tercantum dalam Al-Qur’an:
“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
(QS. Ali Imran: 104)
Tidak perlu semua, hanya segolongan saja. Temui mereka-mereka yang terlampau fanatik dengan kehadiran bapak presiden dan berikan beberapa nasihat untuknya. Mungkin terdengar remeh, tetapi pendekatan intim begini diharapkan lebih tepat sasaran ke jantung hati dan bisa menyadarkannya.
Bagaimanapun, presiden adalah entitas politik yang sudah pasti memiliki koeksistensi entitas politik lainnya, sebab dunia politik bersifat pluriversal dan bukan universal. Tidak mungkin hanya dengan satu entitas politik bisa merangkul semua pemahaman atau pandangan-pandangan humanisme. Pada akhirnya yang benar-benar nyata dan tersisa adalah moralitas, hukum, kesenian, hiburan, dan bidang-bidang lain yang berganti-gantian diolah oleh entitas politik.
Begitulah kemungkinan kedua, kesadaran palsu.
3. Pendekatan Psikologis dan Moral
Ketika ada peristiwa yang mendadak, maka pikiran manusia dengan sendirinya akan merespon secara cepat dan reaktif. Ini termasuk salah satu keajaiban tubuh kita, kemampuan ini disebut dengan berpikir heuristik. Berpikir heuristik adalah cara bagaimana otak bisa mensimplifikasi operasinya dengan menggunakan kemampuan intuitif. Ciri-cirinya adalah pikiran lebih berfokus pada kesamaan yang dimiliki suatu benda (common) daripada apa yang membedakan benda tersebut dengan benda lainnya (differ). Dengan kata lain, otak akan lebih fokus pada yang umum ketimbang yang khusus.
Sebagaimana kita membuat sebuah definisi, ia harus tersusun atas genus dan differensia. Semisal kita mendefinisikan Prabowo dengan ‘Presiden Penjahat HAM’ atau ‘Presiden ke-8’, berarti kata ‘Presiden’ adalah genus dan ini lebih diketahui oleh banyak orang, sedangkan kalimat ‘Penjahat HAM’ dan ‘ke-8’ adalah differensia, yakni yang membedakan Prabowo dengan presiden-presiden lainnya. Dengan berpikir heuristik, yang akan pertama kali muncul dalam kepala adalah yang umum, yaitu ‘Presiden’ tanpa menambahkan ‘Penjahat HAM’ atau ‘ke-8.
Jika pembaca tidak percaya ini nyata, anda boleh mencoba mempraktikkannya dengan teman atau orang terdekat anda dengan cara sebagai berikut:
- Mari kita sepakati bahwa definisi dari manusia adalah ‘Makhluk hidup yang berpikir’
- Berikan waktu 3 detik untuk menjawab bagi teman anda
- Lemparkan pertanyaan “Apa definisi dari manusia?” kemudian hitung sebanyak 3 detik
Kami meyakini, dalam keadaan mendesak selama 3 detik, otak akan dipaksa berpikir heuristik sehingga jawaban yang akan keluar berupa genus (umum) yakni ‘makhluk hidup’ tanpa menyebutkan ‘yang berpikir.’ Bukan karena tidak mengetahuinya, tetapi karena terhimpit oleh waktu yang diberikan. (Jawaban hayawan nathiq tidak dihitung sebab sudah masyhur dan menjadi bagian dari muqarrar.)
Begitupula urutan kejadian yang serba cepat saat kedatangan Prabowo kemarin. Jika dilihat-lihat, acara kunjungan Presiden yang berlangsung di Al-Azhar Convention Center beserta seluruh protokoler, hadirin, sampai spanduk, semuanya disiapkan kurang dari satu hari. Sehingga tidak heran banyak masisir memasang sikap reaksioner, bahkan memasang story whatsapp pada pukul 00.00 dengan bertuliskan ‘Selamat Datang Presiden Republik Indonesia.’ Mereka paham dan sadar bahwa ‘Presiden’ telah datang bukan ‘Penjahat HAM’ telah datang, begitulah mekanisme pikiran bekerja.
Kalau sudah permasalahan psikologis, apa masih bisa kita memperbaikinya? Tentu bisa! Otak memang bereaksi dengan sangat cepat, namun setelahnya kita tetap memiliki kemampuan untuk mengolah informasi yang didapat. Semisal tatkala Prabowo datang, otak langsung bereaksi secara heuristik dan mendapatkan informasi ‘Presiden telah sampai.’
Sekarang waktunya memasak, kami menggunakan prinsip universal dalam filsafat etika Kantian. Prinsip universal adalah sebuah hukum yang mengatakan bahwa seorang individu harus bertindak sesuai dengan maksim (asas suatu aksi) dan dengan waktu yang sama tindakan tersebut menjadi hukum universal tanpa adanya kontradiksi.
Mari berpindah ke contoh kasus, semisal anda dihadapkan pada kejadian yang melazimi seorang Presiden berjalan pada posisi yang sangat dekat dengan anda. Tak mau melewatkan kesempatan, anda mengulurkan tangan kepada Bapak Presiden agar bisa bersalaman dengannya, yang mana anda sendiri menyadari bahwa aktivitas ini akan menghambat jalannya Bapak Presiden.
Jika anda mengakui maksim dari aktivitas anda, yakni mengulurkan tangan dan menghambat waktu Presiden, maka disaat yang sama pula anda menguniversalisasi aktivitas tersebut, yaitu orang lain boleh melakukan hal yang sama seperti yang anda lakukan. Sayangnya, ini akan menuntun pada kontradiksi, berarti semua orang akan menghalangi jalannya Presiden dan menghambat waktu. Maka kesimpulannya, mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Presiden bukan aktivitas yang universal secara moral. Demikian berakhir penjelasan kemungkinan ketiga.
Penutup
Kemungkinan terakhir bagaimana masisir bisa berebutan untuk bersalaman dengan Prabowo yang sekaligus menjadi penutup tulisan ini, adalah mereka yang hanya riding the wave sambil menikmati euforia yang ada, semoga masisir terhindar dari kemungkinan ini.
Daftar Pustaka
Doore, G. (1985). Contradiction in the Will. , 76, 138 - 151. https://doi.org/10.1515/kant.1985.76.1-4.138.
Kahneman, D., Sibony, O., & Sunstein, C. R. (2022). Noise: A Flaw in Human Judgement. London: William Collins.
Schmitt, C. (2007). The Concept of The Political. Chicago: The University of Chicago.
عبد الرحمن مصطفى سالم. (2017). مذكرة في علم المنطق. القاهرة: الرواق الازهري.
Tinggalkan komentar