Film Tidak Pernah Netral
Film Turang (1957) karya sutradara Bachtiar Siagian secara tidak sengaja ditemukan oleh seorang seniman video asal Uzbekistan. Suatu hari di tahun 2024, ia mengakses arsip Gosfilmofond di Rusia dan menjumpai sebuah berkas film dengan judul Turang. Tidak ada nama sutradara, tidak ada sinopsis. Hanya judul.
Setelah memverifikasi isinya—tentu dengan proses rumit—jelaslah, itu memang Turang: sebuah film revolusioner Indonesia yang puluhan tahun dianggap hilang. Turang bukan saja artefak sinema. Ia adalah warisan yang ditolak oleh negaranya sendiri, diasingkan karena dianggap berbahaya sebab berbeda visi dengan penguasa politik kala itu.
Awal Juni lalu, Turang dibawa ke Kairo oleh putri sang sutradara, Bunga Siagian. Film ini diputar di sebuah bioskop sederhana di kawasan Downtown. Pada mulanya, Bunga hanya ingin menayangkan film tersebut bersama koleganya, sineas lokal di Mesir. Siapa sangka, antusias Masisir begitu tinggi. Puluhan mahasiswa pemegang paspor Indonesia itu berduyun-duyun menuju bioskop, tempat pemutaran film Turang.
Alasan Masisir serempak mengikuti pemutaran film ini_,_ hemat saya, bukan saja karena ada unsur Indonesia-nya. Lebih jauh dari itu, mereka ingin mengerti, bagaimana model film yang disembunyikan oleh negara mereka selama puluhan tahun. Usai pemutaran Turang, beberapa orang yang saya temui mengaku: “betapa cupunya negara kita, dengan film seperti ini saja ketakutan.”
Memorialisasi Kolektif
Lika-liku perjalanan Turang menunjukkan bahwa film bukan saja tayangan hiburan. Ia membawa memorialisasi kolektif yang harus dijaga dan dirawat. Film tersebut mengisahkan bagaimana masyarakat tanah Karo, secara gerilya melakukan perlawanan terhadap penjajah Belanda. Turang merupakan bagian dari arus besar Sinema Dunia Ketiga, sebuah gerakan sinema yang muncul di negara-negara Global South yang menyuarakan pengalaman rakyat dalam melawan imperialisme dan penjajahan.
Berbicara tentang memorialisasi kolektif, ia tidak dapat dilepaskan dari kenyataan bahwa sejarah sering kali ditulis oleh penguasa. Artinya, perjuangan rakyat kecil dengan keberanian dan ketulusan untuk mempertahankan tanahnya, sering kali tidak dicatat dalam sejarah resmi. Atau korban dari kekerasan penguasa yang beberapa kali terjadi di negara kita, sengaja dihapuskan bahkan diputarbalikkan faktanya dalam catatan sejarah.
Di sini, film ada untuk memberi ruang bersuara bagi mereka yang sengaja dikubur oleh penguasa. Mulai dari rakyat yang berjuang untuk tanahnya, maupun korban yang dirampas haknya. Memorialisasi kolektif harus selalu dirawat untuk mengenang peristiwa yang telah terjadi namun hendak dihapuskan oleh penguasa. Memorialisasi kolektif juga berperan sebagai guru yang mengajarkan bahwa peristiwa-peristiwa kelam masa lalu, hendaknya jangan sampai terulang.
Cara Mudah untuk Menyampaikan Pesan
Film adalah medium sederhana yang dapat membawakan pesan raksasa. Dengan komposisi gambar dan suara, ia mampu menghadirkan representasi realitas seolah merasakan pengalaman langsung. Ia dapat dipahami oleh hampir semua kalangan. Berbeda dengan esai ilmiah yang kerap membahas isu dengan bahasa rumit dan ndakik-ndakik. Atau puisi serta karya seni lain yang terkadang terlalu simbolik dan pesannya tidak mudah ditangkap secara luas.
Meski awalnya film dibuat sebagai sarana hiburan, namun tak dapat disangkal, film selalu membawa pesan tertentu di dalamnya. Saya masih ingat, setelah serangan Israel biadab ke Palestina di tahun 2023, beberapa komunitas swadaya Masisir melakukan pemutaran film Farhah. Film tersebut ditayangkan, ditonton bersama, didiskusikan, lalu direfleksikan.
Penayangan Farhah terbukti memperkuat memorialisasi kolektif Masisir terhadap isu Palestina. Tak hanya itu, hadirin juga menggalang donasi sederhana untuk dikirimkan ke saudara kita di Palestina; satu bentuk solidaritas kecil kepada masyarakat yang tanah airnya direbutpaksa oleh kebiadaban imperialisme.
Alat Propaganda
Dinamika perfilman Indonesia sempat mengalami masa kelam: Turang diasingkan sedemikian rupa, film-film yang tak sevisi diboikot dan dilarang tayang. Ironisnya, penguasa politik yang sama justru membuat filmnya sendiri. Tentu yang dimaksud di sini adalah film berdurasi 4 jam 21 menit itu. Film yang diwajibkan pemutarannya di tempat-tempat tertentu, biasanya pada malam 30 September. Dan film yang bahkan, melihatnya saja, membuat perut mual sebab banyak adegan sadis nan kejam.
Meski sang penguasa politik itu telah ditumbangkan, narasi film tersebut—saya enggan menyebut namanya—telah menyetir psikologi dan memori kolektif rakyat Indonesia. Propaganda film tersebut bisa dikatakan cukup sukses, meski fakta sejarah sepenuhnya bertolak belakang. Tentu saja ini menegaskan bahwa film bukan sekedar tontonan layar kaca biasa. Ia berisi pesan spesifik yang ingin ditularkan kepada penontonnya.
Dalam perkembangannya yang lebih modern, sineas Indonesia banyak menciptakan film dengan genre yang lebih beragam. Tentu tidak semuanya mengangkat isu-isu sosial seperti Turang dan Farhah, tapi banyak yang menggunakan film sebagai medium propaganda untuk beragam isu yang lebih luas: politik, lingkungan, hingga perempuan.
“Ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara,” begitu kata Seno Gumira Ajidarma. Jurnalis-jurnalis yang bertugas menyampaikan berita secara langsung disertai tinjauan kritis, hari ini, rupanya banyak yang dibungkam, dikirimi kepala babi, bahkan dibunuh. Di sini, apabila fakta yang terjadi terus-menerus dipalsukan dan disembunyikan, maka lama-lama akan dianggap sebagai sebuah kebenaran.
Film sebagai karya sastra, tampaknya dapat menjadi alternatif menyampaikan fakta yang disembunyikan atau diputarbalikkan pihak tertentu. Bagi saya, film memiliki kedalaman makna dan emosi tersendiri, bahkan ketika hal itu tidak terucapkan dalam adegan.
Film Tidak Pernah Netral
Sedikit uraian di atas menunjukkan bahwa film bukanlah karya yang “bebas nilai.” Memang, film adalah medium netral. Ia bisa menjadi peluru, di lain waktu menjadi tameng. Ia sangat memadai untuk propaganda positif, seperti yang bisa kita saksikan di Farhah maupun Turang. Tapi juga dapat menjadi provokasi negatif, seperti film yang biasa diputar pada malam 30 September itu.
Kita bisa menelaah, misalnya, betapa berbedanya pesan yang dibawakan antara film Autobiography (2022) dan film Sayap-Sayap Patah (2022). Kita juga bisa menyaksikan beberapa dokumenter garapan Joshua Oppenheimer, seperti film Senyap (2014) dan film Jagal (2012) yang menjadi produk oposisi untuk film yang biasa diputar pada malam 30 September itu.
Lewat film, kita diajak mengingat, merenung, dan—jika perlu—melawan.
Tinggalkan komentar